Mengenal Sastra Lebih Jauh
Sering kali pertanyaan, “Mengapa nama Tere Liye jarang dibahas di dunia sastra?”, muncul di beberapa komunitas penikmat buku. Tere Liye adalah nama pena dari penulis yang sebelumnya menggunakan nama Darwis. Beberapa penulis biografi singkat dari Tere Liye menuliskan nama Darwis sebagai nama asli Tere Liye. Menilik biografinya, ia lahir di pedalaman Sumatera Selatan pada 21 Mei 1979.
Tere Liye telah melahirkan banyak karya sastra berupa novel, yang di antaranya telah diadaptasi menjadi film, yaitu Hafalan Shalat Delisa. Di samping itu, nama Tere Liye kerap diperdebatkan netizen. Salah satunya ialah dalam beberapa novelnya, Tere Liye menggunakan ghost writer yang namanya kerap ditulis hanya di belakang sampul. Hal ini diutarakan oleh akun @sasustus di X.
Ia menuliskan, “Tere Liye is not productive as writer, as a brand yes. Praktik culas dengan menaruh nama co-writer di belakang sampul. And shut up to someone who said it’s writer’s agreement. Almost all the reader that I told this fact never want to buy the book again.” Tak hanya @sasustus, kritikan semacam ini sering diutarakan oleh para penikmat buku, bahkan sejak era Facebook populer.
Juidah., dkk, dalam bukunya yang berjudul Teori Apresiasi Sastra secara tidak langsung menjawab pertanyaan yang kerap muncul itu. Penulis menyebutkan novel populer dan novel serius ketika membahas prosa fiksi. Mengutip dalam buku, novel populer adalah novel yang populer pada masanya dan banyak penggemarnya, khususnya pembaca di kalangan remaja. Ia menampilkan masalah-masalah aktual dan selalu menjaman, tetapi hanya sampai tingkat permukaan.
Di sisi lain, ada juga novel serius yang disebutkan bahwa pengalaman dan permasalahan dalam novel jenis ini disoroti dan diungkapkan sampai ke inti hakikat kehidupan yang bersifat universal. Novel serius menuntut pembaca untuk mengoperasikan daya intelektualnya, merekonstruksi duduk persoalan masalah juga hubungan antartokoh, yang diambil dari realitas kehidupan.
Mengambil salah satu contohnya adalah novel karya Tere Liye yang berjudul Hujan. Tere Liye memotret bencana alam yang melanda sebuah kota dengan kemajuan teknologi yang masif. Novel ini menceritakan Lail, salah satu korban dari bencana alam, dan diselamatkan oleh Esok. Fokus utama dari novel ini adalah hubungan antara Lail dan Esok yang semakin dekat, bahkan ketika kota tersebut mulai pulih kembali.
Meski mengambil potret bagaimana kota dengan teknologi yang sangat maju dihadapkan dengan bencana alam yang tak bisa dicegah manusia, fokus penceritaan tetaplah pada hubungan Esok dan Lail. Oleh karenanya, tak mengherankan jika novel Tere Liye masuk dalam kategori novel populer, dibandingkan novel serius. Berbeda dengan novel Laut Bercerita yang ditulis oleh Leila S. Chudori.
Meski hanya berbeda satu tahun untuk periode terbitnya, Laut Bercerita masuk ke dalam sastra serius karena kekompleksan isinya. Leila tak hanya menyentuh kehidupan di tahun 1998, tapi juga menyentuh mengapa demonstrasi itu terjadi, bagaimana kisah mahasiswa yang dipulangkan, bagaimana keadaan keluarga mahasiswa yang tak diketahui keberadaannya hingga kini, dan sebagainya.
Ada juga pertanyaan lain yang cukup umum. Becermin pada materi Bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah dulu, terdapat dua kategori jenis tokoh, antagonis dan protagonis. Lalu muncullah pertanyaan, “Apakah benar konsep ini sesederhana seperti tokoh antagonis = jahat dan tokoh protagonis = baik?”. Juidah., dkk, juga menjabarkan hal ini dalam bahasan “Tokoh dan Penokohan”.
Penulis menyebutkan menurut penampilan tokoh, tokoh dibedakan menjadi dua, yaitu tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Tokoh protagonis didefinisikan sebagai tokoh yang dikagumi dan merupakan perwujudan dari norma-norma dan nilai-nilai yang ideal bagi kita. Sementara tokoh antagonis didefinisikan sebagai penyebab terjadinya konflik dalam prosa fiksi. Fiksi harus mengandung konflik juga ketegangan, khususnya yang dialami tokoh protagonis.
Juidah., dkk, dalam buku ini mengupas prosa fiksi, mulai dari memahami apa itu apresiasi, hingga teori dalam sastra dan bagaimana mengaplikasikannya dalam analisis karya sastra, khususnya prosa fiksi. Sebenarnya, dengan membaca sebuah prosa fiksi, kegiatan tersebut sudah termasuk ke dalam kegiatan apresiasi karya sastra. Sederhananya, apresiasi adalah memahami, menikmati, dan menghargai atau menilai. Seorang pembaca tak akan dapat menikmati karya sastra sebelum ia memahami dan merasakan langsung apa yang terkandung dalam karya sastra itu sendiri.
Salah satu proses dari apresiasi karya sastra—disebutkan dalam buku ini—adalah analisis, yang didefinisikan sebagai penguraian karya sastra atas bagian-bagian atau norma-normanya. Analisis dilakukan terhadap semua elemen pembangun fiksi, yang mencakup fakta cerita hingga sarana cerita. Buku Apresiasi Prosa Fiksi yang ditulis Juidah., dkk, akan cocok sebagai bahan bacaan untuk memperdalam wawasan prosa fiksi.
Buku ini membahas unsur-unsur di dalam prosa fiksi dengan cukup detail. Contohnya ketika membahas mengenai plot atau alur. Umumnya yang diketahui mengenai plot adalah strukturnya, atau urutan alurnya. Mulai dari tahap awal, tahap tengah, hingga tahap akhir. Namun, dalam buku ini kita juga dijelaskan mengenai kaidah plot juga jenis plot berdasarkan beberapa kriteria. Salah satu contoh kaidah plot dari empat yang dijelaskan ialah plausibilitas. Pengertian dari plausibilitas sendiri ialah suatu hal yang dapat dipercaya sesuai dengan logika cerita.
Selain itu, umumnya jenis plot yang diketahui ialah berdasarkan kriteria urutan waktu. Namun, Juidah., dkk, dalam buku ini menyebutkan kriteria lain yang ada dalam prosa fiksi. Kriteria lainnya ialah plot berdasarkan jumlah, kepadatan, dan isi. Berdasarkan kriteria jumlahnya, plot dibagi menjadi plot tunggal dan plot paralel atau sub-subplot. Plot tunggal disebutkan oleh penulis, yaitu digunakan ketika pengarang ingin memfokuskan “dominasi” seorang tokoh sebagai pahlawan. Sementara plot paralel memiliki lebih dari satu, baik tokoh, alur cerita, hingga konflik yang dihadapi.
Materi-materi yang dijelaskan secara detail oleh penulis, bahkan terdapat contoh kajian karya sastra berupa novel menggunakan teori-teori sastra interdisipliner, seperti sosiologi sastra, sosiopragmatik, psikologi sastra, antropologi sastra, sastra bandingan, hingga ekranisasi. Kajian yang dicantumkan dalam buku ini akan membantu pembaca lebih memahami terkait unsur dalam prosa fiksi, dan bagaimana mengaplikasikan teori sastra untuk menganalisisnya, sehingga dapat dilakukan proses apresiasi sastra yang utuh.



