Calistung: Menguak Gunung Es Permasalahan Guru

Calistung: Menguak Gunung Es Permasalahan Guru

Di tahun ajaran 2025/2026 ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menghapus persyaratan tes membaca, menulis, dan berhitung (calistung) dari proses seleksi penerimaan siswa baru di tingkat sekolah dasar (SD). Mengutip dari Tempo, ketentuan ini tercantum dalam Peraturan Mendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025, mengenai Sistem Penerimaan Murid Baru untuk tahun ajaran 2025/2026. Hal ini disebutkan guna untuk memberikan kesempatan yang setara bagi semua anak tanpa membedakan kemampuan awal akademik mereka.

Aturan ini sejalan dengan isi surat edaran Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, nomor 1839/C.C2/TU/2009 mengenai Penyelenggaraan Pendidikan Taman Kanak-Kanak dan Penerimaan Siswa Baru Sekolah Dasar. Di dalam aturan ini, disebutkan bahwa tidak diperbolehkan mengajarkan calistung pada jenjang pendidikan PAUD atau TK. Yang diperbolehkan hanyalah memperkenalkan saja, entah bentuk huruf atau angkanya, tanpa mengajarkannya secara formal.

Guntur., dkk, dalam bukunya yang berjudul Pengembangan Bahasa pada Anak Usia Dini, menjelaskan terkait bagaimana perkembangan bahasa pada anak usia dini seharusnya. Masa usia dini merupakan masa yang unik, dikarenakan pada masa ini, seluruh aspek perkembangan bertumbuh dan berkembang dengan cepat. Terdapat beberapa aspek perkembangan anak, seperti aspek kognitif, moral, agama, bahasa, fisik, dan sosial-emosional. Buku ini akan berfokus membahas aspek perkembangan anak berupa bahasa.

Mengutip Jamaris, Guntur., dkk, menjelaskan bahwa terdapat dua karakteristik perkembangan bahasa anak usia dini. Pertama ialah pada usia empat (4) tahun, terjadi perkembangan yang cepat dalam kemampuan bahasa anak, ditandai dengan anak dapat menggunakan kalimat dengan baik dan benar. Selain itu, anak terindikasi sudah menguasai 90% fonem dan sintaksis bahasa yang digunakan, serta dapat berpartisipasi dalam suatu percakapan, baik mendengarkan juga menanggapi.

Karakteristik kedua ialah pada usia anak 5—6 tahun, anak sudah dapat mengungkapkan lebih dari 2,5rb kosakata dengan lingkup kosakatanya ialah warna, ukuran, bentuk, rasa, bau, keindahan, kecepatan, suhu, perbedaan, perbandingan jarak, dan permukaan. Selain itu, anak dalam usia ini dapat melakukan peran pendengar yang baik, dan berpartisipasi dalam suatu percakapan, yaitu dengan menanggapi pembicaraan. Percakapan anak pada usia ini meliputi berbagai komentarnya terhadap apa yang dilakukan dirinya sendiri dan orang lain, juga apa yang dilihatnya. Untuk kategori usia ini, anak sudah dapat melakukan ekspresi diri, menulis, membaca, bahkan berpuisi.

Sementara, menurut Zulkifli dalam buku ini, perkembangan bahasa terbagi atas dua periode besar, yaitu periode prelinguistik (usia 0—1 tahun) dan linguistik (usia 1—5 tahun). Periode linguistik menjadi saat paling menakjubkan bagi orang tua, karena hasrat mengucapkan kata-kata pada anak mulai muncul. Periode linguistik ini dibagi menjadi tiga fase besar, yakni holofrase (satu kata), fase lebih dari satu kata, dan fase diferensiasi. Holofrase ditandai dengan anak yang menggunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang kompleks, baik itu keinginan, perasaan, atau temuannya, tanpa perbedaan yang jelas.

Fase kedua, yaitu lebih dari satu kata, muncul pada usia anak sekitar 18 bulan. Anak pada fase ini mulai dapat membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Kadang-kadang, kalimat tersebut terdiri dari pokok kalimat dan predikat, atau pokok kalimat dengan objek, atau sederhananya tata bahasanya belum baik. setelah dua kata, akan muncul tiga kata, diikuti empat kata, dan seterusnya, menandakan bahwa bahasa yang digunakan anak pada fase ini tak lagi egosentris, dan anak mulai berkomunikasi secara lancar.

Terakhir, ialah fase diferensiasi. Fase ini berlangsung pada periode terakhir balita yang berlangsung pada umur 2,5—5 tahun. Melalui fase ini, keterampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Tak hanya mulai mengucapkan kata sesuai jenisnya (kata kerja atau kata benda), tetapi anak juga telah mampu menggunakan kata ganti orang pertama dalam menyebutkan dirinya, juga dalam bentuk jamak, awalan, dan akhiran. Di fase ini, anak mulai bisa mengkritik, bertanya, menjawab, memerintah, memberi tahu, dan bentuk kalimat lain.

Guntur., dkk, juga menjelaskan mengenai stimulasi bahasa pada anak. Stimulasi bahasa ditinjau dari asal atau sumber bahasa diartikan sebagai stimulasi yang diperoleh anak, atau darimana stimulasi tersebut berasal. Asal dari stimulasi ini dapat diperoleh dari berbagai sumber. Membahas mengenai sumber berbahasa pertama dalam perkembangan anak, tentunya orang tua memiliki peran penting dalam pemberian stimulasi pada anak. Contohnya ketika masa prakelahiran, ibu atau ayah sering mengajak berbicara, membacakan buku cerita, atau memperdengarkan musik. Semakin banyak stimulasi yang diberikan, maka perkembangan bahasa anak akan semakin baik, dan stimulasi ini membangun perkembangan kognitif dan bahasa janin.

Sumber berbahasa kedua yang disebutkan dalam buku ini berasal dari gawai atau media elektronik. Gawai menawarkan banyak aplikasi yang dapat menstimulasi kemampuan berbahasa anak. Beberapa aplikasi bahkan menyajikan video anak-anak yang dapat digunakan dalam pemberian stimulasi. Namun, penggunaan gawai tetap harus mendapatkan pengawasan khusus dari orang tua, juga membatasi dalam penggunaannya. Hal tersebut dilakukan agar anak tidak merasa kecanduan akan penggunaan gawai atau media elektronik. Melalui aktivitas menyimak media elektronik, anak dapat menambah kosakata, kalimat sederhana, juga belajar pelafalan yang tepat.

Membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit, melibatkan banyak hal, dan tidak hanya sekadar melafalkan tulisan. Di dalam aktivitas membaca, melibatkan pula aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif.  Pengajaran membaca permulaan lebih ditekankan kepada pengembangan kemampuan dasar membaca, yaitu kemampuan untuk dapat menyuarakan huruf, suku kata, kata, dan kalimat yang disajikan dalam bentuk tulisan ke dalam bentuk lisan.

Kemampuan atau aktivitas membaca meliputi dua proses, yakni proses membaca teknis dan proses memahami sebuah bacaan. Proses membaca teknis ialah proses memahami hubungan antara huruf dengan bunyi atau suara, dengan mengubah simbol-simbol tertulis berupa huruf atau kata yang menjadi sistem bunyi. Sementara proses memahami sebuah bacaan ialah kemampuan anak dalam menangkap makna kata yang tercetak dalam suatu bacaan. Saat usia taman kanak-kanak, anak berada pada tahap membaca secara teknis, yakni hanya memahami hubungan antara huruf dengan bunyi atau suara, dengan mengubah simbol tertulis berupa huruf atau kata, dan melalui media kartu kata bergambar, maka anak akan belajar mengenal huruf, menggabungkan huruf menjadi suku kata, atau kata, dengan dilengkapi gambar yang akan memudahkan anak mengingat simbol tulisan.

Melalui penjelasan dari buku Guntur., dkk, maka bahasa dalam perkembangan anak memang memiliki masanya sendiri. SD tak lagi mewajibkan anak didiknya yang akan mendaftar untuk lolos tes calistung. Namun, lagi-lagi persoalannya menjadi beban guru.  Diantka melalui artikel berjudul Ketika Jumlah Siswa di Kelas Terlalu Banyak: Apakah Proses Pendidikan dan Pengajaran Berlangsung Efektif?, membagikan pengalamannya yang telah mengajar sejak 2007 di berbagai jenjang pendidikan. Menurut Permendikbud Ristek Nomor 1 Tahun 2021, jumlah maksimal siswa dalam satu kelas adalah 36.

Diantka menyebutkan bahwa jika boleh menawar, pasti setiap guru ingin mengajar siswa dengan jumlah lebih sedikit, agar fokus guru dan siswa terjaga, serta tujuan pembelajaran mudah tercapai. Ia membandingkan kala dirinya mengajar kelas berisikan 22 siswa dengan 36 siswa. Siswa berjumlah 36 dalam satu kelas, menurut Diantka, sangat menguras energi. Ia sering lupa, atau tertukar nama siswa, dan banyak kendala yang lainnya, yang membuat Diantka merasa hal tersebut sangat melelahkan.

Oleh karenanya, ketika dibenturkan dengan siswa dalam satu kelas yang mencapai 30-an, lalu semuanya hampir belum bisa membaca dan menulis, tetapi kurikulum kelas satu SD mengharuskan murid memahami materi dalam sebuah buku pelajaran secara keseluruhan. Hal ini dijabarkan oleh Mbah Din-X dalam artikel opini yang diunggah Mojok. Artikel yang diunggah pada tahun 2019 ini, agaknya masih relate dengan kondisi sekarang. Mbah Din-X mengambil contoh dari buku tema kelas satu SD pada saat itu, yang berjudul Diriku, dengan tebal 170 halaman.

Di dalam artikel ini, Mbah Din-X menyebutkan bahwa pelajaran membaca dan menulis pada khasanah pendidikan kita itu ibarat anak haram—ada tetapi tidak dianggap. Di level TK tidak boleh diajarkan sedangkan di level Sekolah Dasar tidak mungkin diajarkan. Entah pepatah apa yang tepat untuk menggambarkan keadaan tersebut. Hal ini tentunya menambah beban mengajar guru SD. Murid yang belum bisa calistung, dihadapkan dengan materi yang harus dikuasai murid melalui praktek membaca. Lantas, bagaimana hal ini masuk akal?

Pengembangan Bahasa pada Anak Usia Dini

BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *