Melawat Realitas melalui Sastra
Bagaimana jika nanti Ibu kecewa? Merasa gagal dalam mendidik anaknya? Aku tidak ingin Ibu sedih lagi. Tapi aku juga tidak bisa melupakan mimpiku.
— “Kanvas Terlarang” dalam Antologi Cerpen Hayat Reruntuk oleh Cantika Putri Amelia
Alana, tokoh utama dalam cerpen “Kanvas Terlarang” merasa gelisah karena sang Ibu melarangnya melukis. Trauma masa lalu ketika ditinggalkan ayah Alana, membuat Ibu memilih untuk membenci hal-hal yang berbau mengenai lukisan, yang mana akan mengingatkan sang Ibu pada mantan suaminya yang juga seorang pelukis. Alana memahami trauma Ibunya, dan ia tak ingin membuat Ibunya merasa kecewa karena ia menjalani hal yang dibenci Ibunya. Namun, di sisi yang sama, Alana juga tak sanggup melupakan mimpinya. Akhirnya, ia menuangkan segala kegelisahan dan keresahannya di buku diary.
Cantika memotret dilema Alana sebagai seorang anak dalam cerpen “Kanvas Terlarang” ini dengan apik. Apa yang dilakukan Cantika ini, selaras dengan teori sosiologi sastra oleh Ian Watt. Melalui artikel ilmiah yang diunggah Diwa dan Septiana, Ian Watt menyebutkan bahwa sastra memiliki peran sebagai pantulan sosial, di mana karya sastra mampu merepresentasikan situasi sosial kala karya itu lahir. Keterkaitan ini tak dapat dipisahkan, karena pada dasarnya, sebuah karya tidak hadir begitu saja.
Situasi yang dialami Alana, tentunya tidak asing dalam kehidupan realitas kita. Istilah seperti “salah jurusan”, timbul salah satunya karena intervensi orang tua yang berlebihan dalam kehidupan anak. Akhirnya, anak akan dihadapkan dalam dilema seperti yang dirasakan Alana. Satu sisi menginginkan untuk terus mengejar impiannya, tetapi di sisi lain, anak akan merasa berdosa dan durhaka, jika tidak mengikuti keinginan orang tuanya. Perasaan dilema ini kemungkinan akan berakhir buruk, seperti Alana yang hampir melupakan mimpinya, dengan dalih membahagiakan ibunya.
Cantika banyak memotret realitas sosial ke dalam karya cerpen-cerpennya, seperti halnya pada cerpen “Hayat Reruntuk”. Di cerpen ini, Cantika mengambil sudut pandang dari sampah. Melalui tokoh Aga yaitu sampah anorganik, dan Oga adiknya, yang merupakan sampah organik. Cantika mengkritik bagaimana manusia mempermasalahkan sampah dalam cerpen ini. Aga dan Oga adalah kakak beradik yang baru saja diusir dari TPA, karena kapasitasnya sudah membludak.
Ketika Aga meminta belas kasihan kepada manusia di luar TPA, mereka malah memandang Aga dan Oga sebagai entitas yang memuakkan dan menjijikkan. Kesalahan itu dilimpahkan pada sampah, yang sebenarnya merupakan hasil perbuatan manusia itu sendiri. Ketika sungai tercemar dan lingkungan menjadi kumuh, manusia hanya akan menyalahkan eksistensi sampah itu sendiri. Padahal, ketika sungai tercemar dan lingkungan menjadi kumuh, itu menandakan manusia gagal dalam mengelola hasil dari apa yang diperbuatnya.
Sama seperti di cerpen “Cahaya Harapan”, Cantika kembali memotret bagaimana perjuangan anak untuk mendapatkan restu dari orang tuanya dalam menggapai cita-citanya. Mengangkat isu kesetaraan gender dan keluarga yang hangat, Cantika merepresentasikan Bapak Acung sebagai sosok dengan pemikiran kurang terbuka. Ia tak mengizinkan Acung, anaknya untuk menjadi penari, dikarenakan jenis kelamin Acung adalah laki-laki. Bapak Acung menganggap impian Acung menjadi penari adalah hal yang nyeleneh, dan bukan keputusan yang meyakinkan, karena ia mengenal anaknya secara akrab, bahwa Acung masih sering menggonta-ganti impiannya.
Melalui antologi ini, kita juga dapat melihat praktik sosiologi pengarang, klasifikasi dari teori sosiologi Sastra oleh René Wellek dan Austin Warren. Menurut Wellek dan Warren, sosiologi pengarang melihat bagaimana asal-usul, status sosial, ideologi sosial, dan hal-hal yang menyangkut pengarang, memengaruhi pengarang dalam melahirkan karya sastra miliknya. Hal ini terpotret dalam antologi cerpen yang dihasilkan Cantika.
Dari kesepuluh cerpen yang ada dalam antologi ini, enam di antaranya memiliki tokoh utama perempuan. Mulai dari Ratna “Dijambret Tiga Kali”, Sari “Embun Setelah Air Mata”, Lia “Siapa Pencuri di Toko?”, Clara “Belenggu Masa Lalu”, Alana “Kanvas Terlarang”, dan Kartika “Penantian Kartika yang Tak Pernah Berhenti”. Hal ini menunjukkan bahwa jenis kelamin memengaruhi bagaimana karya dari Cantika ini lahir. Umumnya, pengarang akan melahirkan tokoh yang dekat dengan dirinya, dikarenakan kedekatan mereka terhadap subjek tersebut.
Tak hanya itu, karakter perempuan dalam cerpen-cerpen Cantika kebanyakan adalah anak tunggal, atau anak sulung. Lia dalam “Siapa Pencuri di Toko?” adalah seorang kakak perempuan dari Rina, begitu pun Clara yang merupakan anak pertama dengan adik perempuan bernama Raisa. Begitu pula tokoh Alana, Kartika, dan Sari, yang merupakan anak dari single mother. Tokoh Alana dan Kartika pun dinarasikan memiliki kedekatan yang akrab, mencerminkan realitas bagaimana anak perempuan memang memiliki hubungan personal yang dengan ibunya. Persamaan-persamaan ini tentunya tidak lahir dari kekosongan, tetapi dipengaruhi oleh lingkungan sang pengarang.
Hal ini mengisyaratkan bahwa Cantika memotret sekelilingnya, mengedarkan pandang kepada lingkungannya, dan mengabadikannya menjadi sebuah karya sastra. Ini menunjukkan bahwa cerpen-cerpen yang ditulis oleh Cantika ialah cerminan realitas sosial yang dihasilkannya melalui lingkungannya. Mulai dari permasalahan sampah yang masih terus menghantui, konflik anak dengan orang tuanya mengenai jalan hidupnya, hingga keakraban antara anak perempuan dengan ibunya. Oleh karenanya, cerpen-cerpen Cantika hidup dalam keterkaitannya dengan realitas masyarakat tersebut.



