Menengok Masa Kecil Sang Teladan
Bagi umat muslim, Nabi Muhammad saw. tentunya menjadi sosok yang dihormati dan diteladani segala perbuatannya. Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dalam Islam, yang nisyaca dinantikan syafaatnya di akhir zaman nanti. Kehidupan dan ajaran oleh Nabi Muhammad, sering kali digunakan sebagai panduan hidup dalam segala aspek oleh umat muslim.
Sebagai penutup para nabi, Nabi Muhammad juga diangkat sebagai rasul ulul azmi. Empat rasul ulul azmi lainnya ialah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Isa, dan Nabi Musa. Rasul ulul azmi artinya orang-orang pilihan yang memiliki kesabaran dan ketegaran hati. Sejak kecil, Nabi Muhammad sudah menghadapi berbagai cobaan dan rintangan, juga kala menyebarkan agama Islam.
Ngadiri dan Anggorowati dalam bukunya yang berjudul Keistimewaan Masa Kecil Rasulullah, menceritakan kisah masa kecil Nabi Muhammad, sejak ayah dan ibunya telah menikah, hingga Nabi Muhammad diasuh oleh kakeknya—sepeninggal kedua orang tua Rasulullah yang telah wafat. Gaya bahasa yang digunakan penulis dalam buku ini sederhana, sehingga cocok jika menjadi bahan bacaan bagi anak-anak.
Abdullah dan Aminah—kedua orang tua Rasulullah—adalah pasangan yang harmonis dan saling mencintai. Keduanya tinggal berdekatan dengan Abdul Muthalib, ayah dari Abdullah. Suatu hari, Abdul Muthalib menyuruh Abdullah membeli kurma di Yatsrib (Madinah). Dikarenakan perjalanan yang panjang, akhirnya Abdullah jatuh sakit dan meninggal di Yatsrib.
Pada saat yang bersamaan, Aminah tengah mengandung buah hati keduanya. Menjelang kelahiran anaknya, terjadi sebuah peristiwa besar yang bahkan tercatat di Al-Quran, yaitu penyerangan Ka’bah oleh pasukan Abrahah. Serangan Abrahah berhasil digagalkan oleh pasukan burung ababil yang menjatuhkan batu berapi dari neraka. Selang 50 hari kemudian, Aminah melahirkan bayi laki-laki yang tampan dan memancarkan aura kemuliaan.
Ngadiri dan Anggorowati menyebutkan, setelah Aminah melahirkan Rasulullah, ia didatangi seseorang yang menyarankan agar bayi laki-lakinya diberi nama Muhammad, dengan harapan bahwa anak laki-lakinya akan dipuji oleh seluruh penduduk langit dan bumi. Tak hanya itu, nama Muhammad sudah tercatat dalam kitab Taurat dan Injil, jauh sebelum Rasulullah lahir ke dunia ini.
Kisah masa kecil Rasulullah diceritakan detail oleh penulis dalam buku ini. Seperti proses khitan, hingga Abdul Muthalib dan Aminah yang mencarikan ibu susuan bagi Rasulullah. Hal ini menjadi suatu budaya masyarakat perkotaan Arab pada masa itu. Tak sekadar tradisi, melalui hal ini, anak-anak dididik sebagai individu yang mandiri sejak kecil. Polusi perkotaan juga kurang baik bagi kesehatan bayi, sehingga ketika seorang anak disusui oleh wanita Badiyah (dusun atau kampung), maka lingkungan tumbuh-kembang si anak menjadi lebih baik.
Meski kisah dalam buku ini berfokus pada masa kecil Rasulullah, penulis juga memotret lingkungan di sekitar Rasulullah. Seperti halnya perjuangan Aminah dalam membesarkan Rasulullah seorang diri, hanya bersama kakek Rasulullah, yang mana ayah mertuanya. Keteguhan hati Aminah juga dinarasikan dengan baik kala Halimah—ibu susuan Rasulullah—meminta izin kepada Aminah untuk mengasuh kembali Rasulullah setelah masa persusuannya selesai.
Buku ini cocok dipilih bagi orang tua yang ingin mengenalkan sosok teladan yang mulia sejak kecil pada anak-anaknya. Penceritaan masa kecil Rasulullah ketika diasuh Halimah di antara kaum Bani Said, akan menghadirkan gambarans seru kepada anak-anak, karena di sana Rasulullah bermain dan menggembala bersama anak-anak seumurannya. Di samping itu, buku ini juga akan menjadi kisah yang baik untuk para anak-anak meneladani kisah Rasulullah semasa kecilnya.



