Di Balik Layar Kaca Industri Perfilman dan Broadcasting

Selat Media—Orang Indonesia gemar menonton film.

Meski belum mencantumkan data untuk membuktikannya, agaknya kalimat di atas akan diamini oleh sebagian pembaca. Kalau berdasarkan data, pada 2023 lalu, GoodStats mempublikasikan data dari Lembaga Jajak Pendapat mengenai “seberapa lama rata-rata masyarakat Indonesia menonton film melalui aplikasi streaming”. Data menunjukkan bahwa sebanyak 47% responden menonton film lebih dari 30 menit per harinya.

Sementara Hilyah dkk. dalam artikelnya, menyebutkan generasi muda Indonesia, terutama remaja, lebih suka menonton film daripada membaca buku. Hal ini terlihat dari data yang menunjukkan bahwa usia penonton bioskop didominasi oleh para remaja. Hilyah dkk. berpijak pada data yang dirilis oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada tahun 2019, yang mana menunjukkan bahwa 91,5% masyarakat Indonesia berumur 10 tahun ke atas lebih gemar menonton film daripada membaca buku.

Menilik sejarahnya, dunia perfilman, khususnya film layar lebar, mengalami masa kejayaannya di sekitar tahun 1970 hingga 1990-an. Namun setelahnya, dunia film bak menemui ajalnya, sampai ia bangkit kembali pada tahun 2000. Kebangkitan ini diawali dengan film Petualangan Sherina, diikuti oleh Ada Apa dengan Cinta. Setelahnya, seperti yang kebanyakan pembaca ketahui, bahwa industri perfilman berkembang pesat.

Mengutip dari buku Persepsi Masyarakat terhadap Perfilman Indonesia, penonton film masih menganggap film sebagai bentuk hiburan dan pelepasan dari kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan salah satu fungsi film dalam Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 2009, yakni fungsi hiburan. Selain itu, fungsi lain dari film di antaranya ialah fungsi budaya, fungsi pendidikan, fungsi informasi, fungsi pendorong karya kreatif, dan fungsi ekonomi. Saat ini, film Indonesia terpopuler bahkan telah ditonton sebanyak 11 juta kali.

Membaca uraian di atas, tentunya kita dapat menebak bahwa bidang perfilman akan menjadi pilihan menarik di masa depan. Di tengah semakin musykilnya janji 19 juta lapangan kerja ini, mungkin bidang perfilman akan membuka sudut pandang bagi kalian yang sejak awal tertarik dengan dunia perfilman. Buku Profesi dan Proses Bisnis dalam Industri Broadcasting dan Perfilman bisa menjadi teman belajar dalam proses mengenal dunia perfilman ini.

Dalam buku ini, Sofi Pujianto membahas dua hal yang nampak serupa, tapi tak sama, yakni dunia penyiaran (broadcasting) dan perfilman. Jika sejarah penyiaran dunia dimulai sejak ditemukannya radio pada awal abad ke-20, dunia perfilman lahir dari penemuan kamera film oleh Lumière bersaudara pada akhir abad ke-90. Dalam masyarakat modern, kedua industri ini memiliki peran penting dengan fungsinya sebagai alat komunikasi, pendidikan, pengaruh budaya, juga hiburan.

Buku ini juga membahas profesi yang ada dalam tiap industri. Seperti industri penyiaran berisikan produser, sutradara, penulis naskah, editor video, presenter dan penyiar, serta teknisi audio dan video. Sementara profesi dalam perfilman ialah mulai dari produser film, sutradara film, penulis skenario, sinematografer, desainer produksi, dan editor film. Dari pemaparan tersebut, kita dapat melihat bagaimana “mirip”-nya kedua industri ini.

Meski begitu, terdapat beberapa profesi yang hanya ada dalam satu industri saja, seperti presenter dan penyiar, serta teknisi audio dan video dalam industri penyiaran; juga sinematografi dan desainer produksi dalam industri film. Dalam industri penyiaran, presenter dan penyiar adalah wajah dari proses produksi, yang mengemban tanggung jawab untuk menyampaikan informasi dan hiburan kepada audiens dengan menarik dan profesional. Sementara teknisi audio dan video bertanggung jawab dalam memastikan kualitas teknis siaran dengan mengatur, mengoperasikan, serta memelihara peralatan audio dan video, atau sistem penyiaran.

Di sisi lain, sinematografer atau disebut juga direktur fotografi di dunia perfilman bertanggung jawab atas pengambilan gambar dalam produksi film. Ia bekerja sama dengan sutradara dalam mengembangkan dan mengimplementasikan gaya visual film, serta berperan penting pada penentuan cahaya, komposisi, hingga gerakan kamera. Satu profesi lain yang tidak ada dalam industri penyiaran adalah desainer produksi, yaitu profesional yang bertanggung jawab dalam menciptakan dunia visual dalam produksi film, seperti mengembangkan dan mengimplementasikan desain set, kostum, dan properti.

Dalam buku ini, Sofi Pujianto turut membahas proses bisnis dalam kedua industri. Modal dalam industri penyiaran dapat diperoleh dari iklan, langganan, dan sponsor. Sementara dalam industri film, modal diperoleh dari sumber dana tradisional, pendanaan publik, crowdfunding, dan koproduksi. Sumber dana dengan sistem crowdfunding diperoleh pembuat film dengan mengumpulkan dana melalui platform online seperti Kickstarter atau Indiegogo. Sistem ini memungkinkan pembuat film menarik dukungan dari audiens yang lebih luas dan membangun basis penggemar sebelum film dirilis.

Di zaman sekarang ini, untuk menonton film tak perlu kerepotan pergi ke bioskop, sebab sudah menjamur berbagai pilihan platform streaming, seperti Netflix, Amazon Prime Video, Disney+, hingga YouTube. Setiap platform menawarkan layanan yang berbeda, misalnya Netflix dengan berbagai konten salah satunya dokumenter, sementara Disney+ fokus pada konten-konten milik Disney, Pixar, Marvel, Star Wars, dan National Geoghrapic.

Media-media di atas memiliki dampak yang besar bagi kedua industri, di antaranya menawarkan aksesibilitas dan fleksibilitas yang lebih besar, membuka peluang baru dalam kreativitas dan inovasi produksi konten, cara baru untuk memonetisasi konten, hingga memungkinkan adanya analisis data yang lebih baik untuk meningkatkan strategi pemasaran dan konten. Kemajuan teknologi seperti virtual reality, augmented reality, dan artificial intelligence juga berdampak pada peningkatan kualitas konten, efisiensi dan produktivitas, peluang baru untuk kreativitas, serta akesibilitas dan fleksibilitas pula.

Buku ini akan menjadi pilihan bacaan yang menarik bagi pembaca yang tertarik mendalami dunia perfilman juga broadcasting. Hal ini dikarenakan Sofi Pujianto juga membahas mengenai masa depan kedua industri ini. Menurutnya, memiliki pemahaman akan tren sangat penting bagi para profesional di kedua industri tersebut, sehingga konten atau karya yang dihasilkan tetap relevan dan kompetitif. Industri broadcasting dan perfilman yang terus berkembang juga menciptakan peluang karir baru dan menarik bagi para profesional. Hal ini dipengaruhi dengan adanya teknologi baru, perubahan dalam konsumsi media, juga tren industri yang turut berkembang.

Profesi-profesi baru yang disebutkan Sofi Pujianto di antaranya ialah spesialis AI dan machine learning yang berperan dalam pengembangan juga implementasi algoritma AI dalam otomatisasi tugas-tugas produksi, analisis data penonton, serta personalisasi konten. Sementara peluang karir di masa depan salah satunya ialah profesi pengembang konten interaktif, di mana seseorang akan bertanggung jawab menciptakan konten yang memungkinkan penonton untuk berinteraksi bahkan berpartisipasi.

BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *