Liukan Konflik pada Lembaran Sastra
Konflik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dalam bermasyarakat. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan antarmanusia tersebut.
— Andini Dara Ananti, dalam buku Konflik Sosial: Membaca Konflik dalam Ruang Sastra
Indonesia terkenal akan keberagamannya. Baik dari kepercayaan yang dianut atau agama, budaya, hingga bahasa. Konflik, adalah hal yang sering kali muncul di tengah keberagaman. Salah satu konflik yang terjadi baru-baru ini ialah upaya perusakan dan kekerasan terhadap rumah doa umat Kristen di Padang. Peristiwa ini terjadi pada Minggu, 27 Juli 2025 lalu, sekitar pukul 16.00 WIB.
Pendeta GKSI Anugerah Padang, F Dachi, menyebutkan bahwa sebelum kejadian, ia dipanggil ke belakang rumah oleh Pak RT dan Pak Lurah. Keduanya menyuruh sang pendeta untuk membubarkan dan menghentikan kegiatan, lalu insiden ini terjadi begitu saja. Beberapa orang memukul jendela kaca dengan kayu, melempar kursi, hingga merusak barang-barang. Insiden ini bahkan mengakibatkan dua anak berusia sembilan dan 11 tahun terluka.
Kejadian ini tentunya menimbulkan trauma mendalam bagi umat Kristen di Kota Padang. Ketakutan akan kejadian tersebut menimpa mereka, atau bahkan kejadian yang lebih mengerikan lagi. F Dachi juga merasa terpukul ketika anak-anak bimbingannya turut menjadi korban dalam insiden tersebut. Ia menyayangkan kenapa kegiatan tersebut dilarang, padahal undang-undang telah menjamin atas kebebasan beragama.
Hal ini menunjukkan bahwa konflik bisa menyasar kelompok masyarakat, apapun faktor yang melatarbelakanginya. Sastra, sebagai cerminan dari kehidupan sosial, juga memiliki konflik sebagai peran penting di dalamnya. Sering pula, para sastrawan atau penulis novel menghadirkan konflik dalam karya mereka sebagai ekspresi terhadap fenomena sosial yang terjadi di lingkungan sekitar. Tokoh di dalam novel juga kerap digunakan untuk menyuarakan kritik, bahkan ketidakpuasan terhadap realitas sosial.
Andini Dara Ananti mengulik perihal konflik sosial pada karya sastra, dalam buku berjudul Konflik Sosial: Membaca Konflik dalam Ruang Sastra. Berhubungan dengan konflik sosial, Andini membahas sosiologi sastra pada awal buku ini. Sosiologi sastra disebut oleh Andini sebagai metode atau pendekatan untuk memahami perilaku manusia sebagai makhluk sosial dalam mengapresiasi sebuah karya, yang dilihat dari aspek sosial kehidupan masyarakatnya.
Terdapat tiga klasifikasi sosiologi sastra yang disebutkan dalam buku ini, yakni sosiologi karya sastra, sosiologi pengarang, dan sosiologi pembaca. Sosiologi karya sastra memiliki fokus pada masalah sosial yang ada dalam karya sastra. Sosiologi pengarang mengkaji bagaimana hubungan antara pengarang dengan karya sastranya. Sementara sosiologi pembaca mengkaji pada hubungan antara karya sastra dengan pembacanya, yang berfokus pada pengaruh sosial dari suatu karya sastra.
Memasuki ranah bahasan konflik, Andini menyebutkan bahwa konflik ialah situasi dramatik yang melibatkan perselisihan antara dua kekuatan yang seimbang, tetapi bertentangan. Sering kali, konflik muncul akibat perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok, baik dalam lingkup sosial, politik, juga budaya. Salah satu konflik yang sering muncul dalam karya sastra ialah konflik sosial.
Konflik sosial ialah perselisihan antaranggota masyarakat yang melibatkan berbagai aspek kehidupan. Cakupan konflik sosial dalam karya sastra memiliki berbagai bentuk interaksi negatif, seperti perburuhan, peperangan, percekcokan, hingga penindasan. Lingkungan sosial, ras, dan kondisi politik yang melingkup kehidupan pengarang, dapat menjadi pemicu lahirnya konflik dalam karya yang dihasilkan pengarang. Terdapat lima jenis konflik sosial dalam buku ini, yang diklasifikasikan oleh Soekanto, yaitu konflik pribadi, konflik rasial, konflik antarkelas sosial, konflik politik, dan konflik bersifat internasional.
Andini juga membahas mengenai faktor penyebab yang dapat melatarbelakangi adanya suatu konflik sosial yang lahir dalam karya sastra. Beberapa faktor penyebab tersebut ialah perbedaan individu, perbedaan kebudayaan, perbedaan kepentingan, dan perubahan sosial. Dikarenakan membahas mengenai konflik sosial dalam karya sastra, Andini juga memberikan penjelasan mengenai novel dan unsur-unsur yang ada di baliknya. Oleh karena itu, pembaca yang awam dengan sastra dapat memahami dengan lebih mudah buku ini.
Tak hanya penjabaran secara materi, Andini juga mengaplikasikan penjelasan mengenai konflik sosial pada novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang ditulis oleh Eka Kurniawan. Andini mencoba mengklasifikasikan apa saja jenis konflik sosial yang ada dalam novel ini, lalu menganalisis faktor penyebabnya. Hasil analisis yang dilakukan Andini diletakkan pada bab empat di buku ini.
Andini menemukan kelima konflik yang diklasifikasikan oleh Soekanto dalam novel tersebut. Salah satunya ialah konflik antarkelas sosial. Konflik antarkelas sosial dalam novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas adalah konflik antara tokoh Janda Muda dengan Pak Lebe. Tokoh Janda Muda hidup dalam keterbatasan ekonomi, sementara Pak Lebe ialah pemilik rumah kontrakan yang berada dalam posisi sosial lebih tinggi. Kutipan yang diberikan Andini menunjukkan Pak Lebe mengunjungi rumah yang dikontrak Janda Muda pada jam 11 malam, dan Janda Muda tak bisa menolak karena Pak Lebe adalah pemilik rumah kontrakan tersebut.
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa terdapat relasi kuasa, antara kelas atas (pemilik properti) dengan kelas bawah (penyewa), juga relasi gender yang timpang, antara perempuan miskin yang rentan terhadap eksploitasi dan intimidasi dari laki-laki yang berkuasa. Konflik ini menyoroti bagaimana hak dasar individu, salah satunya hak atas privasi dan keamanan, dapat diabaikan ketika seseorang berada di posisi sosial yang lemah. Kutipan itu juga menunjukkan, bahwa konflik antarkelas bisa terjadi melalui tekanan psikologis, pengabaian hak, dan relasi sosial yang tak setara.
Bagi pembaca yang gemar membaca karya sastra, khususnya novel, buku ini akan menjadi pilihan yang bagus. Selain memberikan pemahaman lebih jauh terkait hal-hal di balik novel, seperti unsur intrinsik dan ekstrinsiknya, buku ini juga memberi wawasan baru kepada pembaca, mengenai konflik yang ada dalam karya sastra. Konflik tak semata-mata lahir dari jari penulis, tetapi bisa juga terbentuk dari lingkungan di mana penulis tumbuh dan berkembang.


