Di Balik Takdir “Benang Merah”
The universe had placed her there on purpose, as a sign or maybe as fate itself—something he would only come to understand slowly, over time. — Athalita Putri Menoya dkk., dalam Solace
Bayangkan di tengah kamu menjalani hari-hari monotonmu—bekerja, pulang ke rumah, tidur untuk beberapa jam, lalu bangun lebih awal lagi untuk kembali bekerja—kamu bertemu seseorang yang menawan, bahkan tuturmu langsung menyatakan bahwa orang itu adalah tipe idealmu. Kalian berkenalan, lalu menjadi lebih dekat dalam waktu sepekan saja. Namun, tiba-tiba kamu melihat pujaan hatimu itu terkapar dengan pisau menancap pada perutnya di hari kalian berjanji bertemu, di hari kamu telah memantapkan keberanian untuk menyatakan perasaanmu padanya.
Menyedihkan … atau mungkin malah mengerikan …?
Hal inilah yang dialami Kentarou dalam novel Solace karya Athalita Putri Menoya dkk. Hidupnya yang monoton dan membosankan, berubah sepenuhnya ketika ia bertemu Reina. Interaksi pertama keduanya terjadi saat seorang copet hendak mengambil tas Reina, Kentarou yang menyaksikannya, lantas otomatis bergerak membantu Reina.
Setelah kematian Reina, Kentarou berujung menjadi tersangka. Tersangka atas penyebab kematian gadis yang disukainya, gadis yang hampir mengetahui perasaannya. Sebab hanya Kentaroulah yang ditemukan bersama jasad Reina yang bersimbah darah di gang itu. Apalagi tangannya menggenggam pisau yang terus meneteskan darah Reina ke jalanan yang dingin. Namun, karena kurangnya bukti, Kentarou dibebaskan dengan pengawasan.
Setelah dibebaskan, rasa penasaran terus menghantui diri Kentarou. Siapa yang begitu tega membunuh seseorang yang ia cintai? Gadis cantik bak malaikat di mata Kentarou itu. Akhirnya, ia bersama temannya, Kaito, memulai misi pengungkapan pembunuh Reina. Keduanya mencoba menelusuri tempat-tempat yang sering dikunjungi Reina semasa hidupnya. Perjalanan itu membawa keduanya pada dua tersangka lain—Nami yang terobsesi menjadi serupa Reina, dan Ryo, mantan sekaligus cinta pertama Reina yang bertemu dengan Reina seminggu sebelum insiden itu terjadi.
Namun, gerbang misteri tidak berakhir sampai di sana. Kentarou selalu mengingat dan memikirkan apa maksud kalimat terakhir yang ia dengar dari mulut Reina kala dirinya bersimbah darah. Gadis itu berharap pertemuan antara keduanya tak pernah terjadi. Pertemuan yang mengubah hidup monoton Kentarou. Kenyataan pahit akan sosok Reina yang terhubung pada masa lalu Kentarou, menghadirkan sosok yang sebenarnya ramah dalam bangun memorinya, Shirayuri Reika.
Novel Solace mengajak kalian pada labirin misteri akan kematian Reina. Melalui sudut pandang orang ketiga yang menjadi mayoritas, kehidupan Reina dan Reika seolah menjadi takdir yang mengikat dalam hidup Kentarou. Ia jatuh cinta dua kali pada gadis yang sama, pada gadis yang telah mengkhianatinya, juga gadis yang ia perjuangkan untuk menjadi pasangan hidupnya.
Membaca novel ini, mungkin kita diingatkan pada teori benang merah yang ternama dari legenda Tiongkok dan kepercayaan Jepang (unmei no akai ito). Menurut Naja dan Nasruddin, teori ini menyebutkan bahwa setiap individu memiliki ikatan dengan orang-orang yang memiliki peran penting dalam hidupnya. Ikatan ini terjalin melalui benang merah, atau benang takdir yang dikehendaki dan tak terlihat.
Teori ini, sebut Hasibuan dalam artikelnya, menjadi narasi dominan dalam media digital dan sasrra populer, yang mana sering kali mengabaikan dimensi filosofis yang lebih dalam dari teori benang merah ini. Sebenarnya, teori benang merah ini menyimpan pertanyaan yang jauh lebih dalam dan fundamental, salah satunya adalah “mengapa manusia cenderung memaknai pertemuan penting dalam hidupnya, sebagai bagian dari takdir?”
Secara ilmiah, tidak ada temuan yang membuktikan keberadaan teori ini. Namun, dunia sains mengenalnya dengan teori keterikatan (attachment theory), yang menyatakan bahwa keterikatan emosional yang terbentuk sejak usia dini dapat berlanjut hingga dewasa, membawa seseorang pada hubungan romantis. Hal ini memengaruhi siapa yang dianggap “jodoh” atau pasangan ideal.
Kentarou yang telah memilih berpisah dengan Reika, gadis yang akan dinikahinya, dikarenakan pengkhianatan yang tak ditoleransi oleh Kentarou, kembali jatuh hati kepada Reina, gadis yang sama. Padahal, kecelakaan membawa Kentarou pada keadaan “enggan” mengingat sosok Reika-Reina yang membuatnya mengalami trauma ini. Hal ini memperlihatkan bahwa tak ada yang bisa memutuskan benang merah antara Kentarou dengan Reika.
Disebutkan pula bahwa Kentarou yang jatuh cinta dengan Reina, terjadi di luar kendali Kentarou. “No, I’m not crazy. I liked her because it came from my heart. Purely. I’ve never bee that sure about anyone else.” Kalimat ini menunjukkan bahwa Kentarou yang mencintai Reina dalam waktu yang singkat, adalah sebuah kejadian yang alami, bahkan tak pernah diperhitungkan dirinya sendiri. Tubuhnya seolah mengirim sinyal bahwa Reina adalah “takdirnya”, gadis yang “harus” dicintainya.
Solace mungkin adalah novel fiksi yang dibalut romantisme, tetapi ia juga mungkin adalah pintu kecil yang terbuka pada kita, untuk menyelami kehidupan yang penuh misteri. Teori benang merah mungkin tidak terbukti dalam sains. Namun, mungkin orang yang memiliki takdir dengan kita memang memiliki jalannya sendiri untuk datang kepada kita. Tanpa kita ketahui, bahkan tanpa kita kehendaki.


