Psikologi Sosial: Membaca Pola Manusia

Psikologi Sosial: Membaca Pola Manusia

Bukan suatu hal baru lagi mendengar kata “klitih” di Yogyakarta. Jika mengikuti akun Merapi Uncover, khususnya di X (@merapi_uncover), banyak sekali update kabar mengenai warga yang diserang klitih. Seperti halnya yang terjadi pada tanggal 9 Juni 2025 lalu. Seorang warga melaporkan penangkapan pelaku klitih di Terminal Condongcatur pukul 00.58 dini hari. Korban yang disasar pada kejadian kali itu laki-laki dan perempuan.

Kata klitih, pada dasarnya sudah mengalami pergeseran makna. Dulunya, klitih hanya bermakna jalan-jalan mencari angin, atau keluyuran. Hammam Izzuddin dalam artikel Menelusuri Akar Klitih di Jogja yang diterbitkan oleh Mojok, mengutip dari Soeprapto—sosiolog kriminal UGM—bahwa pergeseran makna terasa sejak 2004 lalu. Di tahun tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta memperkuat kebijakan atas sanksi bagi pelajar yang terlibat tawuran.

Dikarenakan tak dapat melakukan tawuran, hal ini membuat remaja merasa terbatasi dan tak ada ruang untuk menonjollkan eksistensi diri, sehingga angka kejadian penyerangan di jalan naik dengan masif. Berbeda pula dari dulu, serangan yang dilakukan antar-geng sekolahan di Jogja memiliki target yang jelas, tidak seperti klitih pada hari ini, yang menyasar masyarakat sipil, tak pandang jenis kelamin, pekerjaan, dan sebagainya.

Klitih terus mendapat kritik dari masyarakat, khususnya masyarakat Yogyakarta. Penanganan yang tak tegas dan pencegahan yang setengah-setengah, dinilai membuat klitih tumbuh subur di Jogja. Beberapa masyarakat Jogja kerap kali menulis di media sosial, atau mengomentari dengan tegas, bahwa klitih harusnya diakui sebagai tindak kejahatan dan kriminalitas oleh remaja, bukan lagi kenakalan remaja.

Sementara Andreas Budi Widyanta—sosiolog UGM—berpendapat sebaliknya. Ia menyebutkan bahwa apa yang terjadi pada remaja yang melakukan klitih, adalah kesalahan sistem, seperti lingkungan pendidikan yang kompetitif, kekurangan afeksi di ranah keluarga, hingga terbatasnya ruang terbuka hijau yang bisa dipakai remaja untuk mengekspresikan diri. Ia menyebutkan bahwa jangan lagi untuk menyalahkan subjek individu, tetapi melihat lebih jauh pada sistem yang amburadul.

Menilik pada fenomena ini, kita dapat mengupas klitih lebih jauh melalui perspektif psikologi sosial. Nasution dalam bukunya yang berjudul Psikologi Sosial, membahas tuntas terkait ilmu psikologi sosial ini. Psikologi sosial ialah ilmu pengetahuan yang membahas perilaku individu dalam konteks situasi sosial, atau dalam kehidupan bermasyarakat. Nasution juga mengutip salah satu definisi dari Baron dan Byrne terkait psikologi sosial. Menurut Baron dan Byrne, psikologi sosial ialah bidang ilmu yang mencari pemahaman tentang asal mula dan penyebab terjadinya pikiran serta perilaku individu dalam berbagai situasi sosial.

Disebutkan oleh Nasution, ilmu psikologi sosial ini baru muncul kurang dari seratus tahun yang lalu. Sebelumnya, gejala perilaku manusia dalam masyarakat dipelajari oleh cabang ilmu antropologi dan sosiologi. Ilmu ini mulai berkembang pasca Perang Dunia I, lalu diikuti meluasnya komunisme, depresi, munculnya Hitler, kekacauan di antara ras, hingga Perang Dunia II yang merangsang semua cabang ilmu sosial.

Ilmu psikologi sosial memiliki dua tujuan, dibedakan menjadi secara teoritis dan praktis. Secara teoritis, ilmu ini bertujuan untuk memahami, mengendalikan, dan memprediksi tingkah laku sosial. Sementara secara praktis, psikologi sosial bertujuan untuk memecahkan masalah sosial, seperti konflik, prasangka, ketegangan sosial, kesukuan, diskriminasi, dan sebagainya.

Sebagai ilmu, objek studi dari ilmu psikologi sosial ini adalah tingkah laku yang timbul dalam konteks sosial atau lingkungan sosial. Oleh karenanya, masalah pokok yang dipelajari dalam ilmu ini ialah pengaruh sosial, atau rangsangan sosial. Psikologi sosial melihat bahwa tingkah laku individu dipengaruhi oleh pengaruh sosial atau rangsangan sosial ini. Bisa disimpulkan, bahwa psikologi sosial membatasi diri dengan mempelajari dan menyelidiki tingkah laku individu dengan hubungannya pada situasi perangsang sosial.

Ruang lingkup psikologi sosial dibagi menjadi tiga wilayah bidang studi, berdasarkan teori dan definisi psikologi sosial. Pertama, ialah studi tentang pengaruh sosial terhadap proses individu, contohnya mengenai persepsi, motivasi, proses belajar, dan atribusi atau sifat. Kedua, ialah studi tentang proses individual bersama, seperti bahasa, sikap sosial, perilaku imitasi atau meniru, dan sebagainya. Terakhir, ialah studi tentang interaksi kelompok, seperti kepemimpinan, komunikasi hubungan kekuasaan, kerja sama, persaingan, dan konflik.

Nasution dalam buku ini mencoba membedah ilmu psikologi sosial mulai dari sejarahnya, metode psikologi sosial yang berisi lima metode, motif sosial, teori dalam ilmu psikologi sosial, kepemimpinan dalam konsep sosiologi sosial, interaksi sosial, sikap sosial, prasangka, agresi, kognisi sosial, ketertarikan antarmanusia, hingga perilaku altruisme. Memandang ke dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial, tentunya manusia membutuhkan interaksi dengan manusia lain dan lingkungan sosial di sekitarnya.

Manusia juga perlu memenuhi kebutuhannya, dan dia akan berusaha melakukan sesuatu. Kebutuhan hidup tersebut dipengaruhi oleh adanya motif atau dorongan dari dalam dan luar diri manusia, baik berupa benda, maupun situasi yang ada di lingkungan sekitarnya. Motif tersebut, didefinisikan oleh Nasution sebagai sesuatu yang melingkupi semua penggerak, alasan, atau dorongan dalam diri manusia untuk berbuat atau melakukan sesuatu.

Motif sosial yang menggerakan manusia, dapat timbul karena adanya kebutuhan, dan kebutuhan timbul dari kekurangan adanya sesuatu. Hal ini akhirnya menuntut pemenuhan agar segera menciptakan keseimbangan. Situasi kekurangan ini pula-lah, yang menjadi suatu kekuatan, atau dorongan alasan yang menyebabkan seseorang bertindak. Terdapat tiga macam motif yang dipaparkan oleh buku ini, yaitu motif biogenetis, motif sosiogenetis, dan motif teogenetis.

Nasution memberikan penjelasan yang detail terhadap psikologi sosial. Mulai dari pengertian dasarnya, hingga pada munculnya perilaku altruisme dari konsep psikologi sosial. Psikologi sosial akan membantu kita—sebagai manusia—untuk melihat perilaku-perilaku manusia lain, melalui kasus-kasus yang ada di lingkungan sekitar, dengan sudut pandang yang lebih terbuka. Seperti sesederhana motif dalam setiap tindakan manusia.

Melalui sudut pandang yang lebih luas dengan dibekali wawasan, kita mulai bisa memandang sesuatu tak hanya terjadi karena suatu faktor saja. Seperti halnya klitih tadi. Klitih yang meresahkan warga karena terus memakan korban hingga menghilangkan nyawa seseorang, tentunya menjadi suatu persoalan serius. Namun, melihatnya hanya sebagai kesalahan remaja akan mempersempit pandangan kita. Seperti ucapan Andreas Budi Widyanta di atas, bahwa suatu persoalan tak hanya bisa dilihat dari individunya, tetapi sistem di baliknya, terkadang adalah akar yang paling kuat.

Psikologi Sosial

SHARE THIS :
BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *