Kesehatan: Sesuatu yang Dekat, tetapi Terkadang Terasa Jauh

Kesehatan: Sesuatu yang Dekat, tetapi Terkadang Terasa Jauh

Pandemi Covid-19 sudah berakhir sejak 2023 lalu. Tepatnya, pada 21 Juni 2023 lalu, Jokowi selaku Presiden Indonesia periode 2019—2024, mencabut status pandemi di Indonesia. Keputusan ini dilakukan sejalan dengan pencabutan status public health emergency of international concern (PHEIC) untuk Covid-19 yang dilakukan WHO. Tak hanya itu, mengutip dari laman Sekretariat Kabinet RI, hasil dari serosurvei menunjukkan bahwa sebanyak 99% masyarakat Indonesia telah memiliki antibodi Covid-19.

Jika kita melakukan kilas balik ke masa pandemi Covid-19 dan membandingkannya dengan kondisi sekarang, tentu banyak hal telah berubah. Munculnya kebiasaan melakukan meeting kantor atau mengikuti kelas secara online tumbuh dari kebiasaan yang dilakukan saat pandemi Covid-19, karena pada saat itu dilakukan lockdown, sehingga kegiatan yang biasanya dilakukan berkerumun dilarang dan dialihkan menjadi online atau daring. Masyarakat pun menjadi memperhatikan kesehatan, dengan membudayakan perilaku mencuci tangan, hingga etika batuk dan bersin yang benar.

Ketika pandemi tengah berlangsung, interaksi antarteman dan orang di luar lingkungan keluarga sering kali dilakukan secara daring. Paling-paling, yang bisa kita lakukan adalah melakukan video call jika ingin mengobrol dan melihat muka teman-teman kita. Ketakutan akan terjangkit penyakit Covid-19 yang saat itu mematikan, menjangkiti hampir seluruh masyarakat. Apalagi ketika mendengar kabar seseorang yang kita kenal dinyatakan terkena Covid-19. Biasanya yang kita lakukan adalah semakin ketakutan dan mulai mencari atau memahami lebih jauh mengenai Covid-19, khususnya mengenai gejalanya.

Saat tengah sibuk berselancar di internet, membaca satu per satu artikel yang menjelaskan mengenai Covid-19, kita terkadang akan mengecek tubuh kita sendiri. Apakah kita merasakan gejalanya? Apakah kita merasakan demam, sakit tenggorokan, pilek, atau bahkan sesak napas? Sering kali kita tiba-tiba batuk saat melakukan hal tersebut, dan membuat diri sendiri merasa panik karena khawatir apakah benar kita terjangkit penyakit ini. Hal ini cukup lumrah, dan dikenal sebagai hipokondria.

Mengutip dari laman Alodokter, hipokondria adalah masalah kesehatan mental berupa reaksi psikologis yang berlebihan terhadap suatu penyakit. Beberapa penyebab hipokondria yang diungkap dalam artikel ini di antaranya ialah kurang pemahaman, pengalaman traumatis, dan lingkungan keluarga. Beberapa gejala hipokondria yang ada dalam artikel ini ialah berkali-kali memeriksa tubuhnya sendiri untuk mendeteksi tanda-tanda penyakit dan mengkhawatirkan gejala ringan sebagai penyakit serius.

Oleh karena itu, kita harus berhati-hati kala berselancar di internet. Kita perlu memahami kesehatan, untuk dasar kita agar tidak sembarangan dan terburu-buru dalam memproses sesuatu. Untuk memahami kesehatan lebih jauh, buku Antropologi Kesehatan akan menjadi teman bacaan pas. Ditulis oleh 10 penulis, buku ini akan memberikan penjelasan mengenai berbagai topik kesehatan, mulai dari konsep kesehatan dalam berbagai budaya, pengobatan tradisional, keperawatan transkultural, hingga penegakan hukum terhadap penyelenggaraan upaya kesehatan.

Salah satu topik yang menarik dalam buku ini ialah konsep sehat, sakit, dan penyakit, yang ditulis oleh Khairiyatun Sholihah. Perilaku sakit ialah cara seseorang bereaksi terhadap gejala-gejala penyakit. Hal ini dipengaruhi oleh keyakinan masyarakat terhadap gejala penyakit tersebut, dan keyakinan terhadap cara pengobatan yang akan ditempuh. Perilaku ini merupakan manifestasi dari sebuah konsep pikir manusia mengenai arti sehat dan sakit. Sementara definisi sehat menurut World Health Organization (WHO) yang dikutip dalam buku ini, ialah suatu keadaan seseorang yang terbebas dari gangguan fisik, mental, sosial, spiritual, serta tiada mengalami kecacatan. Namun, para ahli sosiologi memandang konsep sehat sangatlah subjektif.

Melalui bab ini, kita akan diajak memahami lebih jauh mengenai konsep sehat, sakit, dan penyakit, yang rasa-rasanya dekat dengan kita, tetapi terkadang sulit untuk memahaminya di situasi tertentu. Salah satu sub-bagian yang dibahas dalam bab ini ialah distribusi penyakit. Banyak dari masalah kesehatan ditemukan pada sekelompok manusia yang diperinci menurut keadaan-keadaan tertentu, seperti orang (person), tempat (place), dan waktu (time).

Atau pembagian etiologi, atau cabang biologi tentang penyebab penyakit, yang dibagi menjadi dua menurut Foster dan Anderson. Keduanya membagi etiologi menjadi dua, yaitu etiologi personalistik dan etiologi naturalistik. Etiologi personalistik memandang suatu penyakit disebabkan adanya campur tangan agen, seperti mahkluk halus, jin, roh, dan sebagainya. Sementara etiologi naturalistik memandang sakit adalah gangguan sistem dalam tubuh manusia, atau antara tubuh manusia dengan lingkungannya.

Sesuai judulnya, bahasan utama dalam buku ini ialah antropologi kesehatan. Antropologi kesehatan didefinisikan oleh Ester., dkk, sebagai studi mengenai pengaruh unsur-unsur budaya terhadap penghayatan masyarakat mengenai penyakit dan kesehatan. Ada beberapa pengertian lain juga, yaitu antropologi kesehatan memgkaji masalah-masalah kesehatan dan penyakit dari dua kutub yang berbeda, yaitu kutub biologi dan sosial-budaya. Akar dari ilmu antropologi kesehatan ini ialah antropologi fisik yang merupakan cabang keilmuan dari antropologi.

Sebelum istilah antropologi kesehatan diakui, para ahli antropologi fisik sudah belajar, juga melakukan penelitian di sekolah-sekolah kedokteran, seperti jurusan anotomi. Para ahli antropologi fisik itulah yang kemudian juga diakui sebagai ahli antropologi kesehatan. Dasarnya, bagaimana antropologi dan kesehatan menjadi ilmu ialah karena kesehatan juga berhubungan dengan perilaku. Perilaku manusia cenderung adaptif, dan terdapat hubungan antara penyakit, obat-obatan, dan kebudayaan. Oleh karenanya, kajian antropologi kesehatan mengarah pada manusia dan perilaku manusia seputar masalah kesehatan.

 Salah satu wujud budaya dalam kesehatan ialah pengobatan tradisional. Di Indonesia sendiri, pelayanan kesehatan secara alternatif atau tradisional kerap kali dipilih masyarakat yang tidak memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk menjangkau pelayanan kesehatan modern. Menurut buku ini—mengutip dokumen kebijakan obat tradisional (Kotranas) tahun 2006, tercatat 30rb jenis tumbuhan yang teridentifikasi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 7.500 di antaranya tergolong tanaman obat, dan diketahui sekurang-kurangnya 9.600 spesies tumbuhan tersebut berkhasiat sebagai obat. Tak hanya itu, kurang lebih 300 spesies telah digunakan sebagai bahan obat tradisional oleh industri obat tradisional.

Dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pasal 1.16, dijelaskan bahwa pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun-temurun secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan, serta diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Di dalam bab ini, penulis tak hanya membahas pengobatan atau layanan kesehatan tradisional secara umum, melainkan juga melalui kacamata hukum.

Oleh karenanya, buku ini akan menjadi pilihan yang tepat bagi pembaca yang ingin mendalami dan memahami lebih jauh mengenai kesehatan. Melalui sudut pandang yang berbeda-beda, kita akan diajak penulis untuk mengenal lebih jauh sesuatu yang sebenarnya sangat dekat dengan kita, tetapi terkadang terasa asing, karena berbagai alasan. Memahami perihal kesehatan tentunya adalah hal yang wajar dan umum, karena kesehatan adalah nikmat paling utama dalam hidup.

Selamat membaca, dan mari tetap sehat!

BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *