Beradu Tanya dengan Diri Sendiri

Beradu Tanya dengan Diri Sendiri

Konflik, adalah sesuatu hal yang umum ditemui, baik di realitas juga di dalam karya fiksi atau karya sastra. Di dalam karya sastra, konflik dibangun melalui alur. Melalui definisinya, alur dipahami sebagai urutan atau rangkaian peristiwa yang membentuk cerita menjadi satu-kesatuan yang utuh. Alur mencakup hubungan sebab-akibat antara peristiwa-peristiwa dalam karya sastra. Terdiri dari enam tahapan, alur dimulai dengan pengenalan cerita, pemunculan konflik, komplikasi, klimaks, resolusi, hingga akhir.

Salah satu konflik yang sering ditemui dalam karya sastra adalah konflik batin. Wardianto dan Khomsiyatun dalam artikel ilmiahnya menjelaskan konflik batin lahir dari tiga unsur pembentuk kepribadian. Unsur pembentuk kepribadian ini didasarkan pada teori kepribadian yang diutarakan oleh Sigmund Freud. Ketiga unsur kepribadian ini ialah id, ego, dan superego. Id didefinisikan sebagai naluri-naluri alam atau bawaan manusia. Di sisi lain, superego mengacu nilai dan moral masyarakat yang disebarkan melalui berbagai media. Serta yang terakhir, ego adalah wilayah pikiran yang berurusan dengan realitas, dikendalikan oleh prinsip realitas, dan memiliki fungsi sebagai penentu semua tindakan kepirbadian.

Konflik batin lahir dari pertentangan ketiga unsur kepribadian ini; id sebagai pemberi dorongan, ego sebagai pikiran rasional, dan superego menjadi pengendali yang berisi sistem nilai dan norma yang berlaku di kalangan masyarakat. Penyebab dari konflik batin ini dikarenakan oleh dua faktor, yang pertama ialah faktor internal yang terjadi karena adanya konflik di dalam diri tokoh fiksi itu sendiri, dan faktor eksternal yang terjadi di luar diri tokoh fiksi, atau adanya pertentangan antara individu satu dengan lainnya. Beberapa wujud konflik batin yang disebutkan Wardianto dan Khomsiyatun adalah depresi, cemas, marah, dan frustasi.

Banyak pengarang yang menggunakan konflik batin sebagai bumbu dalam karya sastranya. Salah satunya adalah Salwa dengan cerpen-cerpennya di dalam antologi yang berjudul Pencuri Bulan Suci. Salwa banyak memotret kisah-kisah pinggiran, atau masyarakat menengah dalam cerpennya pada antologi ini. Mulai dari pencopetan, pencurian, limbah perusahaan yang merugikan masyarakat, hingga tradisi seperti menolak bala. Melalui kisah-kisah ini, Salwa memainkan konflik batin para tokoh utamanya dengan kuat.

Cerpen “Copet dalam Kandang” menceritakan seorang anak laki-laki yang tengah melakukan pencopetan. Ia melakukan hal itu untuk bertahan hidup, dengan menyerahkan hasil pencopetan ke sebuah tempat. Lalu ketika malam beranjak semakin larut, ia melakukan aksi pencopetan nyawa, atau mungkin orang Jogja mengenalnya dengan klitih. Tokoh Aku mengalami konflik batin dalam adegan ini. Tokoh Aku menyadari bahwa tindakannya sebagai pencopet, baik barang ataupun nyawa saat itu salah, tetapi Aku tetap melakukannya, karena ia harus bertahan hidup.

Sama halnya dengan tokoh Arjun dalam cerpen “Pencuri Bulan Suci”. Ia adalah anak yang tinggal di sebuah panti asuhan. Setelah dituduh mencuri uang sumbangan panti karena pengurus mendapati emas di kantong celananya, Arjun akhirnya memutuskan pergi dari panti tersebut. Ia merasa kehidupannya di panti bak berada dalam penjara, karena di sana ia tak bersekolah, dan hanya disuruh ngamen dan menyetorkan uangnya. Di tengah usahanya bertahan hidup, Arjun selalu menyisihkan waktunya di tengah malam untuk berbincang dengan rembulan, mengenai hidupnya.

Tokoh Aku dalam cerpen “Kota Melahap Tamak” yaitu Danang, dan Arjun pada cerpen “Warung Pak Tedja”, juga mengalami konflik batin yang serupa. Danang adalah buruh pabrik kertas, sementara Arjun adalah karyawan perhotelan. Danang akrab dengan Pak Maman, salah satu warga di dusunnya, begitu pula Arjun, yang telah mengenal Pak Tedja dan wedang buatannya sedari kecil. Berbeda dengan dulu, Pak Maman tak lagi bisa memiliki panen yang melimpah ruah seperti dulu. Pak Tedja juga tak berbeda, dikarenakan angkringannya makin sepi, berbeda jauh dari dulu yang selalu dipenuhi oleh pelanggan.

Ternyata penyebab usaha Pak Maman dan Pak Tedja surut dikarenakan masifnya perkembangan perusahaan tempat Danang dan Arjun bekerja. Pabrik kertas di mana Danang bekerja, ternyata membuang limbah ke sungai yang mengalir ke pemukiman warga, dan hotel di mana Arjun bekerja, melahap semua sumur-sumur yang tadinya digunakan oleh masyarakat. Keduanya tokoh akhirnya berkecil hati, berkonflik batin bahwa apakah mereka menjadi salah satu penyebab Pak Maman dan Pak Tedja kehilangan hidupnya.

Tokoh Aku dalam cerpen “Pahlawan Banci” dan Genta dalam cerpen “Gentala”, juga menghadapi konflik batin serupa. Keduanya adalah laki-laki, yang bermimpi menjadi penari tradisional. Sayangnya, baik Bapak dari Genta maupun Tokoh Aku tak memberi mereka restu. Tokoh Aku dibayang-bayangi oleh luka masa lalu sang Bapak, yang gagal menjadi polisi dan kini, sang Bapak menuntutnya untuk menjadi sosok pahlawan yang gagah, bukan laki-laki gemulai yang menari. Berbeda dengan itu, Genta dibayang-bayangi kutukan kematian keluarganya, yaitu neneknya yang mati saat menari.

Begitu pula yang dialami Naji, tokoh utama dalam cerpen “Temaram Sang Tawang”. Naji begitu berambisius mencari uang, hingga akhirnya ia memilih meninggalkan Bapak dan Ibunya untuk melanjutkan pekerjaan sebagai bartender di sebuah bar. Ia menjalani hidupnya di bawah gemerlap dunia malam, bahkan ia merasakan dinginnya lantai di balik jeruji besi karena membela teman yang sudah ia anggap saudara di perantauannya. Ia terus berkonflik batin dengan dirinya sendiri, berambisi mengejar uang, hingga melupakan sosok yang membesarkannya dengan kasih sayang.

Terakhir, Tokoh Aku dalam cerpen “Kepada Kunang-Kunang”, juga mengalami konflik batin hebat dengan dirinya sendiri. Ia merantau sendirian, di kota yang bergengsi yaitu Jakarta. Sayangnya, realitas tak seindah ekspektasinya. Alih-alih bekerja dengan berbalut kemeja rapi, tokoh Aku terpaksa bekerja sebagai cleaning service yang membuatnya tiap hari berjibaku dengan toilet di pusat perbelanjaan. Ia kerap kali ingin pulang ke kampung halaman, tetapi melihat Ibunya yang membanggakan akan anaknya bekerja di Jakarta, membuat tokoh Aku terus membatalkan niatnya.

Melalui cerpen-cerpen dalam antologi Pencuri Bulan Suci ini, kita dapat melihat representasi konflik batin dalam diri seseorang. Konflik yang lahir di tengah mimpi-mimpi yang harus direlakan, atau bahkan nurani yang harus dikubur dalam-dalam, hanya untuk bertahan hidup. Pergelutan antara id dan superego, nyatanya bukanlah sesederhana apakah nafsu atau moral yang menang, tetapi bagaimana menengahi keduanya untuk menciptakan ego yang setidaknya rasional. Namun, mari kita renungkan, akankah pilihan akhir yang diambil dari para tokoh dalam antologi cerpen ini didasarkan pada id-nya? Ataukah, pilihan itu nyatanya adalah superego yang terbentuk dari kerasnya perjuangan bertahan hidup?

Pencuri Bulan Suci

BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *