Di Balik Wajah Bengis Peperangan

Di Balik Wajah Bengis Peperangan

Perang antara Israel-AS dengan Iran yang pecah pada 28 Februari 2026 lalu, berdampak besar pada seluruh negara. Situasi ini membuat eskalasi konflik di Timur Tengah meningkat. Selain itu, perang ini juga berdampak ke sektor ekonomi dunia, sebab adanya saling sandera, atau blokade di Selat Hormuz. Mengutip dari laman BBC, Selat Hormuz adalah salah satu jalur pengiriman minyak tersibuk di dunia, yang umumnya sebanyak 20% minyak dan gas alam cair biasanya didistribusikan melalui selat ini.

Penutupan Selat Hormuz tentunya berakibat besar pada seluruh negara. Osmond Chia dalam artikelnya yang berjudul “Negara-negara di Asia mulai antisipasi gejolak harga minyak, Presiden Prabowo singgung BBM dari sawit hingga tebu”, menyebutkan bahwa negara-negara di Asia Timur terkena dampak yang sangat parah, karena pasokan energi yang sangat bergantung pada rute laut strategis Selat Hormuz.

Selain itu, media pers, baik nasional maupun internasional, terus mengawal peperangan ini. Strategi, senjata yang diluncurkan, pernyataan kedua belah pemimpin, hingga potensi perdamaian; menjadi berita yang mudah ditemukan. Perhatian publik tentunya mengarah pada bagaimana skala peperangan tersebut, terlebih untuk para pemimpin negara dalam mengambil sikap.

Namun, di tengah pemberitaan perang yang begitu masif ini, kita sering kali terlupa dengan keadaan masyarakat negara yang tengah berperang. Masyarakat yang kehilangan ruang aman, yang dipaksa berdamai dengan alarm peringatan rudal, hingga anak-anak yang kehilangan sekolah, ruang bermain, dan seterusnya. Kehidupan akan terus berjalan, begitu juga untuk masyarakat yang terus bertahan di tengah kejamnya peperangan.

 I Nyoman Arya Setiawan dalam bukunya yang berjudul Catatan Liputan Perang di Ukraina mengajak kita untuk melihat sisi lain dari perang. Di bagian awal, Arief Muhammad Basalamah—Duta Besar LBBI RI untuk Ukraina, menyebutkan bahwa perang bukanlah semata-mata isu geopolitik, tetapi juga tragedi kemanusiaan yang memengaruhi kehidupan jutaan warga sipil. Melalui sudut pandang seorang jurnalis, potret akan perang menjadi penting, sehingga dunia tak hanya melihat angka, strategi, atau peta militer saja dari sebuah perang, melainkan juga wajah-wajah yang terdampak.

Di balik laporan tentang ledakan dan pertempuran, ada kisah-kisah yang lebih hening, tetapi sama kuatnya. Foto-foto yang saya abadikan dari Ukraina ini bukanlah tentang garis depan, melainkan tentang denyut nadi sebuah kota yang menolak menyerah. Mereka merekam kontras yang menyayat hati: antara kesedihan mendalam dan ketahanan yang tak tergoyahkan.

—I Nyoman Arya Setiawan dalam buku Catatan Liputan Perang di Ukraina

Melalui buku ini, Arya Setiawan mengajak kita untuk melihat sudut-sudut Ukraina yang terimbas oleh perang dengan Rusia. Perang antarkedua negara ini telah berlangsung sejak 2022, hingga saat ini, dan belum menunjukkan tanda kapan akan berakhir.

Selain menyasar garis depan, markas militer, atau gudang persenjataan; serangan militer Rusia juga menyasar infrastruktur energi di berbagai kotadi Ukraina, yang mengakibatkan para warga kekurangan pasokan energi listrik, bahkan kehilangan tempat tinggal. Keterbatasan pasokan energi tersebut membuat pemerintah Ukraina memberlakukan pemadaman listrik bergilir, sehingga membuat warga Ukraina harus melengkapi tempat tinggalnya dengan sumber cadangan energi, yakni mesin genset.

Selain warga yang harus berdampingan dengan keterbatasan, Arya Setiawan juga menceritakan beberapa monumen yang didirikan oleh warga Ukraina, untuk mengenang orang-orang yang gugur dalam perang. Salah satu monumen itu adalah Stina Pamiati, atau Dinding Memori Pembela yang Gugur. Pada dinding ini, ribuan wajah tersusun rapi, mewakili satu nyawa yang telah berjuang dan gugur dalam kehormatan.

Salah satu cerita yang menarik dalam buku ini adalah bagaimana kata “sirene” atau “alarm” sering disebutkan oleh Arya Setiawan. Dalam perang ini, Ukraina berinovasi terhadap pemanfaatan teknologi, dengan menghadirkan pelayanan publik yang dapat diakses melalui perangkat seluler. Ukraina mengembangkan sistem peringatan dini berupa yang terintegrasi antara radar militer dan satelit, dengan perangkat seluler milik warga, dinamakan Air Alert.

Melalui alarm peringatan ini, masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan, dan terbukti telah menyelamatkan banyak nyawa. Namun, disebutkan oleh Arya Setiawan pula, bahwa aplikasi ini juga membawa tantangan psikologis. Ponsel milik Arya dan rekannya, Fajri, terus mengeluarkan suara sirene ketika militer Rusia melakukan serangan ke berbagai wilayah di Ukraina.

Suara sirene yang terus meraung-raung, lalu suasana yang berubah menjadi sunyi dan mencekam, dan akhirnya terdengar ledakan keras yang menggetarkan tanah dan bangunan; tentunya memberikan tekanan batin yang kuat terhadap warga Ukraina. Terlebih rangkaian situasi tersebut adalah keadaan yang mereka alami hampir setiap harinya. Hal ini menunjukkan bahwa realitas di balik perang tak pernah sesederhana itu, jika ditilik dari kacamata sipil.

Namun, di tengah kesedihan dan mencekamnya situasi perang, Arya Setiawan juga memotret bagaimana masyarakat yang selalu menemukan cara untuk bertahan. Di sebuah lembah bersalju bernama Protasiv Yar—tak jauh dari Ibukota Ukraina, Kyiv—sejumlah warga dengan dibalut pakaian tebal, menuruni lereng menggunakan papan ski dan tongkat bantu. Wajah mereka semringah, seakan perang hanyalah cerita masa lalu.

Bagi warga Kyiv, bermain ski memberikan kebebasan dari ruang bawah tanah ketika mencari perlindungan dari serangan militer Rusia. Lereng Protasiv Yar menjadi sebuah “benteng harapan”, tempat di mana mereka dapat mengingat kembali, bahwa mereka juga masih memiliki hak dan kebebasan atas kehidupan normal.

Mengapa orang masih datang ke sini, bermain ski di tengah perang? Jawabannya sederhana, tetapi sarat makna: mereka mencari kehidupan di tengah kematian, normalitas di tengah kekacauan.

—I Nyoman Arya Setiawan dalam buku Catatan Liputan Perang di Ukraina

Dapatkan bukunya di sini!

SHARE THIS :
BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *