Ancaman dalam Benturan dan Perpaduan Hibriditas

Ancaman dalam Benturan dan Perpaduan Hibriditas

Membicarakan sejarah Indonesia, mestinya tak bisa lepas dari topik kolonialisme. Dijajah sejak tahun 1509, Indonesia baru bisa memerdekakan diri pada tahun 1945. Pada ilmu sastra, terdapat teori yang digunakan untuk membahas kolonial secara khusus, yaitu teori poskolonial. Iqbal Hilal., dkk, menulis sebuah buku yang berjudul Poskolonial: Hibriditas (Teori dan Praktik) yang membahas teori ini dengan detail.

Hibriditas dipandang sebagai upaya dan perjuangan dari kaum terdominasi untuk mencari alternatif agar bisa setara dengan yang dominan. – Iqbal Hilal., dkk, dalam buku Poskolonial: Hibriditas (Teori dan Praktik)

Iqbal Hilal., dkk, menyebutkan bahwa dalam teori poskolonial yang diusung Homi K. Bhabha, terdapat konsep hibriditas. Hibriditas adalah tanda produktivitas kekuatan kolonial. Kekuatan yang dimaksud di sini ialah proses pembalikan dominasi melalui penyangkalan, yaitu produksi identitas diskriminatif yang mengamankan identitas penjajah. Pada masyarakat jajahan, hibriditas pada dasarnya menyerang beberapa aspek, seperti budaya, politik, ekonomi, dan pendidikan.

Hibriditas memungkinkan kaum terjajah menjadi setara dengan penjajah sebagai kaum dominan, bahkan mampu melampauinya. Hal ini menunjukkan bahwa hadirnya hibriditas dapat melemahkan dominasi kekuasaan kolonial. Wacana politis hibriditas terbentuk ruang ketiga dari percampuran dua budaya, yang di dalamnya terjadi pertarungan budaya dengan tujuan menjadi budaya dominan.

Penulis mencoba membongkar hibriditas dalam dua novel karya Iksaka Banu. Dua novel yang digunakan penulis ialah Pangeran dari Timur dan Sang Raja. Poskolonial digunakan untuk membedah teks sastra yang berorientasi kolonial, dengan pertimbangan bahwa sastra adalah produk imajinasi seorang pengarang yang berangkat dari refleksi gejala sosial yang pernah terjadi dalam konteks lingkungan masyarakat.

Iqbal Hilal., dkk, mengidentifikasi tiga bentuk hibriditas yang ada dalam novel Pangeran dari Timur. Salah satunya ialah cara berpakaian. Pada masa kolonial, pribumi biasanya menggunakan model pakaian yang tertutup serta tradisional, yang mencirikan kebudayaan Hindia. Sementara Belanda hadir dengan modernitasnya, dan berpakian dengan gaya yang lebih terbuka. Hal ini akhirnya memengaruhi kehidupan pribumi dalam novel. Tak hanya masyarakat biasa, tetapi juga bangsawan, khususnya golongan keraton.

Sementara dalam novel Sang Raja, hibriditas yang diidentifikasi Iqbal Hilal., dkk, ialah pendidikan. Salah satu tokoh yakni Yu Djoem, beranggapan bahwa pendidikan ialah jalan satu-satunya menuji status sosial yang tinggi di tengah kolonial Belanda juga masyarakat Pribumi. Anggapan ini akhirnya membuat Yu Djoem mengenyam pendidikan Belanda.

Fokus dari kajian poskolonial bukan hanya ketika kolonialisme berlangsung, tetapi setelah kolonialisme berakhir hingga hari ini. – Iqbal Hilal., dkk, dalam buku Poskolonial: Hibriditas (Teori dan Praktik)

Melalui identifikasi yang diuraikan Iqbal Hilal., dkk, dari kedua novel karya Iksaka Banu, kita dapat merefleksikan perilaku hibriditas dalam realitas masa kini. Masyarakat Indonesia kini tengah mengkritik keras pemerintah yang dianggap gagal untuk mengatasi masalah-masalah, salah satunya ialah korupsi, kemiskinan, hingga anggaran yang tak tepat sasaran walau telah dilakukan efisiensi.

Dikarenakan situasi yang seperti ini, muncullah narasi di media sosial, khususnya X, yang intinya berbunyi, “Mending Indonesia masih di bawah jajahan Belanda”, atau “Mending Indonesia menjadi negara bekas jajahan Inggris aja, jadi sekarang maju.” Salah satu akun yang mencuitkan narasi senada ialah @potatoechiepps. Ia menuliskan, “Barusan udah baca sejarah tentang negara bekas jajahan Inggris. Dan rata-rata negara tersebut lebih maju ketimbang negara bekas jajahan negara Belanda atau Spanyol. Sempat terlintas dipikiran, ‘Mending dijajah Inggris aja 3,5 abad, siapa tau Indonesia bisa jadi negara metropolitan.’”

Narasi-narasi yang muncul ini tentunya adalah perilaku hibriditas pasca kolonialisme, dikarenakan situasi pemerintahan yang dianggap buruk. Padahal, ada juga negara yang memerdekakan diri setelah dijajah bangsa lain dan menjadi negara maju, seperti Korea Selatan. Tentunya, ini menjadi kritik keras bagi pemerintah Indonesia, yang membuat situasi negara dianggap buruk oleh masyarakat, sehingga perilaku hibriditas seperti ini dapat berkembang.

Buku Poskolonial: Hibriditas (Teori dan Praktik) menjadi pilihan tepat bagi pembaca yang ingin memahami lebih jauh terkait poskolonial, khususnya pada konsep hibriditas. Dengan memahami lebih jauh terkait hibriditas, pembaca akan lebih kritis dan peka terhadap perilaku-perilaku yang mengarah pada konsep hibriditas, dan menyikapinya dengan lebih baik lagi. Buku ini juga cocok bagi pembaca yang membutuhkan referensi atau sumber sekunder untuk penelitian dengan perspektif yang sejenis, dikarenakan dalam buku ini, Iqbal Halil., dkk, melakukan identifikasi konsep hibriditas pada dua novel karya Iksaka Banu.

Baca Selengkapnya

BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *