Literasi: Memang Tak Hanya Sekadar Baca dan Tulis

Literasi: Memang Tak Hanya Sekadar Baca dan Tulis

Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) mencatat gedung Perpusnas Indonesia menjadi gedung perpustakaan tertinggi di dunia. Memiliki 27 lantai (24 lantai dan 3 basement) dengan total tinggi 126,3 meter, Perpusnas mengalahkan Shanghai Library (106 meter). Penghargaan atas rekor ini diberikan pada 8 Januari 2024 lalu, oleh CEO MURI, Jaya Suparna kepada Kepala Perpusnas, Aminudin Aziz. Sayangnya, minat membaca masyarakat Indonesia ternyata tak setinggi gedung perpustakaan nasionalnya.

Melalui artikel Punya Perpustakaan Tertinggi di Dunia, Minat Baca di Indonesia Masih Rendah, Daffa menyoroti timpangnya minat baca masyarakat Indonesia dengan rekor tinggi bangunan perpustakaan nasional Indonesia. Survei yang dilakukan GoodStats dalam artikel tersebut menunjukkan bahwa hanya satu dari lima orang yang rutin membaca buku setiap harinya. Sebanyak 17% responden hanya membaca sesekali, dan 15,4% lainnya menyatakan jarang membaca buku.

Abdul Mu’ti—Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah—melalui artikel Tempo berjudul Menteri Abdul Mu’ti: 75 Persen Anak Indonesia Bisa Baca, tapi Tak Paham yang Dibaca, menyebutkan bahwa sebanyak 75% anak berusia 15 tahun di Indonesia tak memahami apa yang mereka baca, meski memiliki kemampuan membaca. Data dari UNESCO, dipaparkan olehnya, menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%, yang mana artinya dari 1.000 orang di Indonesia, hanya ada satu orang yang rajin membaca.

Bahasan tentang minat baca tentunya tak lepas dari kata literasi. Sopian dan Ihsan dalam buku Literasi di Lereng Rinjani: Membangun Harapan Anak Pedalaman, membahas mengenai literasi dan segala tetek bengeknya. Kedua penulis menjelaskan definisi literasi dengan mengutip beberapa sumber, salah satunya ialah UNESCO. Literasi menurut UNESCO adalah kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, membuat, mengomunikasikan, dan menghitung menggunakan materi cetak juga tertulis dengan berbagai konteks.

Sopian dan Ihsan membedah literasi dalam buku ini, salah satunya dengan memberikan penjabaran mengenai jenis-jenis literasi. Salah satu jenis yang disebutkan oleh kedua penulis ialah literasi dasar. Definisi dari literasi dasar ialah kemampuan fundamental yang mencakup kemampuan membaca dan menulis. Disebutkan bahwa literasi dasar memungkinkan seseorang untuk memahami teks, mengikuti instruksi tertulis, hingga berkomunikasi secara efektif melalui tulisan.

Oleh karenanya, jika melihat data yang dipaparkan oleh Abdul Mu’ti dalam artikel Tempo di atas, maka dapat disimpulkan bahwa 75% anak berusia 15 tahun di Indonesia bahkan tak memiliki literasi dasar. Memang pada awalnya, literasi memang hanya berfokus pada kemampuan membaca dan menulis. Namun, seiring berkembangnya zaman dan adanya revolusi digital, literasi saat ini mencakup pada kemampuan untuk mengakses dan menginterpretasi berbagai jenis informasi yang tersebar di berbagai platform media.

Di dalam buku ini, Sopian dan Ihsan juga membahas mengenai sejarah literasi di dunia. Sejarah literasi dimulai sejak manusia mulai menciptakan sistem tulisan. Sistem tulisan pertama dunia dikenal di Mesopotamia, sekitar 3.500 SM, dengan bentuk tulisan paku. Namun pada masa ini, literasi hanyalah dimiliki oleh kalangan elit, seperti raja, pendeta, dan bangsawan, yang menggunakan tulisan untuk administrasi, keagamaan, dan sastra. Sementara pada masa kejayaan Islam (sekitar abad ke-8 hingga ke-13), literasi berkembang pesat dengan banyak karya ilmiah dan sastra yang diterjemahkan ke bahasa Arab. Perpustakaan besar juga didirikan di Baghdad, Kaior, dan Cordoba.

