Konseling: Mengurai Masalah Gizi, hingga Menyusui
Istilah “konseling” sekarang ini bukanlah suatu hal yang asing. Apalagi di tengah Generasi Z—orang-orang yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an—yang membuka permbahasan secara blak-blakan mengenai kesehatan mental, padahal dulunya merupakan hal tabu. Konseling dengan psikolog, atau bahkan psikiater, menjadi salah satu topik bahasan yang tidak lagi langka ketika dibicarakan antarteman.
Artikel berjudul Masalah Kesehatan Mental, Apakah Hanya Monopoli Gen Z? yang diunggah oleh UGM Online, menyebutkan bahwa Gen Z mudah mengalami kecemasan. Hal-hal ini dikarenakan lingkungan yang kompetitif dan masa depan yang memiliki banyak ketidakpastian, membuat Gen Z sering kali dihadapkan oleh standar tinggi yang menimbulkan rasa takut akan kegagalan, bahkan pada perasaan tidak mampu.
Melansir dari laman media Wacana yang mengutip data dari Kemenkes, sebanyak 6,1% penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan kesehatan mental. Meski secara fisiki Gen Z memiliki periode paling sehat, tetapi terdapat ketidakmampuan dalam mengendalikan emosi dan perilaku, sehingga bahkan menyebabkan angka kesakitan dan kematian mencapai hingga 200%.
Disebutkan pula dalam artikel ini, bahwa Gen Z cenderung menerima pengobatan atau menjalani terapi, dibanding dengan generasi di atasnya. Hal ini membuat perbincangan mengenai pengobatan kesehatan mental, seperti konseling dengan psikolog, rutin meminum obat untuk menyembuhkan gejala penyakit mental, dan sebagainya, tak lagi menjadi hal yang memalukan, atau tak pantas dibahas.
Membahas mengenai konseling, Mahdiah dalam bukunya yang berjudul Pengantar Konseling Gizi dan Menyusui, menyebutkan bahwa konseling sebagai profesi berkembang luas di Amerika, daripada negara-negara lain. Hal ini dikarenakan corak kehidupan masyarakatnya yang beragam, memungkinkan kegiatan konseling mendapat tempat lebih baik. Kegiatan konseling pertama kali dilakukan oleh Jesse B. Davis, pada saat itu lebih fokus ditujukan kepada murid-murid dalam rangka membantu penyelesaian berbagai masalah pendidikan dan pemilihan jurusan—menyesuaikan dengan pekerjaan dan jabatan yang ingin diraih.
Mahdiah menjelaskan, konseling adalah suatu aktivitas pemberian nasehat dengan atau berupa anjuran-anjuran dan saran-saran dalam bentuk pembicaraan yang komunikatif antara konselor dan konseli, atau klien. Konseling dijelaskan datang dari pihak klien, disebabkan ketidaktahuan atau kurang pengetahuan, sehingga ia meminta pertolongan kepada konselor agar mendapatkan bimbingan. Oleh karenanya, dapat disimpulkan bahwa konseling adalah relasi timbal balik antara konselor dan klien dalam memecahkan masalah-masalah tertentu melalui media wawancara, sehingga klien sanggup mengungkapkan isi hatinya secara bebas, mengenal dirinya, dan menerima dirinya secara positif.
Terdapat beberapa kondisi internal yang memengaruhi proses konseling, salah satunya adalah empati. Empati memiliki makna sebagai suatu kesediaan untuk memahami orang lain secara paripurna, baik tampak maupun yang terkandung, khususnya dalam aspek perasaan, pikiran, dan keinginan orang lain, tetapi mampu menghayati bagaimana perasaan kita jika berada di situasi orang lain.
Mahdiah di dalam buku Pengantar Konseling Gizi dan Menyusui berfokus membahas konseling mengenai gizi dan menyusui. Definisi konseling gizi dalam buku ini ialah sebuah proses interaktif antara klien dan konselor terlatih yang menggunakan informasi dari penilaian gizi untuk memprioritaskan tindakan peningkatan status gizi, dan merupakan salah satu upaya untuk mempercepat proses penyembuhan dan mencapai status gizi yang optimal.
Beberapa manfaat konseling gizi, di antaranya ialah membantu proses penyembuhan penyakit melalui perbaikan gizi klien dan tidak memperberat kinerja tubuh klien, dan memotivasi klien untuk mencari solusi terhadap masalah yang dialami klien. Melalui proses asuhan gizi terstandar secara rutin, konseling gizi juga akan membuat pasien, atau klien, bersikap lebih positif dalam menerima konseling karena mereka merasa ada seseorang yang memperhatikan kondisi kesehatan mereka.
Sementara itu, kegiatan menyusui didefinisikan dalam buku ini sebagai cara ideal bagi ibu untuk memberikan kasih sayang pada anaknya dalam memenuhi gizi bayi, dan dapat menurunkan risiko infeksi pada anak, termasuk sindrom kematian mendadak bayi. Selain bermanfaat untuk bayi, menyusui juga bermanfaat untuk ibu, salah satunya ialah menyusui menurunkan risiko kanker ovarium dan payudara pramenopause, osteoporosis, bahkan penyakit jantung pada ibu.
Berkaitan dengan menyusui, konseling yang dilakukan terhadap ibu menyusui juga berdampak signifikan. Melalui peer konseling, atau konseling teman sebaya, tingkat pengetahuan ibu menjadi lebih tinggi, yang menunjukkan terjadi peningkatan rata-rata pengetahuan. Peer konseling juga menempatkan ibu sebagai subjek, bukan sebagai objek, sehingga banyak yang menaruh minat pada konseling ini. Menyusui penting untuk dipahami secara baik oleh para ibu, karena ASI berperan penting bagi optimalisasi pertumbuhan fisik dan perkembangan mental juga intelektual sang bayi.
Konseling sebaya yang dilakukan pada ibu hamil ataupun menyusui, telah dibuktikan efektif dalam meningkatkan rasio menyusui eksklusif. Oleh karenanya, peer konseling mestinya dilakukan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, sehingga ibu atau sang klien, dapat dengan mudah memahami informasi yang diberikan. Disebutkan oleh Mahdiah dalam buku ini, peer konseling gizi dan menyusui dapat menjadi strategi efektif dalam pemberian ASI ekslusif yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi.
Berkaca pada situasi di Indonesia, lantas jika pemerintah menggelontorkan beratus-ratus triliun uang dari APBN untuk menyelenggarakan program Makan Bergizi Gratis (MBG)—yang sampai sekarang masih mencetak korban keracunan—untuk menangani masalah gizi pada anak seperti stunting, apakah memang merupakan cara bijak? Di sisi lain, pemerintah juga dengan lantang menegaskan bahwa negara tengah melakukan efisiensi anggaran. Rasa-rasanya, ini hanyalah pertanyaan retoris yang sudah berulang kali ditanyakan oleh rakyat (sampi muak) kepada sang inisiator, yaitu Prabowo.



