Description
Poskolonial: Hibriditas (Teori dan Praktik)
Hibriditas merupakan salah satu bagian dalam kajian poskolonial sebagai dampak dari sejarah kolonialisasi. Hibriditas tersebut tidak sekadar terjadi pada masa kolonialisasi, tetapi juga terjadi setelah kolonialisasi tersebut berlangsung. Penyebabnya adalah munculnya paradigma masyarakat pribumi terhadap ideologi dan kebudayaan yang dimiliki barat (Belanda). Indonesia sebagai negara bekas jajahan juga merasakan hal demikian. Hal itu terlihat dalam berbagai karya sastra yang lahir dari tangan sastrawan. Huddart (2006) menjelaskan bahwa hibriditas merupakan salah satu kajian dalam ranah sastra yang dikembangkan oleh Homi K. Bhabha. Hibriditas tersebut terjadi karena berawal dari munculnya persinggungan budaya di tengah masyarakat pribumi dengan penjajah (Belanda).
Poskolonial dan hibriditas lahir sebagai ideologi baru yang dianut masyarakat pribumi. Budaya baru tersebut tidak terlepas dari identitas dan ciri khas dari negara penjajah (Belanda). Pribumi selalu berpandangan bahwa budaya penjajah memiliki tatanan nilai yang lebih tinggi. Hal itu terlihat dalam tokoh novel Iksaka Banu yaitu Pangeran dari Timur dan Sang Raja. Budaya pribumi (Indonesia) dalam konteks dua novel tersebut, dianggap tidak memiliki nilai. Bahkan para tokoh pribumi juga dianggap mampu menimbulkan kekacauan dan ancaman bagi sistem pemerintahan yang diterapkan kolonial Belan. Maka untuk meminimalisir hal tersebut, pribumi tidak jarang menganut sistem hidup Belanda untuk menyelamatkan diri sekaligus menunjukkan kualitas dan kedudukannya di tengah pemerintahan Belanda maupun pribumi lainnya.
Sebagai informasi tambahan kunjungi juga rumah kami di https://selatmedia.com/wp-admin/post-new.php?post_type=product https://play.google.com/books/publish/a/16873735639190879701#home











Reviews
There are no reviews yet.