Mimikri: Abrasi Identitas Bangsa Pascakolonial
Generasi muda hari ini mulai kehilangan rasa nasionalismenya, meskipun tidak lagi dalam cengkraman kolonialisme. – Munaris., dkk, dalam Poskolonial: Mimikri (Teori dan Praktik)
Kalimat tersebut ditulis Munaris., dkk, dalam buku berjudul Poskolonial: Mimikri (Teori dan Praktik). Sejarah menyebut Indonesia telah dijajah oleh enam negara, hingga akhirnya merdeka pada tahun 1945. Melansir dari artikel Media Indonesia berjudul Selain Belanda dan Jepang, Indonesia Pernah Dijajah Negara Ini, keenam negara yang pernah menjajah Indonesia tersebut ialah Portugis, Spanyol, Belanda, Prancis, Inggris, dan diakhiri oleh Jepang.
Namun, benarkah penjajahan di Indonesia berakhir setelah Indonesia menyatakan merdeka pada 17 Agustus 1945 silam? Di Indonesia, bahkan di dunia, tengah merebak fenomena hallyu wave atau korean wave. Korean wave ialah fenomena tersebarnya budaya pop Korea secara global. Budaya Korea menjadi sangat diminati oleh masyarakat Indonesia, terbukti dengan laporan yang dirilis oleh Kementrian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan.
Nabilah Rifqah Awaluddin dalam artikel Fenomena Korean Wave, Akulturasi atau Kolonialisme?, menyebut bahwa korean wave membawa dampak pertukaran budaya. Namun, nampaknya akulturasi ini bergeser menjadi hal yang negatif dan hampir melewati batas. Nabilah menyebutkan istilah kebaya ala Korea. Penyebutan ini tentunya akan memberikan gambaran aneh, karena kebaya adalah pakaian adat kebanggaan Indonesia, tetapi disandingkan dengan Korea?
Tak hanya pakaian, hallyu wave membawa efek besar terhadap standar kecantikan saat ini di Indonesia. Banyak dari merek produk kecantikan atau perawatan kulit lokal Indonesia, yang menggaet artis Korea Selatan untuk menjadi duta merek. Tika Adriana dalam artikel Trend Kecantikan Bergeser dari Barat ke Korea: Lalu Dimana Posisi Perempuan?, menyebut bahwa standar kecantikan ini hanya bergeser, yang semula dari Barat menjadi Korea Selatan, dan masih menggunakan narasi “keputihan”.
Mimikri adalah proses meniru sesuatu yang dilakukan oleh kelompok yang dijajah atau kelompok bawah (subaltern) terhadap kelompok dominan (penjajah). – Munaris., dkk, dalam Poskolonial: Mimikri (Teori dan Praktik)
Berdasarkan kutipan dalam buku tersebut, maka bisa jadi apa yang terjadi sekarang adalah bentuk penjajahan modern yang sedang terjadi di Indonesia. Istilah mimikri adalah salah satu konsep dari teori poskolonial oleh Homi K. Bhabha. Munaris., dkk, menulis bahwa mimikri terjadi ketika muncul asumsi dasar bahwa budaya penjajah, lebih baik dari budaya bangsa jajahan.
Konsep mimikri juga muncul pada masyarakat Indonesia saat dijajah oleh keenam negara di masa lalu, salah satunya saat masa penjajahan Belanda. Munaris., dkk, menggali konsep mimikri yang ada dalam karya sastra Indonesia dengan latar waktu penjajahan Belanda. Karya sastra dilahirkan dan dihadirkan oleh pengarang, yang merupakan bagian dari masyarakat sosial.
Melalui karya sastra, pengarang mencoba merepresentasikan kehidupan sosial yang terjadi dalam kehidupans sehari-hari. Proses pengungkapan realitas sosial dilakukan para pengarang melalui berbagai aspek atau alternatif, yaitu latar, tokoh, alur, hingga tema. Tak hanya itu, karya sastra juga berfungsi sebagai dokumen yang merekam berbagai realita sosial dalam masyarakat.
Buku Poskolonial: Mimikri (Teori dan Praktik) mengulik dua karya sastra milik Iksaka Banu, yang masing-masing berjudul Pangeran dari Timur dan Sang Raja. Perilaku mimikri yang ditemukan penulis dalam novel Pangeran dari Timur salah satunya ialah budaya berdansa. Tokoh Syafei yang merupakan pemuda pribumi, tanpa canggung mengajak Ratna Juwita, yang juga pribumi, untuk berdansa. Padahal, berdansa adalah kegiatan yang sangat jarang dilakukan oleh kaum pribumi pada masa tersebut.
Sementara salah satu perilaku mimikri yang ditemukan dalam novel Sang Raja ialah pada aspek cara berpakaian. Nitisemito, seorang pengusaha terkemuka, meniru cara berpakaian orang-orang Belanda, yaitu mengenakan jas. Hal ini dilakukan Nutisemito karena dalam berbagai kepentingan, ia akan berhubungan dengan banyak orang Belanda. Oleh karenanya, untuk “menyetarakan” kedudukannya, Nitisemito melakukan mimikri dalam pakaian yang dikenakannya.
Dalam buku Poskolonial: Mimikri (Teori dan Praktik) ini, Munaris., dkk, juga membahas mengenai nasionalisme. Melalui perspektif poskolonial, nasionalisme memiliki dasar untuk menyatukan kesadaran bersama mengenai pentingnya memberikan loyalitas dalam berbagai kelompok yang berbeda, baik melalui etnik, bahasa, agama, suku, warna kulit, dan sebagainya. Nasionalisme juga mengarah kepada asas kebersamaan setiap anggota dalam sebuah komunitas, dan terefleksi dalam visi dan ideologi. Kesamaan visi dan ideologi akan mempersatukan bangsa Indonesia untuk melawan pihak penjajah, salah satunya melawan konsep mimikri yang akan melunturkan identitas diri bangsa.
Buku ini akan menjadi pilihan yang tepat bagi pembaca yang ingin memperluas wawasan terkait budaya yang terbentuk pada masyarakat saat ini, yang berkaitan dengan kolonialisme yang telah terjadi pada ratusan tahun lalu. Temuan konsep mimikri pada karya sastra yang diberikan penulis juga akan membantu pembaca untuk memahami lebih jauh terkait konsep mimikri dalam teori poskolonial oleh Homi K. Bhabha.

Baca Selengkapnya


