Potret Wajah Lokalitas
Suatu hari, Zafar dan Makmun memutuskan diri untuk menjaring ikan di sebuah danau tua di tengah hutan. Banyak yang percaya jika danau itu dihuni raja ikan bersama rakyatnya. Hingga tak pernah ada warga yang berani mengail atau menjala di tengah danau itu. Tapi Zafar dan loq Makmun mencoba menepis kepercayaan yang mereka anggap kolot itu. — Cerpen “Sirip Ikan”, dari buku antologi cerpen Wajah, Randa Anggarista.
Rasa-rasanya, kutipan di atas sangat akrab sekali di telinga masyarakat Indonesia. Kepercayaan animisme dan dinamisme telah hadir sejak peradaban Nusantara. Pada awalnya pun, bangsa Indonesia lebih mengenal kedua kepercayaan ini, daripada agama Islam yang pada masa ini menjadi kepercayaan mayoritas masyarakat Indonesia.Wahyu dalam artikelnya Konsep Ketuhanan Animisme dan Dinamisme, menyebutkan bahwa ketika Islam datang di Indonesia, ia tak datang ke ruang vakum, karena sudah ada animisme dan dinamisme sebagai kepercayaan masyarakat.
Dinamisme ialah kepercayaan yang meyakini bahwa setiap benda memiliki kekuatan spiritif, sehingga dahulunya, masyarakat primitif menyembah batu, pohon, matahari, dan sebagainya. Sementara animisme, diuraikan oleh Wahyu sebagai kepercayaan bahwa dunia tak hanya dihuni oleh manusia, tetapi juga banyak roh bersama. Kepercayaan ini membuat masyarakat primitif dahulunya meyakini bahwa roh-roh inilah penyebab dari proses alam.
Kepercayaan ini masih sering diturunkan dalam masa modern ini. Seperti halnya ketika masyarakat meyakini bahwa pohon beringin tua yang ada di desa, dihuni oleh sesosok makhluk halus, sehingga masyarakat dihimbau untuk tidak melakukan apapun yang kiranya dapat menyinggung makhluk halus tersebut. Jika dilihat kembali dalam sudut pandang yang baru, mungkin saja tidak ada roh apapun di dalam pohon itu, tetapi mitos yang disebarkan secara turun-temurun, secara tidak langsung menjaga pohon beringin itu dari keserakahan manusia.
Randa Anggarista menangkap fenomena ini pula dalam antologi cerpennya yang berjudul Wajah. Antologi ini berisi 14 cerita pendek karyanya, yang memiliki beberapa tema cukup seragam. Namun, ada satu benang merah antarcerita yang ada dalam antalogi ini, yaitu misteri. Penulis kerap kali menggunakan open ending dalam mengakhiri cerita dalam antologi ini, yang membuat pembaca bisa menebak, juga menciptakan ending untuk cerita-cerita tersebut.
Salah satu contohnya adalah cerpen dengan judul “Misteri Pohon Gaharu”, yang menjadi cerpen ketiga dalam antologi ini. Cerpen ini menceritakan suatu kampung dengan satu pohon gaharu yang dipuja oleh masyarakat sekitar. Namun, akhir-akhir itu, masyarakat sering kali menemukan sosok manusia terpenggal di bawah pohon tersebut. Berita miring mulai tersebar, dan Maq Kangkong, tokoh adat di kampung tersebut berkata bahwa dalam pohon gaharu tersebut, ada sosok perempuan panjang berpakaian putih yang menetap di sana.
Maq Kangkong menyebutkan pula, bahwa perempuan itu ialah titisan dewi yang dikutuk oleh dewa karena melanggar larangan untuk tak masuk ke dalam hutan pantangan. Tak berselang lama dari peristiwa sebelumnya, Maq Kangkong lagi-lagi menemukan tubuh yang terpenggal di bawah pohon tersebut. Dikarenakan ia sendirian di sana, akhirnya Maq Kangkong menguburkan tubuh laki-laki itu sendirian.
Satu minggu setelahnya, ada dua orang bersetelan formal mendatangi pohon gaharu itu, dan berniat menebangnya untuk keperluan pembangunan sirkuit. Maq Kangkong mencegahnya, sayangnya kedua orang itu tak mengacuhkan peringatan Maq Kangkong, dan tetap menyalakan senso. Belum sempat mendekatkan senso pada batang pohon, kedua orang itu sudah diserang dari belakang. Cerpen diakhiri dengan sirkuit yang dipindahkan lokasi pembangunannya, dan Maq Kangkong yang memegang dua parang berlumuran darah.
Ending dari cerita ini tentunya akan membuat pembaca bertanya-tanya, apakah benar Maq Kangkong pelakunya, atau apa maksud parang berlumur darah yang dipegangnya, dan banyak pertanyaan lain. Penggunaan open ending dalam oleh Randa tentunya sangat menarik, dan menggugah keingintahuan pembaca akan ceritanya lebih jauh. Sering kali pula, open ending akan membuat pembaca membaca ulang cerpen, untuk menangkap petunjuk-petunjuk yang mungkin disisipkan penulis.
Selain penggunaan open ending yang menarik, Randa juga selalu menghadirkan kritik sosial dalam cerpennya. Salah satunya yang menarik dan mungkin akrab dengan isu yang diangkat Randa dalam cerpen ini ialah “Tak Ada Waktu Bermain Bola”. Randa mengangkat isu mengenai performa Timnas Indonesia yang sering kali buruk, dan pejabat akan selalu menyatakan bahwa Timnas kekurangan waktu untuk menyiapkan pertandingan.
Loq Tajep frustasi mendengar alasan itu berkali-kali, dan laki-laki paruh baya memberinya saran untuk membuka sekolah sepak bola, demi menjawab keresahan loq Tajep mengenai sepak bola. Ia menolak, bukan karena ia tak mau, sebab ia juga punya keahlian bermain sepak bola. Ia menolak karena loq Tajep merasa ia tak memiliki waktu lagi untuk bermain bola, pun tempatnya tak ada. Lahan di desa semakin tergerus, karena aktivitas tambang, dan lapangan desa pun tak ada.
Kritik dalam cerpen ini tentunya sangat relate dengan masyarakat Indonesia. Sering kali pejabat berdalih dengan waktu yang terbatas, padahal dana yang digelontorkan untuk mendukung Timnas di sepak bola bahkan melebihi cabang olahraga lain. Apalagi sempat mendatangkan pelatih dari luar negeri, yang ujung-ujungnya didepak pula karena banyak alasan yang diberikan pejabat yang bersangkutan.
Wajah, judul dari antologi ini—yang diambil dari salah satu cerpen—mewakili dengan baik kesinambungan antarcerpen dalam antologi ini. Setiap cerpen menyajikan “wajah” mitos, atau kepercayaan masyarakat akan benda atau roh di alam ini. Kritik sosial yang disisipkan pun, turut memberikan “wajah” atau rupa, bagaimana penulis memotret lingkungan sekitarnya di dalam cerpen-cerpennya di buku antologi ini.

Kumpulan Cerpen: Wajah


