Mengungkap Cerita di Balik Layar Festival Film

Mengungkap Cerita di Balik Layar Festival Film

Film adalah hiburan yang tak pernah ditinggalkan oleh masyarakat. KBBI mendeskripsikan film sebagai lakon atau cerita gambar hidup. Film yang pertama kali dibuat ialah berjudul Roundhay Garden Scene, yang hanya berdurasi 2,11 detik. Mengutip dari artikel RRI, film ini dinobatkan sebagai film tertua di dunia oleh Guiness Book of Records. Barulah pada tahun 1895, Louis Lumiere dan Auguste Lumiere meluncurkan film berjudul Sortie del’usine Lumira de Lyon (Karyawan Meninggalkan Pabrik Lumiere). Film ini dinobatkan sebagai film komersial pertama di dunia.

Disebutkan dalam artikel Kompas, setelah Indonesia merdeka, hadir Perusahaan Perfilman Indonesia (mengganti perusahaan Pasific Corporation milik Belanda), bersamaand dengan Persatuan Artis Film Indonesia. Namun, pada periode ini, tiadanya regulasi mengakibatkan film asing membanjiri Indonesia. Akhirnya, industri perfilman Indonesia melahirkan film yang benar-benar disutradarai orang Indonesia, di perusahaan milik sendiri, yang berjudul Darah dan Doa (1950) karya Usmar Ismail.

Pasca terjadinya peristiwa 30 September 1965, industri perfilman Indonesia mengalami kemunduran. Azahra menyebutkan, hal ini terjadi dikarenakan organisasi yang membawahi Lembaga Perfilman Indonesia, yakni Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dianggap berhubungan dengan Indonesia. Lekra berusaha untuk menghapus dengan melarang penayangan film hollywood di Indonesia. Hal ini membuat turunnya angka bioskop di Indonesia, dari kisaran 700 bioskop, hanya menjadi 300 bioskop yang tersedia.

Perfilman Indonesia bangkit kembali pada tahun 1970—1980, ditandai dengan dihasilkannya karya film hingga berjumlah kurang lebih 100 judul tiap tahunnya. Salah satu film yang populer hingga saat ini dari periode ini ialah Si Doel Anak Betawi (1972) yang distutradarai oleh Sjumandjaja. Promosi film Indonesia juga mencapai luar negeri dengan artikel dalam koran terbitan Belanda mengenai film Dimadu (1973) dan Salah Asuhan (1972). Kedua film ini juga ditayangkan di Indonesia.

Di era kemajuan teknologi seperti sekarang, film tak hanya bisa dinikmati di bioskop, tetapi juga di smartphone. Banyak aplikasi yang menyediakan streaming film berbayar, salah satunya yang populer digunakan ialah Netflix. Tercatat sampai 2024, pengguna Netflix sudah mencapai angka 301,6 juta di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Namun, sampai sekarang bioskop juga masih diminati oleh masyarakat. Direktur Utama Cinema XII, Suryo Suherman dalam artikel Tempo, menyatakan bahwa jumlah penonton sepanjang April 2025 mencapai lebih dari 14 juta.

Mainake (2019) memandang film adalah karya seni sastra yang divisualisasikan menjadi lebih detail oleh para bintang film. Klarel juga mendefinisikan bahwa film adalah salah satu dari bentuk karya sastra pada abad ke-21 ini. Sebagai sebuah karya sastra, film juga merupakan karya yang bersifat imajinatif, rekaan dari ungkapan ekspresi penulisnya, seperti layaknya bentuk karya sastra lainnya.

Namun, pada era mutakhir, film tak hanya menjadi hiburan semata, juga menjadi bahan refleksi kita dalam melihat dan mempertanyakan aspek kehidupan. Ramadhiasnyah (2024) menyebutkan bahwa film memiliki kekuatan yaitu media audio dan visual, sehingga penonton dapat melihat, mendengar, dan merasakan dari banyak lanskap terkait isu sosial dan realitas masyarakat dalam film tersebut.

Sebagai upaya untuk terus memberi pengaruh kepada masyarakat, diadakan sebuah festival film. Acara ini diselenggarakan untuk menampilkan berbagai film dengan berbagai genre dan dari berbagai negara. Dikutip dari laman Grid Kids, salah satu tujuan festival film adalah untuk menghargai, mempromosikan, dan merayakan seni perfilman, juga memberikan panggung kepada pembuat film untuk mempromosikan filmnya kepada audiens yang lebih luas.

Melalui buku yang berjudul Festival Film: Perayaan Seni, Pendidikan, Budaya Lokal, dan Ekonomi Kerakyatan, kita dapat memahami lebih jauh mengenai festival film. Buku ini membahas secara lengkap sebuah festival film, dan bagaimana dampak suatu festival terhadap masyarakat di sekitarnya. Ditulis oleh Teguh Trianton dan Arif Hidayat, buku ini mengulik lebih jauh mengenai Festival Film Purbalingga (FFP).  FFP sendiri, hingga tahun 2023, telah dilaksanakan sebanyak 17 kali, dalam rentang 17 tahun.

Buku ini memperlihatkan, bahwa dampak dari sebuah festival film tak hanya berpusat pada pembuat film, industri film, juga penonton, tetapi juga masyarakat di sekitarnya, bahkan ada pula peran pelajar dalam terselanggaranya FFP. Narasumber dari film ini menyasar semua kalangan, mulai dari penyelenggara festival, kelompok pemuda desa, kepala desa, pedagang, pelaku UMKM, kepala sekolah, pembina, pelatih, alumni, siswa, bahkan akademisi.

FFP sering diidentikkan dengan festival film pelajar, dikarenakan dalam festival ini, para pelajar-sineas muda, diberikan panggung untuk menunjukkan bakat, minat, serta kemampuannya. Oleh karenanya, dalam buku ini juga dideskripsikan bagaimana peran pelajar juga sekolah dalam pelaksanaan FFP. Selama 17 tahun pelaksanannya pun, festival ini telah berhasil melahirkan puluhan sineas dan ratusan film yang berkualitas.

Detail yang dipaparkan dalam buku ini akan membuat pembaca memahami lebih jauh terkait festival film, hingga dampak yang dimilikinya. Dikarenakan merujuk pada suatu festival film yang eksistensinya sudah lama diadakan, hal ini akan membuat pembaca memiliki gambaran lain, bahkan sumber sekunder untuk mengulik lebih dalam saat membaca buku ini.

Festival Film: Perayaan Seni, Pendidikan, Budaya Lokal, dan Ekonomi Kerakyatan

BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *