Ibu Rumah Tangga: Stigma Sosial yang Mengungkung Perempuan

Ibu Rumah Tangga: Stigma Sosial yang Mengungkung Perempuan

Persoalan perempuan dan bekerja menjadi topik yang tak pernah habis untuk dibicarakan. Apalagi, jika membicarakan perempuan yang telah menikah. Awalnya, perempuan yang sudah menikah dan bekerja dipandang tak baik oleh masyarakat, baik sebagai istri maupun ibu. Namun, seiring berkembangnya zaman, diskusi ini bergeser menjadi perempuan yang sudah menikah tetapi tidak bekerja, adalah beban.

Riyadi dan Anggraini dalam buku Wanita, Bekerja, dan Rumah Tangga (Livehood Strategy Mantan TKW), membahas topik ini dalam sudut pandang perempuan yang bekerja di luar negeri. Kedua penulis melakukan kajian terhadap perempuan yang berasal dari Desa Ngawonggo, Kabupaten Klaten. Desa ini merupakan sentra pengecoran logam yang seluruh tenaga kerjanya laki-laki, sementara lahan pertaniannya sudah semakin sempit. Oleh karenanya, para perempuan melakukan migrasi internasional untuk bekerja.

Buku ini juga menjelaskan beberapa faktor yang dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk melakukan mobilitas internasional, khususnya di Indonesia. Salah satu alasan yang disebutkan oleh kedua penulis ialah faktor keluarga. Keterlibatan suami atau istri, bapak atau ibu, juga saudara kandung memiliki pengaruh besar dalam keputusan mobilitas yang diambil.

 Ada berbagai persoalan yang harus dihadapi oleh tenaga kerja wanita yang bekerja di luar negeri, antara lain adalah tenaga kerja wanita harus menanggung biaya besar untuk dibayarkan pada calo-calo, agar mereka mendapat kan pekerjaan di negara tujuan. – Riyadi dan Anggraini dalam buku Wanita, Bekerja, dan Rumah Tangga (Livehood Strategy Mantan TKW)

Bagi perempuan, keputusan mobilitas internasional ini cukup besar resikonya, apalagi untuk perempuan yang telah menikah. Selain biaya seperti yang diutarakan dalam kutipan di atas, perempuan harus berpisah dengan keluarganya, khususnya suami dan anaknya. Hal ini akan menghadirkan kemungkinan besar, bahwa suami yang ditinggalkan akan berpaling dengan perempuan lain.

Tak hanya persoalan sebelum berangkat, tetapi sesampainya di sana, perempuan juga kerap mengalami persoalan berat lainnya. Banyak kasus yang telah terjadi, sesampainya perempuan di negara tujuan, ia mengalami berbagai pelanggaran hak asasi manusia, seperti pelecehan seksual, penyiksaan, bahkan pembunuhan. Ketika ingin kembali ke Indonesia pun, perempuan masih harus berhadapan dengan kemungkinan ditipu calo, sehingga membuat penghasilan berkurang atau malah hilang sepenuhnya.

Hubungan dengan keluarga saat perempuan menjadi TKW di negara asing, juga menjadi salah satu persoalan yang harus dihadapi. Remitansi yang dihasilkan perempuan TKW sering kali tak dimanfaatakan secara optimal, tetapi hanya untuk konsumerisme keluarga. Hal ini juga kerap menimbulkan kecemburuan dan kesenjangan dalam masyarakat terkait penerima dan bukan penerima remitansi.

Penulis melakukan kajian dengan menargetkan perempuan yang berasal dari Desa Ngawonggo, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten. Umur responden sebagai narasumber dalam penelitian ini mayoritas pada kelompok umur 30—35 tahun. Sementara untuk status pernikahan, lebih banyak responden yang tidak menikah dibandingkan yang sudah menikah. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan yang belum menikah lebih bebas, dan merupakan pencari kerja yang aktif, sehingga keberminatan untuk bekerja ke luar negeri untuk mencari pengalaman, dan juga mencari uang untuk bekal pernikahannya kelak.

Walaupun kajian ini menggunakan responden yang menghasilkan data kuantitaif, tetapi penulis juga menghadirkan penjelasan atau analisis kualitatifnya. Penulis melakukan wawancara secara mendalam kepada empat responden perempuan yang memiliki ketertarikan untuk bekerja ke luar negeri, dan empat responden perempuan yang tidak memiliki ketertarikan untuk bekerja di luar negeri.

Pemberian analisis kualitatif ini, memberikan pembaca pemahaman yang lebih mendalam mengenai sudut pandang perempuan yang ingin bekerja, khususnya pergi bekerja ke luar negeri. Dari beberapa responden yang berminat bekerja ke luar negeri, kebanyakan alasannya untuk bekerja ke luar negeri ialah memperbaiki atau membantu perekonomian keluarga. Sementara responden yang tidak berminat, beberapa alasannya ialah harus mengurus keluarga di Indonesia, juga mengurus anak.

“Saya anak terakhir. Kakak perempuan saya ada 3, semuanya ikut dengan suaminya. Maka saya diberi tanggung jawab untuk merawat orang tua saya yang sudah tua, apalagi saya juga belum menikah, Mbak.” —Yami, 29 tahun, dalam buku Wanita, Bekerja, dan Rumah Tangga (Livehood Strategy Mantan TKW)

Menilik isi dari buku ini, perempuan masih diberatkan dengan peran yang dikonstruksi oleh lingkungan sosial. Di sisi lain, ia harus mengurus rumah, suami, dan anak-anaknya, tetapi di satu sisi pula, kebutuhan ekonomi juga memengaruhi pertimbangan perempuan untuk bekerja. Pronityastuti dalam artikel Merespons Peran Ganda Perempuan di Tempat Kerja menyebutkan, bahwa perempuan yang bekerja, masih dituntut oleh masyarakat untuk tetap melakukan perannya sebagai pengurus rumah tangga.

Sementara itu, kerja domestik belum dianggap oleh masyarakat sebagai sebuah “pekerjaan”. Titel “Ibu Rumah Tangga”, sudah dapat dicantumkan dalam KTP Indonesia. Namun, tetap saja titel itu mengarah pada pengangguran, bahwa perempuan tersebut tak bekerja di ranah profesional, hanya di rumah dan mengurus rumah tangganya.

Jika kerja domestik tak pernah dianggap sebagai kerja, maka konsep ini kemudian semakin melanggengkan dominasi laki-laki. — dalam artikel Pekerjaan Domestik yang Tak Pernah Dianggap sebagai Sebuah Kerja

Diskusi ini harusnya membuka pandangan kita mengenai perempuan dan bekerja. Anggapan bahwa perempuan yang bekerja maka ia menjadi istri dan ibu yang buruk, haruslah diberantas. Juga anggapan bahwa perempuan yang tak bekerja dan hanya mengurus rumah tangga adalah pengangguran bahkan menjadi “beban” keluarga, juga harus dihilangkan.

Kita harus mulai membuka pandangan, bahwa kerja rumah tangga atau kerja domestik, selalu bisa dikerjakan oleh semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Tak hanya itu, pengakuan akan kerja domestik yang saat ini masih banyak dibebankan pada perempuan, juga harus diberikan. Hal-hal ini tentunya tak akan langsung mengubah dunia, tetapi dengan pemikiran ini, kita bisa menghadirkan dunia yang lebih adil, baik pada perempuan juga laki-laki.

BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *