Nusantara, Dinasti Ming, dan Catatan Sejarah
Pada 24 Mei 2025 lalu, Indonesia merayakan 75 tahun terjalinnya hubungan diplomatik dengan Tiongkok. Dikutip dari laman Kementrian Koordinator RI, Tiongkok menjadi investor terbesar ketiga di Indonesia, setelah Singapura dan Hongkong. Selain itu, hubungan perdagangan antara Indonesia dengan Tiongkok tetap kuat dengan ekspor yang mencapai USD62,43 miliar dari Indonesia ke Tiongkok.
Jika ditilik dari sejarahnya, hubungan Indonesia dengan Tiongkok sudah berlangsung sejak lama. Setidaknya, dari jurnal dan catatan penjelajah Tiongkok, interaksi antara Tiongkok dengan Indonesia sudah terekam sejak abad keempat. Khususnya dalam hal historiografi Indonesia, salah satu tokoh yang mencatat eksistensi Indonesia sejak awal adaah Fa Hien, pendeta atau biksu dari Tiongkok.
Banyak perantau Tionghoa yang menetap di Indonesia, khususnya Jawa. Para perantau Tionghoa ini didominasi oleh laki-laki, sehingga mereka kemudian menikah dengan wanita pribumi. Para perantau Tionghoa juga mendapat perlakuan istimewa dari kerajaan yang berkuasa saat itu, yaitu Majapahit. Salah satu perlakuan istimewanya ialah pemberian kedudukan setara pejabat.
Pemberian perlakuan istimewa ini dikarenakan orang-orang Tionghoa berperan besar dalam perkembangan perekonomian. Orang-orang Tiongkok tersebut mengembangkan kota pelabuhan penting di Pantai Utara. Pada akhirnya, hal ini mengantarkan Kerajaan Majapahit pada perdagangan internasional, juga menjadikan Majapahit sebagai pasar komoditif berkualitas dari India dan Tiongkok.
Di masa VOC dan penjajahan Belanda, etnis Tionghoa terpojokkan posisinya dikarenakan pembatasan mobilitas juga aturan imigrasi yang diperketat. Puncaknya adalah pada tahun 1965-an, kala PKI tengah mendominasi. Susetyo (2002) menyebutkan bahwa pemerintah menganggap orang Tionghoa di Indonesia adalah agen pendukung pemberontakan PKI pada tahun 1965 tersebut. Sebutan Cina pun diberikan Orde Baru kepada orang Tionghoa, sebagai “hukuman” karena dugaan tersebut. Soeharto bahkan menginstruksikan etnis Tionghoa untuk merayakan pesta agama dan istiadat secara tidak mencolok di depan umum, melainkan di dalam lingkungan keluarga saja (Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967).
Namun, pada tahun 2000, Gus Dur mencabut Inpres tersebut dan setelahnya etnis Tionghoa mulai merayakan Imlek secara terbuka di Indonesia. Pada tahun 2002 pun, Megawati juga menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional yang mulai berlaku pada tahun 2003. Sampai sekarang, interaksi bangsa Indonesia dengan bangsa Tiongkok semakin erat, ditandai dengan banyaknya keturunan Tionghoa di Indonesia, juga hubungan diplomatik antarnegara.
Melalui buku Jejak Nusantara dalam Catatan Dinasti Ming: Perdagangan, Diplomasi, dan Budaya, kita dapat menelusuri sejarah kerajaan kuno di Indonesia dengan sudut pandang baru, yakni sudut pandang bangsa Tiongkok. Delapan penulis dalam buku ini menerjemahkan enam buku klasik yang memuat dokumen terperinci mengenai sejarah berharga pertukaran Tiongkok dengan negara asing, salah satunya Indonesia. Salah satu penulis dari buku klasik yang diterjemahkan di dalam buku ini adalah Ma Huan, yaitu orang yang menemani Cheng Ho—laksamana terkenal pada masa Dinasti Ming—dalam tiga ekspekdisi ke Lautan Barat.
Dikarenakan keenam buku ditulis dalam bahasa Mandarin klasik, keenam penulis menerjemahkannya ke dalam bahasa Mandarin modern, lalu menerjemahkannya ke bahasa Indonesia. Oleh karena itu, pembaca tak hanya bisa membaca terjemahan bahasa Indonesia yang diberikan penulis, melainkan juga teks dalam bahasa Mandarin klasik juga modern dalam buku ini.
Penulis memberikan narasi terhadap 20 kerajaan yang ada di wilayah Nusantara, di antaranya ialah Kerajaan Jawa, Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Sumatera, Kerajaan Lamuri, Kerajaan Alu, Kerajaan Muka, Kerajaan Kalimantan, Kerajaan Melaka, Kerajaan Gelam, Kerajaan Dan Yang, Kerajaan Ma Ye Weng, dan Kerajaan Long Xian Yu. Pada masing-masing kerajaan, terdapat narasi mengenai letak geografi kerajaan, barang khas dari kerajaan tersebut, persembahan upeti kepada Kaisar Tiongkok, budaya masyarakat kerajaan, juga cerita rakyat terkenal di kerajaan tersebut.
Melalui gaya bahasa ringan, pembaca diajak berwisata masa lalu ke kerajaan kuno di Indonesia, dengan sudut pandang yang baru. Pembaca bisa memiliki bagaimana gambaran Raja Kerajaan Jawa ketika membaca buku ini, sangat berbeda ketika mempelajari kerajaan kuno melalui materi di sekolah.

Jejak Nusantara dalam Catatan Dinasti Ming: Perdagangan, Diplomasi, dan Budaya


