Keberadaan Diri di Antara Kayuhan Sepeda
Juli 2025 dibuka dengan gebrakan pemerintah daerah Jakarta, yaitu Badan Penerimaan Daerah (Bapenda) yang mengumumkan olahraga padel termasuk objek pajak barang dan jasa tertentu (PBJT) yang juga terkena pajak hiburan. Melansir dari Tempo, saat ini, penyewaan lapangan padel di Jakarta sudah terkena pajak sebesar 10%. Tak hanya padel, dalam Keputusan Kepala Bapenda Jakarta Nomor 257 Tahun 2025, terdapat 21 jenis olahraga lain yang terkena pajak yang sama.
Selain padel, berikut adalah 20 tempat olahraga yang terkena pajak dalam aturan tersebut, yaitu lapangan futsal/sepak bola/mini soccer, tempat kebugaran (fitness center) yang juga termasuk yoga/pilates/zumba, lapangan tenis, kolam renang, lapangan bulu tangkis, lapangan basket, lapangan tenis meja, lapangan voli, lapangan squash, lapangan panahan, lapangan bisbol/sofbol, lapangan tembak, tempat bowling, tempat biliar, tempat panjat tebing, tempat ice skating, tempat berkuda, tempat sasana tinju/bela diri, tempat atletik/lari, dan jetski.
Netizen langsung berbondong-bondong mengkritisi kebijakan ini. Banyak suara yang menyatakan bahwa pengenaan pajak terhadap fasilitas olahraga berbayar berlebihan. Rakyat hanya ingin hidup sehat dengan berolahraga, tetapi lagi-lagi masih harus dibebani membayar pajak. Salah satu cuitan bernada tidak setuju diutarakan oleh akun @ffikriawan. Ia menuliskan, “Mau olahraga di luar ruangan keracunan polusi, di dalem ruangan kena palak pajak hiburan. Susah bener mau sehat di negara yang sakit ye.”
Sebenarnya, aturan ini adalah revisi dari Keputusan Bapenda Nomor 854 Tahun 2024 yang mengatur persoalan serupa, dan padel menjadi salah satu revisi dalam aturan tersebut. Namun, kebijakan ini tetap menuai kritik dari netizen. Nailul Huda, ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), menyebutkan reaksi masyarakat baru ramai karena padel, olahraga yang tengah naik daun, ikut dikenakan pajak.
Namun, masyarakat baru tahu, bahwa pajak hiburan pada olahraga yang diterapkan sejak lama ini, dibebankan pada harga yang dibayar konsumen. Huda pun menegaskan, bahwa pemerintah seharusnya memiliki sense of crisis terhadap kondisi masyarakat. Di tengah ekonomi masyarakat yang menurun dan sulit, juga perekonomian tengah lesu. hendaknya pemerintah tidak menambahkan beban baru.
Terhadap kabar ini, pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah menyuarakan pendapatnya. Melalui salah satu artikel yang diunggah Media Indonesia, Pajak 10 Persen untuk Lapangan Olahraga, Pengamat NIlai Pemprov Harus Hati-hati karena Bisa Matikan Animo Warga Berolahraga, ia mengatakan bahwa pemerintah sah saja menerapkan pajak, tetapi seharusnya dilakukan secara bertahap, sehingga tidak mematikan animo masyarakat untuk berolahraga, dengan niat sehat tetapi malah menjadi beban masyarakat.
Menilik beberapa olahraga yang tengah disorot karena kebijakan baru dari Bapenda Jakarta, kita bisa beranjak pada olahraga yang sempat tren saat pandemi Covid-19 lalu, yaitu bersepeda. Rifki Al Wafi dalam artikel Tren Bersepeda 2025, Seperti Apa Sekarang?, menuturkan bahwa pada masa pandemi, tren bersepeda mencapai puncak popularitasnya. Bersepeda menjadi pilihan utama masyarakat untuk menjaga kebugaran, sekaligus memenuhi kebutuhan mobilitas jarak dekat. Hal ini ditandai dengan penjualan sepeda yang melonjak tajam, bahkan beberapa jenis sepeda menjadi langka.
Mengulik mengenai olahraga bersepeda, kita dapat membaca buku yang diterbitkan oleh Agoezy pada Februari 2025 lalu. Berjudul Meditasi Gowes: Memaknai Tutur Semesta, ia menceritakan pengalamannya bersepeda, dengan dipadukan perspektif filsafat. Buku ini merupakan sebuah ontologi, yang menggunakan sudut pandang filsafat mengenai hakikat hidup. Sepeda telah menjadi bagian dari ekspresi nilai-nilai identitas dan kepribadian penulis. Ia menceritakan kisah hidupnya yang berhubungan baik dengan sepeda.
Dimulai dengan masa bersekolahnya, Agoezy sudah tertarik untuk menjelajahi alam dengan komunitas pencinta alam. Lalu saat bersekolah, sang ayah mengizinkannya untuk sesekali menggunakan sepeda BSA dalam melakukan mobilitas pulang dan pergi ke sekolah. Hingga seiring berjalannya waktu, penulis mulai mencintai sepeda. Ia bahkan melakukan modifikasi pada sepeda jengki yang dihadiahkan oleh ayahnya. Perjalanan pertama penulis dengan sepeda ialah melintasi jalan ke dua wilayah kecamatan di selatan kota tempat tinggal penulis.
Seperti kesatria yang berjalan menelusuri jalan pedang, demikian pula bersepeda membawa kita menjelajahi dunia dan memperkenalkan kita pada alam dan lingkungan sekitarnya.
Melalui perjalanan tersebut, penulis memaknai lebih dalam perjalanannya bersepeda, dan mengatasi segala hambatan yang ada. Perjalanan Agoezy selanjutnya ialah bersepeda antarkota, yaitu Jakarta—Bandung, bersepeda saat musim dingin di Jerman, mengikuti event bersepeda di Kuala Lumpur, mendaki di Dieng, hingga menyusuri Kaliurang, Yogyakarta menggunakan sepeda. Tak hanya bersepeda bersama teman-temannya, penulis juga menceritakan pengalaman kala ia bersepeda sendiri, bahkan mengikuti kompetisi bersepeda.
Buku yang dipadukan dengan filsafat tentang hakikat hidup ini tak hanya membahas pengalaman penulis bersama sepedanya, tetapi juga membahas terkait teknik dan komponen yang ada dalam sepeda. Penulis juga membahas terkait komponen biologi manusia, serta energi yang dihadirkan saat bersepeda. Pada bab “Lembah Temuan”, penulis menuliskan perenungan yang ia dapat saat bersepeda. Mulai dari ekosistem alam, jalanan yang sunyi, hingga pada aspek yang berfokus pada dirinya.
Pengalaman yang penulis bagikan dalam buku ini disajikan dalam bahasa yang sederhana, seolah penulis tengah bercerita pada temannya. Oleh karenanya, buku ini sangat cocok menjadi bacaan, khususnya orang-orang yang sedang ingin dan bahkan sudah terjun di dunia olahraga sepeda. Pembaca bisa memperoleh ilmu terkait komponen dan teknik bersepeda, hingga memaknai kegiatan bersepeda yang tak hanya untuk kebutuhan fisik, tetapi juga ketenangan jiwa.
Buku ini juga bisa menjadi motivasi bagi pembaca yang tengah ingin terjun ke dunia bersepeda. Kisah penulis yang awalnya hanya bersepeda untuk mobilitasnya ke sekolah, hingga pengalamannya bersepeda di luar negeri, sampai kompetisi yang diikutinya. Kompetisi yang dijalani penulis tak membahas menang atau kalah, tetapi memandang kompetisi tersebut sebagai pelajaran mengenai nilai kualitas yang berharga. Bangga akan pencapaian yang telah membuktikan kemampuan dalam mencapai jarak dan target yang ditentukan, hingga energi dan daya tahan fisik yang meningkat, sehingga mampu membuat diri menjadi lebih kuat dan tajam.



