Kritisisme yang Meruntuhkan Dunia Hitam-Putih

Kritisisme yang Meruntuhkan Dunia Hitam-Putih

Pada 12 April lalu, warganet dikejutkan dengan kasus pelecehan seksual verbal yang terjadi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Akun @sampahfhui mengunggah beberapa tangkapan layar berisi percakapan yang mengandung unsur pelecehan hingga objektifikasi perempuan. Salah satu yang mengundang amarah warganet adalah adanya salah satu pelaku (dari jumlah total pelaku 16 orang) yang menyatakan bahwa “diam berarti consent”.

Mirisnya lagi, para korban yang dilecehkan para pelaku di grup percakapan ini sebenarnya sudah mengetahuinya sejak 2025. Mengutip artikel Tempo, Timotius Rajagukguk—kuasa hukum korban—menyatakan ia baru menangani kasus ini sejak lebaran tahun 2026, atau tepatnya Maret 2026. Korban yang ia wakili berjumlah 20 orang, yang semuanya adalah mahasiswa. namun, tak hanya mahasiswa, korban juga berasal dari kalangan dosen, sebanyak 7 orang. Jumlah yang disebutkan belum termasuk para korban yang bahkan tidak mengetahui dirinya dilecehkan di grup tersebut.

Memandang kasus ini, kita menjadi semakin yakin bahwa tubuh perempuan dikonstruksi dan dikendalikan dalam struktur sosial yang didominasi maskulinitas. Tubuh perempuan bukan lagi kepemilikan pribadi, tetapi menjelma objek yang menjadi komoditas dalam pasar tanda dan hasrat, seperti yang disebutkan Angga T. Sanjaya dalam bukunya yang berjudul Setelah Kematian Tuhan dan Keterlemparan Kedua.

Masyarakat patriarkal memosisikan perempuan sebagai objek tatapan (gaze) publik, karena tubuh mereka adalah ruang simbolik yang selalu dipertanyakan moralitasnya.

—Angga T. Sanjaya dalam Setelah Kematian Tuhan dan Keterlemparan Kedua

Hal ini lagi-lagi tidak dapat dipisahkan dari budaya patriarki yang mencengkeram kuat, hingga saat ini. Dalam buku ini, efek patriarki sebagai sistem dominasi maskulin, menempatkan perempuan sebagai barang simbolik. Perempuan untuk masyarakat harus mampu menjadi benda yang menerima, menarik, dan tersedia, tetapi di saat yang bersamaan juga menjadi objek yang tak pernah terlihat.

Angga T. Sanjaya berpendapat sistem tersebut ditanamkan melalui “pelatihan” panjang, yang dimulai sejak lahir; pada pendidikan dasar; ditorehkan dalam gambar, kata-kata, postur tubuh, ritual sosial-keluarga, gestur kecil; hingga akhirnya perempuan kesulitan berbicara di depan umum, menjadikannya hanya sebagai penampil bisu di depan umum. Perempuan sering kali kehilangan kontrol atas tubuh mereka sendiri, karena ia telah sejak lama menjadi bagian dari ekspektasi sosial.

Buku Setelah Kematian Tuhan dan Keterlemparan Kedua yang ditulis Angga T. Sanjaya ini banyak membahas fenomena sosial yang terjadi beberapa tahun terakhir di Indonesia. Salah satu topik yang menarik dalam buku ini adalah perihal korupsi. Menggunakan judul yang rasa-rasanya juga masih menjadi pertanyaan umum, “Mengapa orang kaya masih korupsi?”, Angga mengupas tuntas dari akarnya menggunakan kacamata filsafat.

Mengutip buku Jacques Lacan, Angga menyebutkan bahwa korupsi merupakan keinginan manusia untuk memiliki sesuatu yang tidak terbatas, merupakan aktualisasi hasrat yang tidak terkontrol oleh ruang subjektif. Menurutnya, pada kehidupan negara dengan kapasitas ekonomi tidak merata, maka kekuasaan dan uang adalah barang langka, terlebih jika dengan nominal uang yang besar.

Akhirnya, gaji dan kompensasi besar yang diterima seolah menjadi opsi subsitusi bagi hasrat yang mustahil dicapai. Meski kekayaan yang didapat cukup besar, tapi itu bukan menjadi tujuan akhir, malah justru menjadi rantai penanda yang tak berujung dengan perasaan “kekurangan”. Alasannya sederhana, karena dalam kelompok elitis, pengakuan membutuhkan daya yang lebih besar dari kemampuan masyarakat kolektif.

Pencurian dan eksploitasi sumber daya negara bukan sekadar masalah moral atau ketamakan, tetapi lebih dalam lagi, merupakan ekspresi dari kondisi struktural subjektivitas manusia yang selalu merasa kurang.

—Angga T. Sanjaya dalam Setelah Kematian Tuhan dan Keterlemparan Kedua

 Angga T. Sanjaya akhirnya melemparkan pertanyaan yang membuat kita termenung, “Jika orientasi tindakan korupsi tersebut dilakukan sebagai jalan pemenuhan hasrat atas unsur lack, apakah memiliki banyak uang memberikan kebahagiaan bagi manusia?”

Melalui buku ini, kita diajak untuk melihat fenomena sosial yang terjadi di sekeliling kita dengan pandangan lebih jauh, menggunakan alam berpikir para filsuf dari zaman klasik sampai modern. Buku ini memperlihatkan kepada kita, bahwa dunia sebenarnya memang tak hanya hitam atau putih, benar atau salah. Tidak sekadar melihat, tetapi juga memahami dan berani mempertanyakan kembali dalam dunia hitam-putih yang sebelumnya dianggap pasti.

SHARE THIS :
BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *