Mengamati Dasar Fondasi Industri Pariwisata

Mengamati Dasar Fondasi Industri Pariwisata

Permasalahan tempat wisata selalu tak jauh-jauh dari sampah. Pada 2018 lalu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyebutkan terdapat 0,27 sampai 0,59 ton sampah laut di Indonesia. Keadaan ini, disebutkan oleh Jessica Novia—founder Bumi Journey, disebabkan oleh popularitas destinasi wisata yang berbanding lurus dengan produksi sampah. Meningkatnya emisi karbon akhirnya menjadi salah satu dampak jangka panjang dari menumpuknya sampah, yang sebagian besar disumbang dari transportasi di area wisata.

Situasi ini pun diperparah dengan kebiasaan buang sampah sembarangan oleh wisatawan. Muthmainnah dan Alatas dalam salah satu artikel di laman Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair, menyebutkan sering kali sampah menggunung setelah masa liburan panjang, akhir pekan, juga hari besar nasional. Lonjakan jumlah wisatawan ini memperlihatkan secara jelas bagaimana perilaku tidak bertanggung jawab ini berdampak pada lokasi wisata, seperti kesehatan warga lokal, kelestarian lingkungan, dan rusaknya estetika.

Di sisi lain, Menteri Pariwisata—Widiyanti Putri Wardhana menyebutkan bahwa sektor pariwisata berkontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada kuartal kedua tahun 2025. Disebutkan pula oleh laman UMY, bahwa pariwisata menjadi salah satu sektor strategis dan mampu menopang penerimaan negara dan menggerakkan ekonomi daerah. Ia menjadi tulang punggung perekonomian di sejumlah daerah. Oleh karenanya, sektor pariwisata harus mendapat perhatian lebih dari pemerintah.

Dalam bukunya yang berjudul Ekowisata: Pengembangan Wisata Berkelanjutan, Purwahita menuliskan bahwa pariwisata mulai dilirik sebagai sektor yang menjanjikan bagi perkembangan wilayah di skala global. Untuk memaksimalkan dampak positif dan meminimalisasi dampak negatif, maka disusunlah konsep pariwisata berkelanjutan yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial-budaya, serta ekonomi lokal. Seiring dengan perkembangannya, maka lahirlah konsep ekowisata yang berbasis masyarakat, yaitu wisata yang menyuguhkan segala sumber daya di suatu wilayah yang masih alami.

Lebih jelasnya, ekowisata merupakan salah satu jenis aktivitas wisata yang mengedepankan konsep lingkungan, di mana semua pihak yang terlibat harus mampu menjaga kelestarian alam dan lingkungan ekowisata tersebut. Potensi pendukung dari terciptanya ekowisata yang berkelanjutan terletak pada keanekaragaman flora, fauna, dan ekosistemnya, juga keragaman budaya masyarakatnya. Selain itu, ekowisata berhubungan dengan lima elemen inti, yakni bersifat alami, berkelanjutan secara ekologis, lingkungan bersifat edukatif, menguntungkan masyarakat lokal, dan menciptakan kepuasan wisatawan. Melalui konsep ekowisata pula, pemerintah dapat menjadikannya sebagai strategi untuk meningkatkan perekonomian dan kesempatan kerja suatu daerah.

Purwahita secara khusus menyorot wisata dolphin watching yang ada di Pantai Lovina, Bali, dalam buku ini. Wisata bahari, seperti dolphin watching, merupakan kegiatan yang tidak terlepas pada pemanfaatan laut beserta isinya, yang mana dapat berpotensi menyebabkan pencemaran, penangkapan ikan berlebihan, dan melemahnya karang berupa terumbu karang. Oleh sebab itu, maka diperlukan upaya pengendalian dan pengantisipasian penurunan kualitas lingkungan sehingga wisata dapat bertahan dan berkelanjutan, salah satunya dengan membuat aturan-aturan bagi wilayah maupun desa pesisir. Aturan tersebut digunakan untuk mendukung upaya pelestarian lingkungan dan habitat lumba-lumba.

Salah satu daya tarik ekowisata terletak pada aspek yang merupakan prinsipnya pula, yaitu memberikan pengalaman positif, khususnya kepada wisatawan. Hal ini juga tercantum dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 33 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengembangan Ekowisata Daerah, yakni ekowisata bersifat mengedukasi, yakni mengandung unsur pendidikan untuk mengubah persepsi seseorang, dan memberikan kepuasaan juga pengalaman kepada pengunjung.

Selain itu, pengembangan ekowisata harus didasarkan pada beberapa hal, salah satunya dengan bersikap konsisten dalam memberikan kepuasan kepada konsumen, yaitu menyediakan fasilitas dan pelayanan prima kepada wisatawan, serta menyediakan media untuk memperoleh umpan balik dari konsumen. Tak hanya itu, ekowisata juga harus melakukan pemasaran dan promosi dengan jujur dan akurat, sehingga sesuai dengan harapan wisatawan.

Menilik dari realitasnya, sepertinya sektor wisata Indonesia perlu untuk mulai membenahi diri. Mengutip dari artikel yang ditulis Komarudin, pada 2021 lalu, terdapat enam keluhan wisatawan, yang keempatnya datang dari wisatawan yang mengunjungi tempat wisata di Yogyakarta. Mulai dari makanan yang dipatok dengan harga mahal dan biaya parkir dengan harga yang melambung tinggi di kawasan Malioboro, fasilitas umum berupa kursi di Pantai Parangtritis yang berbayar, hingga wisatawan yang datang ke petilasan Mbah Maridjan di lereng Gunung Merapi dipaksa untuk menyewa jip.

Tepat seperti yang ditulis The Conversation dalam artikel yang membahas mengenai tempat wisata dengan trik promosi berupa aspek viral. Kebanyakan tempat wisata yang menggunakan trik pemasaran berdasarkan keviralan konten promosi, hanya bertahan selama masa viralnya didapatkan, dan menghilang setelahnya. Hal ini salah satunya dikarenakan ketidaksiapan tempat wisata, baik secara infrastruktur, tata kelola, hingga regulasi, yang mana membbuat lonjakan pengunjung yang datang secara tiba-tiba dan masif tidak tertangani dengan baik. The Conversation menulis, “Siapa yang mau kembali, ketika mendatangi sebuah situs pariwisata yang baru, tetapi mengalami susah parkir, makanan mahal, dan berdesak-desakan tak karuan?”

Dapat disimpulkan, bahwa pengalaman wisatawan atau pengunjung dalam sebuah tempat wisata menjadi faktor yang sangat penting. Kemudahan dan kenyamanan dalam menjangkau fasilitas, serta kecocokan realitas di tempat wisata dengan branding yang dilihatnya di media sosial, tentunya menjadi sangat berpengaruh.

Oleh karenanya, ketika suatu tempat wisata tiba-tiba mengubah harga tiket menjadi lebih tinggi saat wisata tersebut mulai dikenal, tentunya wisatawan akan mendapat kesan buruk. Ditambah lagi wisatawan sudah membayar lebih tinggi, tetapi pengalaman yang didapatkannya tak memuaskan, bahkan terkesan buruk. Ini harus menjadi evaluasi oleh berbagai pihak, baik warga lokal yang terlibat dengan tempat wisata, juga pemerintah daerah dan pusat yang mengupayakan tata kelola terbaik. Hal ini akan menjadikan sektor pariwisata Indonesia bukan sekadar tempat untuk berlibur, tetapi juga sebagai kesempatan untuk tumbuh dan belajar.

BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *