Akrostik: Kreativitas dalam Otak-atik Puisi
Jika membicarakan sastra, orang awam langsung membayangkan novel atau puisi. Khususnya puisi, jenis karya sastra yang satu ini cukup populer di kalangan awam. Banyak sekali film yang mengangkat keromantisan puisi, salah satunya adalah film Ada Apa dengan Cinta? Baik tokoh Rangga atau Cinta dalam film ini sangat akrab dengan sastra, khususnya puisi. “Tentang Seseorang” karya Rako Prijanto—sutradara film Ada Apa dengan Cinta?—adalah salah satu puisi yang akhirnya membekas di ingatan para penonton.
Puspita, melalui artikel yang diunggah di laman ITS, menyebutkan bahwa puisi merupakan bentuk karya sastra yang terikat oleh irama, rima, bahasa yang nampak indah dan penuh makna. Di sisi lain, puisi adalah sarana komunikasi yang digunakan penyair untuk meluapkan segala keresahannya dalam berbagai aspek. Di balik sisi estetikanya, puisi mampu menjadi sebuah kritik sosial, di mana penyair mengungkapkannya keresahan atau perasaannya dengan bahasa yang puitis.
Jika membicarakan fisik sebuah puisi, kita bisa memulai membahasnya dengan kajian struktural. Novianty dalam artikel ilmiahnya, menyebutkan bahwa kajian struktural menekankan terhadap unsur pembangun puisi, yang saling berkaitan antara unsur dan fungsinya, dalam struktur puisi. Puisi memiliki dua unsur pokok, yaitu struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik puisi terdiri dari diksi, imaji, kata konkret, majas, rima, dan tipografi puisi. Sementara struktur batin puisi, terdiri dari tema, rasa, nada, dan amanat.
Mengenai struktur fisik puisi, terdapat salah satu puisi yang dinilai cukup unik. Puisi ini disebut akrostik, didefinisikan Sumiyati dalam artikel ilmiahnya sebagai puisi yang dibentuk dari rangkaian huruf yang mengawali atau mengakhiri setiap barisnya. Cara membuat puisi akrostik adalah dengan menggunakan setiap huruf dalam sebuah kata, untuk memulai tiap-tiap baris atau bait dalam puisi. Kata yang huruf awalnya digunakan menjadi awal dalam tiap bait puisi, biasanya akan dijadikan sebagai judul puisi tersebut.
Timbul, adalah antologi puisi yang ditulis oleh Fathia, yang seluruhnya berisi puisi akrostik. Antologi ini berisi 169 puisi akrostik yang berbagai macam tema, dan disusun melalui berbagai kata, bahkan nama. Melalui judul yang beraneka ragam ini, Fathia bahkan mengenalkan banyak kata yang jarang digunakan oleh masyarakat umum seperti “lakara”, hingga kata dalam berbahasa Inggris seperti “core”.
Uniknya, Fathia menyusun isi puisi akrostik miliknya senada dengan makna kata yang dipilihnya sebagai judul. Puisi berjudul “TEMAN”, berisikan narasi-narasi yang mendefinisikan bagaimana rupa pertemanan itu. Pertemanan, menyangkut beberapa orang yang menjadi akrab, nyaman untuk dijadikan rekan bercengkrama, tidak iri dengan pencapaian satu sama lain, dan rekan seperjuangan yang baik dalam menghadapi rintangan apapun. Semua deskripsi ini dinarasikan dengan baik dengan lima larik puisi, yang setiap awal hurufnya dapat dirangkai menjadi kata “teman”, seperti judulnya.
Begitu pula dalam puisi “LATIHAN”. Jika ditilik maknanya, latihan adalah usaha yang dilakukan berulang kali untuk melakukan sesuatu. Hal ini turut dinarasikan Fathia dalam puisi ini. Ia menuliskan bahwa ketika menekuni sesuatu yang bahkan menjadi impian dalam diri kita, maka hasil pada akhirnya akan menghampiri kita di waktu yang tepat dalam hidup.
LATIHAN –
Lupakan masa yang terlewati
Aku hanya sebatas manusia biasa
Tekuni apa yang menjadi harapan
Impian selalu terbayang bayang dalam jiwa ini
Hasil pasti akan menghampiri
Akan tiba waktu yang tepat
Nyata di dalam kehidupan
Adapula puisi berjudul “MAAF”. Puisi ini cocok dibagikan pada momen lebaran, karena dibuka dengan kalimat yang sangat familiar kala momen itu, yakni minal aidzin wal faizin. Meski tidak ada kata maaf yang diulang dalam puisi ini, melalui rangkaian kalimatnya, tentu kita memahami bahwa penulis tengah “meminta maaf”, dengan diksi-diksi seperti khilaf, ampuni, dan kesalahan.
MAAF –
Minal aidzin wal faizin
Adakalanya saya banyak khilaf
Ampuni semua khilafan saya
Fitrah manusia untuk mengampuni kesalahan yang disengaja
maupun tidak disengaja
Selain menggunakan kata-kata, Fathia juga menyusun puisi akrostik melalui nama. Beberapa nama yang menjadi judul dari puisi akrostik ini ialah Yunus, Musa, Widi, Sita, Shinta, Mila, dan masih banyak lagi. Berikut salah satu puisi akrostik yang disusun berdasarkan nama orang.
ARUM –
Ada tempat hampa
Ruang untuk merenungkan apa yang akan jagi tujuan
Untuk masa depan yang perlu
Merenung supaya mengenali proses yang akan dilaksanakan
Selain judul yang senada dengan isi dan menggunakan nama orang, Fathia juga memberikan variasi lain dalam antologi puisinya ini. Ia menyusun puisi akrostik yang isinya tak senada dengan makna kata yang digunakannya untuk mengawali setiap larik dengan puisi. Salah satunya puisi berjudul “WANGI”. Alih-alih membicarakan mengenai hal-hal yang berbau sedap atau harum, puisi ini malah mengisahkan mengenai sebuah kenangan yang dirindukan dan takkan terulang.
WANGI –
Waktu terus berlalu
Apa kabar kenangan yang tidak akan terulang
Namun selalu di kenang
Galau antara mengenang atau melupakan
Intuisi selalu membisikkan
Kreativitas tampaknya menjadi hal paling menonjol dalam antologi puisi ini. Bagaimana merangkai susunan huruf dari sebuah kata menjadi sebuah puisi yang padu. Hal ini tentunya memerlukan keterampilan bahkan latihan yang tak mengenal kata sudah. Selain itu, untuk merangkai puisi dengan huruf yang harus padu membentuk suatu kata, diperlukan pengetahuan atau perbendaharaan kosakata yang baik, dan perlu ditingkatkan terus-menerus. Melalui perbendaharaan juga pengetahuan kosakata yang baik dan berkembang setiap harinya, puisi yang dihasilkan menjadi kaya diksi dan penuh makna, tak sekadar cantik dari segi estetika saja.



