Menyibak Tirai Panggung Public Speaking
“Public speaking itu penting banget!”
“Mahasiswa harusnya jago public speaking!”
Sering nggak, sih, mendengar kedua kalimat di atas, atau sejenisnya? Apalagi sebagai mahasiswa. Banyak orang menuntut, atau berekspektasi lebih mengenai skill public speaking mahasiswa. Apalagi jika ingin aktif di suatu organisasi tertentu. Apapun divisinya, public speaking adalah hal yang penting untuk dikuasai, karena mahasiswa tak bisa lepas dari kegiatan berkelompok dan berdiskusi.
Tentunya, berbicara di depan umum, atau melakukan public speaking bagi sebagian orang adalah hal yang sulit. Joseph dalam artikel Susahnya Bicara di Depan Publik, Apa Sebabnya?, mencoba mengurai alasan di balik sulitnya public speaking. Ada lima hal yang ia tuliskan dalam artikel, yaitu takut akan gagal, tidak ada rasa percaya diri, traumatis, takut dinilai atau dihakimi, dan terlalu perfeksionis.
Agus Mulyadi dalam artikel 8 Tips Sederhana Public Speaking yang Baik dan Lumayan, menuliskan bahwa, poin penting dari public speaking adalah belajar dan jam terbang. Semakin sering seseorang terbiasa berbicara di depan umum, maka akan dengan mudah ia menanamkan kepercayaan diri. Oleh karenanya, Agus memberi pesan kepada pemula, bahwa ambil saja kesempatan untuk memulai public speaking, karena itu adalah hal ampuh dan paling awal dalam belajar terkait hal ini.
Setelah mengambil langkah awal tersebut, dan menambah kepercayaan diri, kita bisa mematangkan skill public speaking kita dengan buku berjudul A2Z Experience in Public Speaking karya Keizer., dkk. Buku ini ditulis oleh 18 penulis, yang merupakan anggota komunitas IPSA Speaker’s Note. Para penulis dari buku ini rata-rata berprofesi sebagai seorang pembicara di berbagai bidang.
Buku ini bukanlah buku teori yang akan membantu pembaca memahami secara tutorial bagaimana melakukan public speaking yang benar. Namun, buku ini akan membantu pembaca memahami secara lebih substansial terkait public speaking. Terdapat 18 tulisan dari ke-18 penulis, yang memiliki tema cukup beragam. Seperti halnya Verawaty Chandra yang menulis “Audiens itu Raja atau Sekutu(?)”, “Teknik Vokal” yang ditulis oleh Zaura Sylviana, dan Donny de Keizer yang menulis “Kekuatan Kontak Mata”.
Sekarang ini, kita hidup dalam dunia yang dikelilingi oleh kecanggihan teknologi, maka kita harus memanfaatkannya, juga mengenali tantangannya dengan baik. Gorky Sembiring dengan tulisan “Penguasaan Aspek Teknis dan Tips Manjur: Menjadi Pembicara Publik Handal di Era Digital”, membahas mengenai topik tersebut. Gorky menyebutkan terdapat dua elemen fundamental terkait dengan public speaking di era digital. Yang pertama ialah tantangan pembicara publik di era disrupsi, dan karakter pembicara publik yang wajib diperhatikan.
Gorky menyebutkan ciri umum pembicara publik yang handal, yaitu di antaranya ialah adaptasi, story telling, literasi visual, komunikasi interaktif, dan otensitas. Audiens di era digital, sering kali memiliki gangguan rentang perhatian pendek. Hal ini dikarenakan masuknya aliran informasi menjadi lebih konstan dan masif. Jika orientasi kita menjadi public speaker yang handal, maka kita harus bisa berkomunikasi interaktif dengan audiens. Kita sebagai public speaker, harus pandai untuk mendorong interaksi dengan memanfaatkan fitur digital, seperti jajak pendapat, tanya jawab, bahkan melalui chat.
Atau, masih memusingkan kendala yang dialami terkait public speaking? Yo Supriyanto membahas ini dalam tulisannya yang berjudul “Kendala dalam Public Speaking, Sikapi Tanpa Pusing”. Yo membuka tulisannya dengan kutipan dari Zig Ziglar, “Sebagian besar masalah dalam hidup adalah karena dua alasan: kita bertindak tanpa berpikir, atau terus berpikir tanpa bertindak”. Oleh karenanya, Yo menuliskan di bawahnya, bahwa kendala yang dialami pembicara adalah hal yang mungkin terjadi.
Ketika menghadapi suatu kendala, Yo menekankan pada pentingnya respons yang kita berikan terhadap situasi tersebut. Ia mengelompokkan kemungkinan kendala yang dapat dialami, menjadi dua, yaitu kendala internal dan kendala eksternal. Setelah mengelompokkan dan memahami adanya kemungkinan kendala dalam presentasi nantinya, maka perlu langkah, atau tindakan untuk meminimalisirnya. Yo menuliskan lengkap dalam tulisannya, sehingga pembaca dapat memahami dengan baik, dan mengaplikasinnya untuk memberikan presentasi dengan lebih baik lagi.
Menghadapi public speaking sama dengan menghadapi audiens yang akan memperhatikan kita dan kita berdiri di depannya. Verawaty Chandra menuliskan judul “Audiens itu Raja atau Sekutu(?)” dalam buku ini. Verawaty menganalogikan dengan film perang. Jika diperhatikan, sebelum perang dilaksanakan, akan ada pertemuan untuk mengetahui lebih detail lagi mengenai posisi dan kekuatan lawan. Oleh karenanya, sebagai public speaker, kita wajib mengetahui siapa dan bagaimana kekuatan lawan yang dihadapi, sehingga nantinya akan lebih percaya diri dan yakin.
Verawaty menuliskan, alih-alih menganggap audiens sebagai musuh, kita harus menganggap audiens sebagai sekutu. Hal ini dikarenakan ketika menyampaikan pesan, audiens akan menjadi posisi yang mendengarkan dan kita harus mengajak audiens melaksanakan apa yang hendak atau kita mau. Ia menyebutkan beberapa informasi yang perlu diperhatikan berkaitan dengan audiens, seperti siapa audiensnya, usia, jenis kelamin, status pendidikan, hingga budaya atau adat istiaday audiens.
Melalui berbagai tema yang diangkat para penulis dalam buku ini, pembaca akan diajak untuk menaklukan dunia public speaking. Seperti apa yang sering dikatakan, bahwa public speaking adalah tentang terus melatihnya secara rutin. Materi-materi yang disampaikan penulis dalam buku ini akan membantu para pembaca untuk mematangkan atau menajamkan skill public speaking. Pengalaman yang disisipkan para penulis juga akan membuat pembaca merasa lebih dekat dan mungkin relate dengan para penulis.



