Baduy: Menerjang Derasnya Arus Globalisasi
Globalisasi dalam era modern ini bukanlah menjadi suatu hal yang baru lagi. Friedman dalam artikel Fahum Umsu mengenai globalisasi, menjelaskan bahwa globalisasi adalah penyatuan pasar, negara, dan teknologi dunia yang memungkinkan kita untuk menjangkau lebih luas dan lebih dalam daripada sebelumnya. Merebaknya tontonan drama atau film dari negara lain, contohnya Korea Selatan dan Cina, adalah salah satu bukti dari globalisasi.
Larasati dalam artikel Globalisasi Budaya dan Identitas: Pengaruh dan Eksistensi Hallyu (KoreanWave) versus Westernisasi di Indonesia, menyebutkan bahwa globalisasi tak hanya terjadi pada bidang ekonomi dan politik saja, tetapi juga bisa menyasar bidang lain, salah satunya budaya. Globalisasi melahirkan sebuah budaya homogen yang berusaha menyeragamkan kebudayaan di seluruh dunia menjadi sama. Hal ini akan menyebabkan kemunduran budaya lokal, bahkan skenario buruknya adalah budaya lokal menjadi punah, bahkan hilang.
Di Indonesia sendiri, budaya Korea Selatan tengah digemari oleh kebanyakan anak muda. Korean Wave, atau gelombang Korea mulai bermunculan di akhir tahun 1990-an. Konten kebudayaannya tak hanya satu, melainkan terdiri dari beberapa di antaranya ialah film, drama televisi (K-drama), musik (K-pop), juga K-fashion. Konten ini sangat diminati oleh masyarakat Indonesia. Dilansir dari laman Goodstats, Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan pernah melakukan survei di tahun 2023 dan hasilnya, Indonesia menduduki posisi pertama negara dengan ketertarikan tinggi terhadap Korea.
Fakta dari data ini dapat dilihat dari sekitar kita. Hamida, dkk., dalam artikel Fenomena Budaya Pop Korea (Korean Wave) pada Remaja di Kota Makassar dalam Perspektif Postkolonialisme Hibriditas, menyebutkan banyak perusahaan yang menggunakan branding Korea Selatan dalam memasarkan produknya. Korean strawberry, produk yang mencantumkan aksara Korea, hingga menggunakan artis Korea Selatan alih-alih artis dalam negeri.
Tak hanya terkait perusahaan dan produknya, dampak buruk globalisasi dalam hal kebudayaan juga menyerang individu masyarakat. Para remaja khususnya, yang menggemari produk-produk Korea seperti K-drama ataupun K-pop, cenderung memiliki sifat fanatisme, sehingga menumbuhkan ketertarikan untuk mempelajari budaya Korea, dibandingkan budaya Indonesia sendiri. Kustiawan, dkk., dalam artikel Dampak Korean Wave (Hallyu) Bagi Budaya Indonesia Sebagai Dampak Dari Globalisasi Media juga menyebutkan, fenomena ini akan membuat rasa cinta dan bangga dalam diri remaja akan berkurang, bahkan terinternalisasikan ke dalam kehidupan para remaja.
Oleh karenanya, di tengah derasnya arus globalisasi saat ini, masyarakat perlu memahami dan meyakini identitas nasional demi mempertahankan budaya dan keutuhan negara Indonesia. Rahmi, dkk., menyebutkan dalam artikel Krisis Identitas Nasional Pada Generasi Muda di Era Globalisasi, bahwa identitas nasional ialah kepribadian atau jati diri yang melekat pada suatu bangsa di dalamnya dan merupakan pembeda dari bangsa negara lain.
Berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di tengah krisis globalisasi hari ini, terdapat suku di Indonesia yang sangat menjaga batasan dengan teknologi dan modernitas. Suku tersebut bernama suku Baduy di Banten Selatan. Dikutip dari artikel Dinamika kebudayaan Suku Baduy dalam Menghadapi Perkembangan Global di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Provinsi Banten, Bahrudin dan Zurohman menyebutkan bahwa suku Baduy tak ingin terkontaminasi dengan budaya luar, guna menjaga tradisi yang sudah menjadi habitus dalam menjalani perannya dalam masyarakat.
Chairul Umam, dkk., mengulik lebih dalam mengenai masyarakat Baduy dalam bukunya yang berjudul Makna Aktivitas Fisik Ritual Perladangan Masyarakat Adat Baduy. Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernitas, masyarakat Baduy masih menjalankan penuh tradisi pikukuh. Pikukuh adalah aturan dan cara, bagaimana seharusnya atau bahkan wajibnya masyarakat Baduy melakukan perjalanan hidup sesuai amanat dari karuhun, atau nenek moyang. Tradisi pikukuh tak membiarkan hal-hal berbau teknologi masuk pada tatanan hidup masyarakat Baduy.
Interaksi antarmasyarakat Baduy terjalin kuat, dikarenakan banyak aktivitas fisik atau berladang (ngahuma) yang dikerjakan secara gotong royong. Chairul Umam, dkk., menyebutkan bahwa sebelum masyarakat mengerjakan ladang miliknya sendiri, mereka harus bergotong royong untuk mengerjakan huma serang. Hasil panenan dari ladang ini, akan digunakan untuk kepentingan kesejahteraan sosial, seperti perbaikan bale adat, pembangunan jembatan dan jalan, biaya pesta adat, dan sebagainya.
Dalam buku ini, Chairul Umam, dkk., tak hanya membahas mengenai bagaimana tradisi dalam masyarakat Baduy juga perbedaan Baduy Luar dan Baduy Dalam, tetapi penulis juga membahas lebih jauh terkait ritual perladangan yang dilakukan secara rutin, bahkan wajib dilakukan oleh para masyarakat adat Baduy.
Penulis mengulik lebih dalam terkait aktivitas gerak yang dilakukan masyarakat Baduy dalam kegiatannya berladang. Masyarakat Baduy tak pernah memandang apa yang dilakukan dalam rutinitasnya sebagai sebuah olahraga atau aktivitas fisik, melainkan hanya pekerjaan atau pagawean sehari-hari dari mulai anak-anak hingga orang tua. Aktivitas ini mengantarkan masyarakat Baduy pada kondisi fisik dan ketahanan tubuh yang baik.
Buku ini akan menjadi pilihan bacaan yang menarik bagi pembaca yang ingin memahami lebih jauh mengenai masyarakat Baduy, dan aktivitas yang mereka lakukan. Mengulik kehidupan tradisional masyarakat Baduy, akan menjadi suatu hal yang baru, khususnya bagi pembaca yang sudah sangat terbiasa dengan kehidupan kota yang modern dan serba canggih. Tak hanya itu, konsep aktivitas fisik yang dilakukan masyarakat Baduy, dapat dijadikan referensi oleh pembaca dalam pembelajaran pendidikan jasmani dan bentuk olahraga modern yang berasal dari aktivitas fisik budaya.

Makna Aktivitas Fisik Ritual Perladangan Masyarakat Adat Baduy


