Dinamika Tipe Kepribadian dalam Tubuh Pendidikan
Gen Z mungkin sudah tidak asing lagi dengan MBTI, atau Myers-Briggs Type Indicator. Salah satu yang terkenal dari tipe kepribadian ini ialah istilah introver dan ekstrover. Sederhananya, introver cenderung mengisi ulang “energi”-nya saat sedang sendiri, sehingga ia lebih memilih interaksi dengan satu hingga dua orang daripada kelompok besar. Sebaliknya, tipe kepribadian ekstrover memperoleh banyak energi saat berinteraksi dengan orang lain, sehingga menjalin relasi sosial adalah kegemarannya.
Biasanya, tipe kepribadian ini digunakan gen Z untuk mengakrabkan diri, mengenal satu sama lain lebih dekat. Namun, Aminah Zuhriyah dalam bukunya yang berjudul Relasi Kepekaan Lingkungan dengan Model Pembelajaran dan Tipe Kepribadian menggunakan tipe kepribadian ini untuk melihat bagaimana pengaruhnya dengan pembelajaran akan kepekaan lingkungan. Menurut Aminah Zuhriyah, hal ini dikarenakan kepribadian berperan dalam menentukan bentuk emosional, perilaku, dan kognitif individu.
Dijelaskan bahwa kepekaan lingkungan adalah sifat individu yang umum, dapat diwariskan bahkan dilestarikan secara evolusioner. Kepekaan lingkungan menggambarkan variasi di antara individu berkaitan dengan sensitivitasnya terhadap rangsangan lingkungan, baik negatif maupun positif. Sederhananya, kepekaan lingkungan merupakan prediktor perilaku utama yang bertanggung jawab terhadap lingkungan secara signifikan. Salah satu contoh dari kepekaan lingkungan adalah munculnya keinginan membuang sampah, tetapi menolak membuangnya jika tidak ada tempat sampah yang layak.
Pendidikan lingkungan penting untuk diintegrasikan dalam pembelajaran untuk merangsang kemampuan kognitif siswa dalam memahami fenomena alam. Selain itu, pendidikan lingkungan dinilai efektif untuk menumbuhkan sifat peka untuk menyelamatkan lingkungan dari kerusakan yang lebih parah lagi. Kemampuan untuk merasa lebih peka terhadap lingkungan melibatkan pancaindra dalam berinteraksi dan memahami lingkungan sekitar, yaitu melalui kemampuan merasakan, merespons, dan mengamati perubahan yang terjadi di lingkungannya.
Dalam bukunya, Aminah Zuhriyah turut membahas mengenai tipe kepribadian lebih jauh. Ia menilai bahwa kepribadian adalah atribut mendasar dalam diri manusia. Kepribadian mengacu pada karakteristik individu, di mana dapat terlihat pola konsisten seperti emosi, pendapat, dan perilaku individu. Perilaku manusia juga dinilai paling kompleks dalam alam ini, karena mereka memiliki kemampuan untuk memahami lingkungan, yang mana memengaruhi sikap dan perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungan.
Untuk melihat relasi antara kepekaan lingkungan dengan tipe kepribadian, Aminah Zuhriyah menghadirkan konsep model pembelajaran kolaboratif, yakni jenis pembelajaran aktif untuk sekelompok siswa. Pembelajaran ini lebih banyak melibatkan aktivitas siswa dalam mengakses berbagai informasi, serta membahas dan mengkaji pengetahuan dalam pembelajaran di kelas.
Alih-alih berfokus pada guru yang berbasis ceramah, model pembelajaran kolaboratif dilaksanakan melalui kelompok kecil yang berpusat pada siswa melalui interaksi intensifnya antarteman sebaya, juga interaksinya bersama guru. Oleh karenanya, melalui kegiatan belajar bersama dalam kelompok kecil ini, diharapkan siswa dapat berinteraksi, berdiskusi, dan berkolaborasi bersama temannya dengan baik. Ketika mereka bertemu, maka akan muncul juga kedekatan yang mendukung proses belajar berjalan dengan baik.
Melalui interaksi itu pula kita diajak oleh penulis untuk melihat bagaimana relasi antara ketiga aspek ini, yaitu kepekaan lingkungan, model pembelajaran kolaboratif, dan tipe kepribadian introver juga ekstrover. Aminah Zuhriyah menyoroti bahwa perbedaan antara kedua tipe kepribadian ini terletak pada kemampuan, pendapat, proses berpikir, keterampilan berkomunikasi, dan bagaimana mereka mengungkapkan suatu keputusan.
Aminah Zuhriyah menggambarkan bagaimana seorang siswa berkepribadian introver, yang mana memiliki sikap pasif, berhati-hati, pemikir, damai, terkontrol, dan kalem, disandingkan dengan siswa berkepribadian ekstrover yang senang bergaul, responsif, bersemangat, dan senang berbicara melalui pembelajaran kolaboratif. Terdapat dua teknik pembelajaran kolaboratif dalam buku ini, yakni structured problem solving dan learning cell.
Structured problem solving adalah teknik pembelajaran kolaboratif yang membagi siswa ke dalam kelompok kecil berisikan tiga sampai lima anggota, dan bertujuan untuk mempelajari penyelesaian masalah sehari-hari, sehingga siswa mampu bertanggung jawab atas tindakannya. Model pembelajaran ini dilakukan mulai dari mengenali masalah, memprioritaskan masalah, dan memutuskan rencana pemecahan masalah yang tepat.
Sementara learning cell adalah model pembelajaran di mana siswa diberi tugas untuk membuat pertanyaan serta jawabannya dengan teman sebangku. Dalam model pembelajaran ini, para siswa akan berpasangan, yang mana memunculkan interaksi dan komunikasi dua arah. Sederhananya, learning cell adalah teknik pembelajaran secara berpasangan yang menciptakan situasi di mana siswa saling memberi informasi melalui pertanyaan dan jawaban mengenai materi yang dipelajari secara bergantian.
Buku ini merupakan pilihan bacaan yang menarik, khususnya untuk para tenaga pendidik dalam mengembangkan gaya pembelajaran untuk peserta didiknya. Meskipun begitu, buku ini juga dapat dinikmati oleh pembaca umum, karena kita diajak untuk memahami bahwa pembelajaran tidak hanya dipengaruhi oleh situasi saat itu, atau situasi yang ada di kelas. Namun, pembelajaran juga menyangkut bagaimana kepribadian siswa, aspek yang ada dalam diri setiap individu dan dapat memengaruhi proses pembelajaran.


