Selat Media—Pernahkah kalian berada di suatu tempat yang tinggi, lalu merasakan jantung kalian berdebar kencang, pusing, bahkan sampai mual? Atau, kondisi itu muncul saat kalian melihat darah, laba-laba, lautan, maupun saat berada di ruangan sempit dan tertutup. Kamus mendefinisikan perasaan ini dalam sebuah kata “fobia”, yaitu sebuah ketakutan berlebihan akan sesuatu yang bahkan bisa mengganggu kehidupan penderitanya. Sementara Arfensia dkk. (2024) menjelaskan fobia sebagai “ekspresi dari ketakutan terhadap objek atau situasi tanpa adanya bahaya”.
Di buku Goyah: Vertigo Visual sebagai Metode Estetis, kita diajak Nofrizaldi untuk mengulik fobia lebih dalam melaui karya seni. Dari proses lahirnya karya seni itu, ia menyadari bahwa menghadapi objek ketakutan melalui seni bukan berarti menguasainya atau mengalahkannya. Melainkan belajar hidup bersamanya dengan cara yang berbeda. Kalimat tersebut ia dapatkan dari Lutse Lambert Daniel Morin, seorang seniman yang fobia terhadap laba-laba, tetapi malah membuat karya instalasi patung laba-laba berukuran besar.
Ketakutan sering kali berhubungan dengan respons psikologis, yang mana mungkin saja ketakutan atau fobia dapat disembuhkan melalui terapi. Namun, Nofrizaldi memilih tidak melakukannya. Bukannya ia menolak nilai-nilai terapi, melainkan ia menyadarinya ada asumsi yang tertanam di balik pertanyaan “mengapa tidak terapi” itu. Asumsi yang ia ingin tantang alih-alih menyetujuinya secara langsung: ketakutan adalah sesuatu yang mesti dieliminasi, dikurangi, disembuhkan. Asumsi bahwa tubuh yang ideal adalah tubuh yang berhenti merespons seperti itu.
Fobia yang dirasakan Nofrizaldi bermula dari Sungai Sinamar. Sungai itu mengalir di Nagari Halaban, Sumatera Barat, yang mana merupakan kampung halamannya. Sungai Sinamar tidak besar atau semegah sungai dalam dongeng. Ia hanyalah sungai kampung yang berbatu, berwarna kecoklatan yang kemudian berubah merah ketika hujan turun, dengan tepinya berhiaskan pepohonan rindang berakar besar dan sering digunakan masyarakat sekitar untuk memancing.
Saat itu, dirinya tengah berenang di Lubuak Lompek. Nofrizaldi pun tak paham dan tak ingat apa yang tepatnya terjadi saat itu. Mungkin arus sungai bergeser, mungkin kakinya salah menolak, atau mungkin ada sesuatu di dalam sungai yang menarik dirinya sampai tubuhnya hilang kendali. Tubuhnya terseret oleh arus yang biasanya bisa dikendalikan dirinya. Dirinya memang selamat dari kejadian itu, tetapi setelahnya, Nofrizaldi tak pernah kembali ke dalam air.
Tubuhnya menjadi bereaksi terhadap air yang memiliki kedalaman tertentu. Nofrizaldi tidak bisa berdiri di tepi kolam renang tanpa mera sakan sesuatu yang bergetar di dalam dada. Ia juga tidak bisa merasa nyaman di pinggir hamparan laut yang terlalu luas; ada pusing yang samar, yang tidak pernah cukup kuat untuk dikeluhkan dan tidak pernah cukup lemah untuk diabaikan. Hanya dengan memandang air saja, tubuhnya mulai berbicara dalam bahasa yang tidak selalu dimengerti: detak jantung yang berubah, ketegangan di rahang, napas yang bergeser ritmenya.
Akhirnya, Nofrizaldi mencoba kembali ke sungai itu. Setelah bertahun-tahun tubuhnya diselimuti trauma, ia akhirnya mencoba kembali lagi. Di kali pertama itu, ia merasa ketakutan dan nostalgia hadir bersama, yang mana melahirkan emosi yang tidak stabil. Meski sudah membekali diri dengan literatur untuk menyiapkan dirinya menghadapi sungai, tubuhnya tetap saja bereaksi sama: tubuh menjaga jarak dan kaki menolak untuk mendekat ke sungai.
Di percobaan selanjutnya, Nofrizaldi bereksperimen dengan tak hanya membawa niat untuk berdamai dengan sungai, tetapi juga “sebuah kegiatan”. Ia akhirnya memutuskan untuk memancing bersama teman-teman masa kecilnya. Dulunya, memancing adalah kegiatan favoritnya. Namun, setelah tenggelam, Nofrizaldi tak pernah mengulang kenangan itu lagi. Di percobaan ini, terjadi perubahan yang sederhana: air berubah dari sesuatu yang menakutkan menjadi sesu atu yang menantang.
Saya tidak mengakrabi ketakutan saya dengan menghadapinya. Saya mengakrabinya dengan mengurus hal lain di dekatnya.
Ketakutan yang dideritanya bukanlah semata-mata badai yang datang dan tak bisa dihindari. Ketakutan bagi Nofrizaldi bukan lagi semata-mata sebagai sesuatu yang menimpanya, melainkan dapat diamati dan deskripsikan. Ia memiliki bagian, pemicu yang bisa disebutkan, juga pola yang terbaca. Maka dari itu, ketakutan bisa dibongkar. Nofrizaldi membaginya menjadi tiga: tekanan fisik pada tubuh, ketegangan visual, dan ilusi gerakan yang tercipta.
Lebih jauh lagi, Nofrizaldi membahas vertigo visual dalam buku ini, yang mana mengantarkannya dalam melahirkan karya “Gelombang Cahaya”. Namun sampai di bagian ini, kiranya kita dapat memaknai proses yang dilakukan Nofrizaldi sebagai sebuah “mekanisme koping”. Istilah ini didefinisikan sebagai cara seseorang dalam merespons dan mengelola tekanan sehingga dapat tetap beradaptasi. Biasanya, istilah ini digunakan untuk orang-orang dalam menghadapi stres, overwhelmed, atau burn out.
Terlepas dari fobianya terhadap air, ia juga menjadi topik utama Nofrizaldi dalam karya-karyanya. Alih-alih merasakan takut dan menghindari, seni menjadi mekanisme koping yang dipilih Nofrizaldi untuk berhadapan dengan fobianya. Ia memandang fobianya bukan sebagai sesuatu yang harus “disembuhkan”, melainkan ia mencoba mencari jawaban atas apa yang terjadi dalam tubuhnya ketika berhadapan dengan air: sesuatu yang berhubungan dengan histori.
Jika didasarkan pada dua jenis mekanisme koping dalam artikel yang ditulis Inayah dan A. (2008), Nofrizaldi memilih mekanisme koping adaptif, ialah usaha yang bersifat positif, rasional, dan konstruktif. Hal ini memperlihatkan kepada kita bahwa menghadapi ketakutan dalam diri kita tidak selalu dengan cara buruk, dan akan berakhir buruk. Sebab, memang menghadapi ketakutan juga bukan semata-mata berhadapan dengan “kesembuhan”, atau berdamai sepenuhnya dengan ketakutan tersebut.
Atau apakah yang terjadi dalam buku ini bukan perdamaian sama sekali, melainkan sesuatu yang berbeda: kemampuan untuk hidup bersama ketegangan itu, tanpa memenangkannya dan tanpa dikalahkannya.



