Pilar Kesantunan dalam Pembelajaran
Para pendidik harus mengakui bahwa pembelajaran akan terganggu jika kebutuhan dasar siswa tidak terpenuhi. Kebutuhan defisiensi terpenting adalah cinta dan harga diri. Peserta didik yang merasa tidak dicintai dan tidak dihargai padahal mereka mampu, tidak akan mungkin memiliki motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan dalam kebutuhan pertumbuhan. — Sumarti, dalam buku Kesantunan Berbahasa dalam Pembelajaran
Tanggal 19 Maret 2025 lalu, akun @hida23journey di X, membagikan pengalaman buruknya semasa ia duduk di kelas 5 SD. Ia mengaku tak akan pernah bisa melupakan apa yang dilakukan gurunya terhadap dirinya saat itu, karena apa yang dilakukan gurunya sangat menyakitkan. Singkat cerita, ada salah satu guru di sekolahnya yang membuka les privat dan mewajibkan muridnya untuk ikut. Guru ini juga merupakan wali kelasnya.
Dikarenakan kendala ekonomi, Hida tak bisa mengikuti les privat tersebut, yang ternyata ketika les, guru tersebut sering kali memberi kunci jawaban untuk ulangan yang akan diadakan keesokan harinya. Suatu kali, Hida mendapat nilai 9 saat ulangan matematika yang diampu guru tersebut. Hida dipanggil untuk maju ke depan kelas, karena sang guru yakin Hida menyontek temannya, alih-alih mempercayai itu usaha Hida sendiri.
Guru tersebut mengetes Hida dengan memberi pertanyaan di depan kelas beberapa kali, yang selalu bisa dijawab Hida dengan baik. Akhirnya guru tersebut tak bisa lagi mengontrol emosinya, dan menyuruh Hida untuk mengaku bahwa dirinya menyontek, sembari ia menekan spidol ke kening Hida. Hida yang merasa tak melakukan hal tersebut menolak, dan guru tersebut juga terus menekan Hida. Guru tersebut bahkan memarahi teman Hida yang membela Hida, mengatakan bahwa memang benar Hida tak menyontek dirinya karena Hida memang pintar.
Membaca cerita Hida, tentunya membuat kita bertanya-tanya, bagaimana orang dewasa dengan profesi guru, dapat setega itu melakukan hal-hal tersebut kepada muridnya? Les privat tentunya bukanlah suatu kewajiban yang harus diikuti murid, karena itu bukan program sekolah, bahkan memungut uang dari kantong murid dan wali murid sendiri. Namun, ketika terdapat salah satu murid yang tak bisa ikut, guru lebih memilih menekan dan menyuruh sang anak mengakui apa yang tidak diperbuatnya.
Seperti kutipan yang disematkan di awal tulisan, para pendidik seharusnya menyadari, saat proses pembelajaran, murid yang tidak dihargai, akan memiliki motivasi yang rendah dalam mencapai tujuan pertumbuhan. Hida yang terus dipaksa untuk mengakui bahwa dirinya menyontek, tentunya akan merasa bahwa keberadaan dirinya tak dihargai oleh sang guru, karena bahkan ia disuruh mengaku atas apa yang tidak dilakukan, bahkan dipermalukan di depan kelas.
Buku Kesantunan Berbahasa dalam Pembelajaran yang ditulis oleh Sumarti, membahas studi mengenai strategi tindak tutur direktif guru dan respons warna afektif siswa. Sumarti menuturkan bahwa studi ini menjadi penting, karena dilakukan berdasarkan beberapa landasan, salah satunya landasan empiris di lapangan. Banyak terjadi kekerasan yang dilakukan pendidik kepada murid, baik non-fisik maupun fisik. Salah satu kasusnya tentunya pengalaman Hida yang ia bagikan di akun media sosialnya. Meski kekerasan yang dimaksud berkaitan dengan aktivitas mendidik, dapat menimbulkan luka psikis maupun fisik, bahkan menumbuhkan trauma dalam diri murid.
Buku ini membahas bagaimana strategi tindak tutur direktif guru memengaruhi respons warna afektif siswa. Sumarti menggunakan data yang diperolehnya dari kajian di lapangan dalam buku ini. Kajian ini menunjukkan bahwa pembelajaran pendidik yang saat itu mengampu Bahasa Indonesia di SMP, banyak menggunakan strategi langsung dan strategi kesantunan positif. Melalui strategi kesantunan positif, siswa merasa senang, sehingga ia akan langsung mematuhi tindakan yang dikehendaki pendidik dengan tulus dan sepenuh hati.
Beberapa respons afektif negatif siswa terhadap tindak tutur direktif guru ialah kesal, takut, dan malu. Bentuk tindak tutur direktif guru yang mendapat respons negatif ini ialah tuturan tidak langsung yang bernada menyindir, menyapa dengan kata seru, membandingkan, dan mengandung unsur cacian. Salah satu data yang menunjukkan tindak tutur direktif guru yang menunjukkan respons afektif negatif ialah, ketika sang guru menegur siswa bernama Deni.
Sang guru menegur Deni yang terlihat mengantuk dengan kalimat, “Kenapa, Deni, ngantuk? Semalam begadang, ya?” Sang guru mengucapkan kalimat ini dengan struktur interogatif, yang mengarahkan murid untuk cuci muka dan memperhatikan pelajaran karena ia merebahkan kepalanya dan menguap. Respons ini dinilai malu, karena sang murid memberikan gestur wajah yang menunduk, sedikit senyum, dan tak melihat guru juga teman-temannya.
Kajian yang dilakukan Suratmi dalam buku ini dapat membuka pandangan para pendidik, juga menjadi referensi, untuk berkomunikasi dengan lebih santun kepada muridnya. Hal ini dilakukan agar pendidik dapat membersamai murid dalam pembelajaran dengan lebih baik, tanpa memberikan rasa rendah diri, atau perasaan negatif lainnya kepada murid. Jika komunikasi pendidik kepada murid dilakukan dengan lebih baik, maka murid akan mudah diajak bekerja sama dalam pembelajaran, dan memberi kesempatan para murid untuk bertumbuh dengan lebih baik.