Sopian dan Ihsan mencatat pula perkembangan literasi di Indonesia. Beberapa poin yang dijabarkan ialah di antaranya inisiatif pemerintah, peran masyarakat sipil dan organisasi, literasi digital, hingga peran media sosial. Tak hanya itu, buku ini juga membahas bagaimana literasi menjadi penting, khususnya bagi anak-anak. Literasi yang tak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, mencakup lebih banyak aspek, seperti keterampilan kognitif yang lebih luas. Keterampilan kognitif tersebut di antaranya ialah berpikir kritis, memecahkan masalah, serta berkomunikasi secara efektif.

Buku ini memfokuskan bahasannya pada literasi anak-anak yang berada di kawasan lereng Gunung Rinjani. Sopian dan Ihsan membahas bagaimana kondisi geografis dan demografis, sosial dan ekonomi, juga sejarah singkat Dusun Tambing Kekeq, yang berada di kawasan Gunung Rinjani tersebut. Dusun Tambing Kekeq berada di Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Nama dusun ini diambil dari sebutan masyarakat, Tebing kokok—memiliki arti Tebing kali.

Permasalahan utama dalam hal pendidikan yang dihadapi di Dusun Tambing Kekeq ialah angka pernikahan dini yang tinggi, dan sering kali menjadi penghalang untuk melanjutkan pendidikan. Orang tua pun kebanyakan tak memahami pentingnya pendidikan formal bagi anak-anaknya. Jarak yang jauh juga menyulitkan anak-anak dalam mengakses pendidikan, karena mengharuskan mereka menempuh perjalanan panjang dengan tiadanya moda transportasi dan akses jalan yang belum mendukung. Masalah ekonomi turut menjadi masalah terkait rendahnya tingkat kelanjutan pendidikan.

Strategi yang dapat membangkitkan literasi di pelosok dalam buku ini, salah satunya ialah melibatkan keluarga dan masyarakat. Literasi tentunya tak hanya tanggung jawab lembaga pendidikan atau organisasi eksternal. Anak-anak yang mendapat dukungan literasi di rumah, akan memiliki peluang besar dalam perkembangannya menjadi pembaca yang cakap dan kritis. Oleh karenanya, program literasi yang melibatkan keluarga, seperti workshop literasi keluarga, akan menjadi salah satu cara efektif dalam membangun keterlibatan orang tua.

Penulis juga memberikan uraian terkait dampak pemberdayaan literasi terhadap anak-anak di Dusun Tambing Kekeq. Terdapat delapan dampak yang diidentifikasi dalam buku ini, salah satunya adalah dampak ekonomi. Dampak ekonomi sebagai dampak pemberdayaan literasi ialah memberikan peluang kerja yang lebih baik. hal ini dikarenakan banyak pekerjaan saat ini membutuhkan keterampilan membaca, menulis, juga berpikir kritis. Sejalan dengan hal tersebut, peningkatan literasi juga menjadi langkah strategis untuk memutus lingkaran kemiskinan.

Di samping menjabarkan dampak, penulis juga menyebutkan tantangan dalam pengembangan literasi di pedesaan, juga solusinya. Salah satunya dijelaskan bahwa di pedesaan, akses terhadap teknologi menjadi terbatas, sehingga untuk mengatasinya, dapat dilakukan beberapa hal seperti membangun infrastruktur internet (Wi-Fi gratis), atau menyediakan perangkat teknologi sederhana, seperti tablet atau komputer murah. Melalui pemaparan tantangan dan solusi, juga diperlukan peran pemerintah sebagai salah satu hal yang vital.

Menariknya, dalam buku ini juga disisipkan sajak-sajak yang ditulis penulis di akhir setiap babnya, mengenai Dusun Tambing Kekeq. Hal ini akan membuat pembaca terhibur, dan memberi jeda sejenak untuk menjelajahi rangkaian diksi yang disajikan penulis. Buku ini akan menjadi bacaan yang cocok untuk masyarakat yang tengah mengusahakan peningkatan literasi di daerah masing-masing, dikarenakan penulis tak hanya memberikan langkahnya, tetapi juga menjabarkan dampak, tantangan, hingga solusinya.

BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *