Mengarungi Estetika Puisi

Mengapa puisi populer di kalangan awam?

Pertanyaan ini agaknya tidak terlalu out of the box, mengingat kepopuleran puisi “Aku Ingin” karya Chairil Anwar, tetapi di sisi lain, terkadang sastra, atau puisi, dipandang sebelah mata oleh masyarakat awam. Hal ini dapat dilihat dari sesepele bagaimana masyarakat menanggapi kala seseorang berkata dia belajar di jurusan sastra, seperti dalam tulisan Fitri. Namun, kembali ke pertanyaan di atas, beberapa artikel di laman online menyebutkan salah satu alasan utama puisi sangat populer adalah, karena bahasa yang digunakan dalam puisi sangat indah.

Alasan ini diamini oleh Novianty dalam artikel ilmiahnya yang berjudul Kajian Struktural pada Puisi “Kekasihku” Karya Joko Pinurbo. Novianty menuliskan, bahwa karya sastra yang paling menonjolkan nilai keindahannya adalah puisi. Puisi didefinisikan sebagai suatu karya sastra yang bersifat imajinatif dan memiliki makna. Sederhananya, puisi memiliki nilai estetika untuk menghidupkan imajinasi pembaca. Salah satu estetika dari puisi adalah bahasanya yang terikat rima dan isinya merupakan gagasan, serta perasaan seseorang.

Rima sendiri, termasuk ke dalam unsur pembangun puisi dalam kategori struktur fisik puisi. Puisi memiliki dua kategori unsur pembangun puisi, yaitu struktur fisik dan struktur batin puisi. Struktur fisik puisi adalah struktur pembangun puisi yang bersifat nampak, dalam bentuk susunan kata, dan terdiri dari pilihan kata atau diksi, citraan, majas, kata konkret, rima, hingga tipografi. Sementara struktur batin puisi didefinisikan sebagai isi atau makna yang mengungkapkan apa yang hendak dikemukakan penyair, serta terdiri dari tema, rasa, nada, dan amanat.

Menilik tentang struktur fisiknya, kita dapat membaca antologi puisi milik Nisa Ayu yang berjudul Topeng Badut. Buku antologi ini berisi 60 karya puisi, yang mengangkat keseharian. Tak mengusung tema muluk-muluk, Nisa Ayu “merayakan” sekitarnya ke dalam puisi karyanya pada antologi ini. Ia mencurahkan puisinya mengenai anak bungsu, kota tempat tinggalnya, hingga pendidikan, seperti dalam puisi berjudul “Selempang Aksara”. “Merayakan” dalam kalimat sebelumnya, merujuk pada bagaimana Nisa Ayu menuangkan gagasannya ke lingkungan sekitar, ke dalam puisi dengan bahasanya yang indah.

Berdasar pada enam struktur fisik puisi, puisi-puisi Nisa Ayu dalam Topeng Badut menonjol pada sisi diksi dan rimanya. Mengenai tipografinya, puisi Nisa Ayu menggunakan tipografi yang konvensional; menggunakan huruf kapital pada awal baris dalam setiap bait dan baris, serta membagi puisi menjadi satu hingga empat lima bait. Tipografi sendiri memiliki definisi sebagai aspek estetika puisi melalui tata letak dan tata huruf yang digunakan untuk menentukan makna puisi.

Sebelum membahas rima, mari kita memahami terlebih dulu definisinya. Rima, atau irama, adalah pengulangan bunyi yang ditimbulkan huruf atau kata, untuk menambah nilai estetika puisi. Di jenjang sekolah, biasanya rima yang sering diajarkan oleh para guru adalah a-b-a-b, atau a-a-b-b; untuk satu bait puisi berisi empat baris. Membaca antologi Topeng Badut, kita bisa melihat Nisa Ayu sering kali menggunakan rima akhir yang senada untuk beberapa baris. Contohnya dalam puisi “Berputar Tak Kembali”.

BERPUTAR TAK KEMBALI

Perjalanan penuh teka-teki bagai misteri

Terlahir dengan sebuah takdir yang telah tergaris

Tidak mampu menolak apa yang sudah tertulis

Tugasku menjalani, walau terkadang gerimis

Menerima dengan ikhlas seluas sagara

Banyak hal berkesan setiap langkahnya

Menyakitkan yang mendewasakan

Menyenangkan yang memberanikan

Terkadang terbesit ingin kembali

Tapi mustahil terjadi

Selalu ada cerita di setiap kilometernya

Abadi dalam ingatan, meski mustahil terulang.

Kokap, 29 Mei 2025

Puisi ini menggambarkan jalan kehidupan dengan takdir yang sudah tertulis, tanpa bisa menolak. Di jalan kehidupan ini, banyak hal yang terjadi, dan harus diterima dengan ikhlas. Kadang kala, ada masa penyesalan datang atau kesenangan yang ingin diulang, tapi tentu saja hal tersebut hanyalah harapan sia-sia. Di akhir setiap baris puisi ini, kita bisa melihat ada kesamaan huruf vokal untuk tiap kata akhirnya. Contohnya, di bait pertama, tiap baris diakhiri dengan huruf “i”, lalu di bait kedua seluruh baris diakhiri dengan huruf “a”, serta di bait ketiga, huruf “i” mengakhiri baris pertama dan kedua juga huruf “a” mengakhiri baris ketiga dan keempat.

Di samping rima akhir dengan huruf vokal yang sama, kita bisa melihat Nisa Ayu menggunakan diksi yang menarik untuk menciptakannya. Contohnya pada baris ketiga bait pertama; “Tugasku menjalani, walau terkadang gerimis”. Diksi “gerimis” menunjukkan bahwa dalam menjalani jalan kehidupan tersebut, terkadang ada ujian, kisah sedih, dan sebagainya. Kata gerimis digunakan agaknya karena hujan sering kali diasosiasikan dengan hal-hal bernuansa melankolis oleh masyarakat, dan gerimis—hujan rintik-rintik—dipilih Nisa Ayu dalam puisi ini.

Mengenai diksi, Nisa Ayu juga kerap kali menggunakan diksi yang menarik dan jarang digunakan masyarakat awam dalam percakapan sehari-hari. Misalnya, dalam puisi “Selempang Aksara”, Nisa Ayu menggunakan kata “amerta”. Puisi ini menggambarkan bagaimana perjuangan seseorang dalam meyelesaikan pendidikan perguruan tinggi, hingga akhirnya mampu menggenakan selempang dengan tulisan nama dan gelarnya. Jika menilik KBBI, amerta diartikan sebagai tidak dapat mati dan abadi.

Juga dalam puisi “Si Bungsu”, Nisa Ayu banyak menggunakan diksi serupa. Melalui cerpen ini, digambarkan sosok anak bungsu, yang kehadirannya kerap kali dianggap beban dan dipandang tak bisa melakukan sesuatu. Di antara banyak tekanan itu, bungsu ini memilih memendam bebannya dalam diam, dalam pikiran; dan menuangkannya dalam sebuah kereta kata, untuk menenangkan dirinya sendiri. Kata “nabastala” digunakan dalam baris kedua bait pertama, yang memiliki arti langit, dari bahasa Sansekerta. Selain itu, digunakan pula kata “selaksa”, yang menunjukkan jumlah banyak sekali.

PERMANEN

Berhati-hati saat menggoreskan tinta

Belajar berpikir sebelum bertindak

Sekarang bukan lagi pensil yang dengan gampangnya terhapus

Melainkan bolpoin yang sulit terhapus, jika tidak menggunakan tipex

Sekali salah akan cacat membekas.

Kokap, 31 Mei 2025

Selain diksi dan rimanya yang menarik, ada beberapa puisi dari antologi Topeng Badut yang menyenangkan untuk dibahas. Salah satunya adalah puisi berjudul “Permanen” di atas. Puisi ini membahas jika tinta bolpoin yang telah ditorehkan, maka kita harus berhati-hati dalam melakukannya, karena ia tak akan bisa dihapus selayaknya ketika kita menggunakan pensil. Puisi ini mampu mengajak kita merenung, dan kita bisa menebak bahwa penulis sedang mengibaratkan bahwa “tinta” ini sebagai perkataan atau perbuatan. Ketika perkataan keluar dari lisan kita, atau tindakan yang kita lakukan menyakiti hati orang lain, tentunya akan membekas di hatinya, dan kita tak bisa melakukan apapun, kecuali mungkin meminta maaf. Hal ini menunjukkan bahwa kiasan juga digunakan Nisa Ayu dalam puisi-puisinya.

Membaca antologi Topeng Badut, agaknya kita sedang disuguhi estetika puisi di balik kedalaman makna setiap diksi yang digunakan penulis. Keindahan yang sejak awal ini dibicarakan, menunjukkan bahwa puisi perlu menunjukkan estetika, tetapi juga jangan lupa membawa makna di dalamnya. Jika sekadar keindahan yang ditawarkan, tentunya puisi hanya akan menjadi sekadar rangkaian kata yang indah, tetapi kosong. Namun, jika diksi dan kalimat indah yang ada dalam puisi mampu membawa penikmatnya menelusuri kedalaman maknanya, maka puisi akan menjadi lebih bernilai untuk dinikmati.

Kumpulan Puisi Topeng Badut

BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *