Membalut Horor dalam Budaya Jawa

Membalut Horor dalam Budaya Jawa

Horor adalah salah satu topik yang sangat digemari oleh orang Indonesia. Dikutip dari laman Film Indonesia, dari 15 film dengan penonton terbanyak, sebanyak 40% atau 6 film di antaranya ialah film dengan genre horor. Film dengan genre horor yang menempati peringkat teratas dengan jumlah penonton sebanyak 10 juta, berjudul KKN di Desa Penari. Film yang diproduseri Manoj Punjabi ini diadaptasi dari sebuah utas di Twitter (sekarang X) oleh SimpleMan.

Sirojul Khafid dalam salah satu artikel di Harian Jogja, menulis bahwa sepanjang 2024, terdapat 68 film dengan genre horor yang tayang di bioskop Indonesia. seluruh film tersebut berhasil menarik penonton sebanyak 57 juta (per 29 Desember 2024). Ini membuktikan bahwa konten-konten horor, sangat dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Bahkan, tak hanya film saja. Konten youtuber yang mengangkat cerita misteri dan horor, sedang sangat diminati, contohnya Jurnalrisa, Sara Wijayanto, Nessie Judge, dan Nadia Omara.

Eiben Heizar dalam artikel Mengapa Banyak Orang Senang Nonton Film Horor? yang diunggah Tempo, menyatakan bahwa horor disukai orang-orang karena menyukai sensasi rangsangan yang ditimbulkan. Saat mengonsumsi konten horor atau mistis, terdapat perubahan biokimia dalam tubuh. Ketakutan yang dirasakan, dapat memicu pelepasan adrenalin, yang menghasilkan sensasi peningkatan energi dan perasaan.

Eiben juga mengutip dari Very Well Mind, yang menyebut fenomena ini sebagai teori transfer eksitasi Dolf Zillmann. Teori ini menyebut bahwa rasa takut yang dihasilkan saat mengonsumsi konten horor, dapat merangsang peningkatan gairah fisiologis. Lalu saat tingkat ketakutan mencapai puncaknya, maka gairah tersebut meningkatkan perasaan lega dan puas dalam diri seseorang, sehingga menghasilkan perasaan euforia.

Berbeda dengan Eiben yang memandang dari sisi psikologi, Abesagara dalam unggahan blognya, mencoba membahas fenomena ini dalam kacamata budaya dan sejarah, khususnya pada masyarakat Indonesia ini. Dulunya, masyarakat Indonesia dan apapun sukunya, adalah penganut animisme dan dinamisme. Animisme, suatu kepercayaan pada roj nenek moyang, dan mempercayai kekuatan gaib. Sementara dinamisme, adalah kepercayaan pada benda-benda mati yang diyakini punya kekuatan gaib, seperti pohon besar, patung, dan sebagainya.

Abesagara juga menuliskan, meski saat ini paham tersebut telah berkembang menjadi paham monotheistik, atau paham yang percaya pada satu Tuhan saja, masyarakat Indonesia masih sulit meninggalkan kebudayaan dan kebiasaan terdahulu. Animisme dan dinamisme ini akhirnya menciptakan sebuah kebudayaan dalam diri masyarakat Indonesia. Apapun agamanya, sebagian masyarakat masih percaya jika pohon beringin memiliki penunggu. Hanya saja sedikit bergeser, jika dahulunya penunggu itu dipuja-puja, maka sekarang malah ditakuti.

Tak hanya menyasar pada film, genre horor atau thriller juga digemari pada konten-konten novel Indonesia. Melansir survei yang dilakukan oleh Picodi pada tahun 2019 lalu, genre thriller menempati posisi tertinggi dalam genre novel fiksi yang diminati masyarakat Indonesia. Hal ini tentunya menunjukkan bahwa orang Indonesia memang menikmati untuk mengonsumsi konten horor dalam berbagai bentuk.

Membicarakan novel horor atau thriller, pada Mei 2025 lalu, Yuliarti menerbitkan novel fiksi horornya yang berjudul Roh Pengganti. Novel ini menceritakan mengenai Fikri Reksonegoro di kampus tua Fakultas Sastra. Ruang kuliah 304, adalah awal dari semua kejadian mistis yang dialami Fikri. Ketika pintu ruang 304 terbuka, Fikri tak menyadari bahwa ia tengah menyebrang ke dunia lain, menguak sejarah kampus yang terlupakan, ritual dan tumbal, hingga mantra-mantra tak terkutuk.

Dalam perjalanan mistisnya, Fikri bertemu Saraswati, sosok misterius yang tak sepenuhnya manusia. Saraswati mampu membedakan antara pelindung dan pengganti, dan ketika keduanya mulai menjalin rasa, Fikri harus memilih, antara menyelamatkan Saraswati, atau membebaskan roh-roh yang terperangkap dalam cermin dan aksara. Selama perjalanannya, Fikri menganggap dirinya ialah sang pewaris pelindung, dengan Saraswati sebagai penggantinya. Namun, itu semua hanyalah anggapan Fikri.

Semua kejadian mistis yang dialami Fikri, bermula dari ketika ia melihat Dinda, seorang mahasiswa baru yang menangis di lantai tiga, kala Fikri berjalan melintasi gedung D untuk menghindari razia. Ia pura-pura tak melihat dan tak menegur, bahkan ketika akhirnya tubuh Dinda jatuh menghantam tanah. Fikri hanya diam, tak lari juga tak menolong, bahkan memberitahu siapa pun. Hingga akhirnya, kematian Dinda hanya menjadi catatan di papan pengumuman fakultas.

Yang melihat tanpa menolong, harus menggantikan tempat kami.

Novel ini menarik, apalagi dari segi alurnya yang maju-mundur. Novel diawali dengan mimpi buruk yang dialami Fikri, hingga kejadian mistisnya di gedung dengan ruang 304 di dalamnya. Lalu beranjak ke dalam novel semakin dalam, pembaca akan disuguhkan adegan-adegan yang menjawab pada apa yang terjadi di bagian awal-awal novel. Bagian ini, tentunya sangat menarik, karena Yuliarti sebagai penulis menyajikan misteri-misteri yang menarik keingintahuan pembaca dan menahan pembaca untuk terus membaca kisah mistis Fikri dalam novel Roh Pengganti ini.

Membaca novel karya Yuliarti ini, pembaca tak hanya disuguhi adegan horor yang memacu adrenalitas, tetapi juga melihat bagaimana pengorbanan yang dilakukan Fikri dalam hal cintanya, juga mendengar keheningan yang ada di antara kita, yang sering kali kita abaikan. Yuliarti mengusung unsur Jawa yang begitu kuat dalam novel ini, dilihat dari dialog sang roh nenek moyang, sampai pada aksara Jawa yang digunakan sebagai simbol yang muncul di tubuh Fikri.

Aksara Jawa yang digunakan penulis untuk menguatkan sisi horor dalam novel ini cukup menarik. Tak hanya menggunakan bahasa Jawa, penulis juga menuliskan aksara Jawanya, disertai dengan artinya, di samping atau di bawahnya. Hal ini dapat dilihat bahwa unsur Jawa yang digunakan penulis dalam novel, juga merupakan salah satu upaya melestarikan budaya dalam karya sastra, apalagi memadukannya dengan tema horor yang sangat digandrungi masyarakat Indonesia.

Baca Selengkapnya

PRODUK SERUPA

BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *