Menengok Pesisir yang Tersisih

Indonesia dijuluki sebagai negara maritim, dikarenakan sebagian besar wilayahnya berupa perairan. Mengutip dari artikel Tempo, konsep negara maritim adalah negara yang luas wilayah perairannya lebih besar daripada luas daratan. Dari total luas Indonesia sendiri, 62% merupakan laut dan perairan. Selain itu, disebut dalam artikel ini, bahwa Indonesia juga masuk dalam daftar teratas negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Sepanjang 81 ribu kilometer garis pantai membentang di Indonesia.

Sayangnya, pembangunan kelautan dan perikanan di Indonesia kurang mendapat perhatian, bahkan diposisikan sebagai pinggiran dalam pembangunan ekonomi nasional. Menurut Erwin dan Tumuka dalam artikel ilmiahnya, tentunya kondisi ini sangat memprihatinkan, karena seperti yang diketahui, sebagian wilayah Indonesia adalah laut dan perairan dengan potensi ekonomi sangat besar.  Apalagi masyarakat di daerah pesisir yang memiliki potensi dan sumber daya yang melimpah, tetapi kebanyakan mereka malah adalah masyarakat yang tertinggal.

Fakta ini diamini oleh Tempo melalui artikel yang diunggah pada tahun 2023 lalu. Bertepatan dengan Hari Nelayan Nasional, Muhid menuliskan bahwa banyak nelayan belum sejahtera meski “diapresiasi” tiap tahun. Banyak dari nelayan yang melaut hanya untuk sekadar menyambung hidup. Hal ini tak sebanding dengan Indonesia yang menempati posisi kedua negara penghasil ikan dunia. Mengutip data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Muhid menyebut masyarakat nelayan berada di posisi yang menyumbang 32,14% angka kemiskinan di Indonesia.

Beberapa alasan dari lahirnya situasi ini ialah karena jumlah tangkapan yang sedikit dan belum terpenuhinya hak-hak dasar keluarga nelayan. M. Riza Damanik—Ketua Dewan Pembina Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia menjelaskan bahwa meski ikan di laut melimpah, nelayan lokal kalah dari kapal-kapal besar, apalagi dengan adanya kapal asing yang ikut mencari ikan secara ilegal.

Oleh karenanya, Nababan dan Sari dalam buku berjudul Ekonomi Kesejahteraan Nelayan Skala Kecil, mencoba mengungkap tingkat kesejahteraan nelayan perikanan tangkap skala kecil yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, penulis mencoba membedah masalah yang ada di sektor perikanan Indonesia dalam buku ini. Mulai dari potensi pemanfaatan sumber daya ikan, pengelolaan sumber daya perikanan, alat penangkapan ikan, ekonomi kesejahteraan untuk perikanan tangkap, hingga perikanan tangkap demersal.

Salah satu kekayaan laut Indonesia dengan potensi sumber daya yang tinggi adalah sumber daya ikan tangkapan. Potensi sumber daya perikanan tangkap ini mencapai 9,93 juta ton per tahun. Beberapa jenis perikanan yang diperbolehkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan di antaranya ialah pelagis kecil dan besar, ikan demersal, ikan karang, udang penaeid, lobster, kepiting, rajungan, dan cumi-cumi. Sementara beberapa alat tangkap yang sering digunakan, khususnya di Laut Jawa Utara, di antaranya ialah payang, dogol, jaring arad, pukat pantai, cantrang, pancing dan perangkap, juga jaring klitik.

Membicarakan mengenai perikanan, ia termasuk ke dalam sumber daya alam yang dapat diperbaharui, tetapi tergantung pada proses biologi untuk regenerasinya. Di dalam buku ini, Nababan dan Sari menyebutkan bahwa sumber daya perikanan adalah sumber daya yang bersifat dinamis, demikian juga gangguan terhadap keseimbangan sistem yang terjadi pada sumber daya tersebut. ia dapat bertambah dan berkurang secara alamiah, maupun secara intervensi manusia, baik langsung atau tidak langsung.

Hal ini menyebabkan nelayan tidak dapat melakukan penangkapan ikan tanpa pengetahuan, keterampilan, dan teknologi. Nelayan akan menyeimbangkan antara faktor yang berkaitan dengan sifat biologis ikan, sifat ekonomis dari teknologi, serta pertimbangan sosial yang mendasari perikanan. Melalui adanya agenda keberlanjutan, negara juga ikut sadar dalam kebutuhan untuk mencegah kepunahan dan kehancuran stok ikan. Negara juga melihat perlunya menyeimbangkan tujuan biologis, sosial, dan ekonomi yang saling bertentangan. Melalui perencanaan dan pengembangan kebijakan, pengawasan dan pengendalian, penegakan peraturan, serta penelitian dan pemantauan perikanan.

Sementara, tujuan dari kebijakan publik sendiri ialah kesejahteraan masyarakat, yang mana ukurannya adalah pareto optimal. Konsep pareto optimal sama dengan efisiensi ekonomi, yang memiliki konsep dasar berupa tak mungkin lagi meningkatkan kesejahteraan tanpa membuat orang lain jadi lebih buruk, serta surplus produsen dan konsumen maksimum. kriteria ini berkaitan dengan sifat individualistis. Hal ini berhubungan dengan kesejahteraan tiap individu yang relatif berbeda dengan kesejahteraan individu lain, dan tidak berhubungan dengan ketidakadilan. Lalu, tiap individu memiliki persepsi untuk menghitung kesejahteraannya sendiri, yang mana konsisten dengan prinsip umum bahwa konsumen adalah raja, maknanya individu adalah hakim terbaik bagi kebutuhan dan keinginannya sendiri.

Di sisi lain, membicarakan kesejahteraan masyarakat pesisir atau nelayan di Indonesia, masih mengalami kendala. Ketua Just-In Wash Coalition Indonesia (Koalisi Masyarakat untuk Air dan Sanitasi Berkeadilan dan Inklusif), Rosinah mengatakan bahwa seharusnya pemerintah memprioritaskan kesejahteraan amsyarakat pesisir melalui perbaikan akses air bersih, sanitasi, juga penanganan sampah. Menurut Rosinah, kondisi kehidupan keluarga nelayan Indonesia yang mendiami wilayah pesisir di sepanjang garis pantai saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan yang mengancam kehidupan, seperti perubahan iklim.

Hal-hal yang dibicarakan dalam buku Nababan dan Sari harusnya dipertimbangkan lebih baik lagi oleh pemerintah pusat, khususnya untuk kepala negara, Prabowo Subianto. Julukan negara maritim yang seolah-olah memperlihatkan bahwa kita adalah “negara besar” akan menjadi sia-sia jika dibenturkan dengan realitas yang ada. Sejauh ini, belum ada berita dari pemerintah yang melakukan gebrakan untuk mengatasi masalah masyarakat nelayan atau pesisir. Dunia perairan Indonesia seolah lama mati, setelah dulunya Susi Pudjiastuti selalu membuat gebrakan baru, salah satunya yaitu menenggelamkan kapal asing yang terlibat penangkapan ilegal.

Ekonomi Kesejahteraan Nelayan Skala Kecil

BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *