Sastra Menggugat Penulisan Ulang Sejarah

Sastra Menggugat Penulisan Ulang Sejarah

Kurang lebih sebulan lagi, pemerintah Indonesia akan merilis proyek penulisan ulang sejarah Indonesia. Penulisan ulang sejarah akan menjadi “kado” untuk ulang tahun Indonesia ke-80 pada 17 Agustus nanti. Proyek ini diumumkan oleh Fadli Zon selaku Menteri Kebudayaan, dalam rapat kerja Kementrian Kebudayaan dengan Komisi X DPR pada 26 Mei 2025 lalu. Susanto Zuhdi, Guru Besar FIB UI serta penanggung jawab utama proyek, menyebutkan bahwa proses penulisan telah dimulai sejak awal tahun 2025 ini.

“Ada pemerkosaan massal? Betul enggak, ada pemerkosaan massal? Kata siapa itu? Itu enggak pernah ada proof-nya. Itu adalah cerita. Kalau ada tunjukkan. Ada enggak di dalam buku sejarah itu? Enggak pernah ada.” — Fadli Zon, dalam program Real Talk with Uni Lubis.

Pada pertengahan Juni lalu, Fadli Zon menggemparkan publik lagi dengan kutipan di atas. Hal ini tentunya memicu amarah publik dan kontroversi akan penulisan ulang sejarah Indonesia secara resmi semakin panas. Akun X @ssashyya pada 13 Juni lalu, mengecam kalimat Fadli Zon dalam salah satu cuitannya.

Ia menuliskan, “PEMERKOSAAN MASSAL 1998 itu adalah FAKTA, bukan RUMOR. Ada laporannya, dokumennya bisa dibaca dan diakses SEMUA ORANG. Kita JANGAN DIAM perihal ini, menunjukkan kalau Negara BISU terhadap KEJAHATAN yang sistematis, terstruktur, dan masif. (menambahkan tautan laporan dari Komnas Perempuan)”.

Menyikapi hal ini, kita bisa bermain dan ikut andil melalui dunia sastra. Hawa (dalam buku Teori Sastra)menguraikan bahwa salah satu fungsi sastra adalah alat untuk menulis dan melestarikan budaya serta sejarah. Hal ini dikarenakan sastra bertindak sebagai cermin yang memantulkan realitas zaman. Para penulis atau bahkan sastrawan, sering kali menangkap nuansa zaman atau sejarah dalam karya sastranya.

Oleh karenanya, melalui karya sastra, kita dapat berkontribusi untuk mencatat sejarah. Sulastri dalam antologi cerpennya yang berjudul Benua Janji Pulang, juga berupaya mencatat sejarah. Antologi ini berisi 32 cerpen yang dibuat oleh guru dan siswa SMA Negeri 1 Sentolo. Antologi ini bertemakan perjuangan, yang mengisahkan sejarah bangsa Indonesia mulai dari masa kerajaan nusantara, kolonialisme, hingga pasca-kemerdekaan. Tema perjuangan dalam antologi ini tak hanya berkutat pada perjuangan dalam rangka melawan, tetapi juga perjuangan korban bencana alam, seperti dalam cerpen “Amarah Samudera”.

Antologi ini juga tak melulu menggunakan sudut pandang rakyat Indonesia, atau pihak Indonesia, hanya karena mengangkat tema perjuangan. Salah satu cerpen dengan judul “Pembelot di Distrik 5”, mengisahkan lima prajurit India, yang biasa disebut The British Indian Army. Identitas mereka sebagai muslim, membuat mereka tak kuasa untuk melawan saudara seimannya. Bangunan masjid yang mereka lihat, akhirnya menjadi alasan kuat untuk mereka akhirnya meninggalkan pasukan dan berjuang bersama pribumi.

Salah satu cerpen lain yang menarik perhatian ialah “Benua Janji Pulang”, yang juga dijadikan sebagai judul utama dalam antologi ini. Cerpen ini mengisahkan Benua, salah satu mahasiswa Trisakti yang tertangkap aparat kala mengikuti aksi untuk menuntut reformasi dan pengunduran diri Presiden Soeharto. Benua dan Kiyya, kedua mahasiswa tersebut telah disekap selama berhari-hari oleh aparat untuk mencari jawaban dari pertanyaan: “Siapa otak pergerakan aktivis mahasiswa tempo hari”.

Penyekapan keduanya, beserta tiga mahasiswa lain, tak hanya dikurung dalam ruangan, tetapi mereka juga dipukul, ditendang, disetrum, disiram air mendidih, dan berbagai penyiksaan lainnya, demi satu jawaban dari pertanyaan tak masuk akal, otak pergerakan aktivis mahasiswa. Benua akhirnya mengorbankan diri, memberikan namanya sebagai otak pergerakan mahasiswa dalam aksi tersebut.

Penyiksaan yang dialami Benua, Kiyya, dan tiga mahasiswa lain dalam cerpen, mencerminkan realitas sejarah saat itu. Salah satu aktivis mahasiswa yang diculik pada tahun 1998 lalu, Andi Arief dalam artikel Tempo, mengungkapkan bahwa dirinya diculik selama 10 hari. Matanya ditutup dengan kain, dan dirinya disiksa selama 10 hari itu, bersama kawan mahasiswa lainnya.

Akhir dari hidup Benua yang mengorbankan namanya sebagai otak pergerakan mahasiswa, disebutkan oleh penulis dengan “pulang ke pelukan Sang Pencipta”. Hal ini tentunya bukan menjadi sebuah misteri atau ending terbuka dari cerpen ini, melainkan fakta sejarah yang diabadikan penulis. Penculikan aktivis 1998 lalu, menyisakan 13 aktivis yang sampai sekarang tak diketahui keberadaannya, seperti Benua. Sementara itu, 9 orang aktivis telah dikembalikan, seperti Kiyya yang akhirnya selamat dalam cerpen ini.

Jika negara memang berupaya menghapuskan luka-luka rakyat yang masih berdarah dan bernanah, kita harus terus melawannya. Salah satunya dengan menuliskan sejarah melalui sastra, seperti yang dilakukan Sulastri dalam antologi Benua Janji Pulang. Sebagaimana apa yang diungkapkan oleh Okky Madasari dalam artikel yang ditulis Aslamatur Rizqiyah, salah satu sastrawan Indonesia, “Karya sastra itu bukan buku sejarah, tapi karya sastra bisa menjadi narasi sejarah. Narasi sejarah itu lain dengan buku sejarah. Ia adalah imajinasi tentang realitas, tentang perjalanan sebuah bangsa.”

Kita harus melawan upaya pemerintah dalam menarasikan sejarah secara tunggal. Jika negara enggan mengakui luka masa lalu, maka kita harus terus berupaya untuk mencegah penarasian tunggal tersebut. Melalui karya sastra juga tulisan lainnya, kita bisa melestarikan ingatan, bahwa ada ketidakadilan di masa lalu yang sampai sekarang masih terus diperjuangkan. Negara harus mengakui setiap lukanya, sehingga tak ada luka serupa yang terjadi di masa depan, seperti apa yang diucapkan George Santayana,

Mereka yang tidak belajar dari sejarah, dikutuk untuk mengulanginya.

BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *