Description
Setelah Kematian Tuhan dan Keterlemparan Kedua
Apa yang terjadi setelah kematian Tuhan?
Pertanyaan ini berkelindan sejak seruan “Tuhan telah mati”, dari filsuf Jerman Friedrich Nietzsche yang pertama kali muncul dalam aforisme The Gay Science (1882), lantas menjadi begitu populer lewat Thus Spoke Zarathustra yang ditulisnya tahun 1883–1885.
Hampir dua dekade sejak seruan itu, rasionalitas modern menemui tantangan yang serius. Tatkala positivisme tuntas membunuh Tuhan, sekularisasi dan keruntuhan kepercayaan agama telah menempatkan sains pada menara gading ukuran kebenaran, diam-diam subjektivisme dalam bentuk lain dan paling ekstrem, telah muncul ke permukaan. Dunia seperti kembali terpelanting dalam ketidakpastian.
Jika Tuhan telah mati dan algoritma mengambil posisinya, maka kita perlu mencari cara baru untuk tetap ada; menjadi manusia yang mampu berpikir, menimbang, dan membangun dunia bersama dalam keterlemparan yang mengerikan ini.
Sebagai informasi tambahan kunjungi juga rumah kami di https://selatmedia.com/wp-admin/post-new.php?post_type=product https://play.google.com/books/publish/a/16873735639190879701#home











Reviews
There are no reviews yet.