Menyusuri Kembali Jejak Rahmatan Lil Alamin
Para pemuka Islam di seluruh dunia sejak tahun 1924 berupaya membangun kembali kekhalifahan yang diharapkan menjadi pemersatu umat Islam seluruh dunia.
— Bunyan Saptono, dalam buku Jejak Sejarah Dunia Islam di Mata Seorang Diplomat
Salah satu masa di mana Islam cukup berjaya di dunia ialah pada masa kekhalifahan Turki Usmani. Berfokus pada politik dan militer, Turki Usmani di bawah kepemimpinan Sultan Salim I berperan sebagai pelindung dan pemimpin bagi sejumlah kota suci Islam. Sultan Salim I memperkokoh kendali atas Mekah dan Madinah.
Bunyan Saptono mengupas tuntas sejarah dunia Islam melalui buku Jejak Sejarah Dunia Islam di Mata Seorang Diplomat. Ia membahas sejarah dunia Islam dari masa kepemimpinan Nabi Muhammad (abad ketujuh) hingga saat ini, yaitu abad ke-21. Pada abad ke-21 ini, Bunyan membahas bagaimana islam menghadapi persaingan antara Blok Barat dan Timur, melihat organisasi islam internasional, serta peran Indonesia di dalamnya.
Sementara itu, mengawali pembahasan sejarah Islam dari kepemimpinan Nabi Muhammad, disebutkan bahwa risalah Islam diturunkan kala bangsa Arab tengah hidup di zaman jahiliyah, atau masa kegelapan. Pada saat yang bersamaan, peradaban besar kala itu juga tengah mengalami kemunduran dan berada dalam masa kegelapan (The Dark Ages). Sayangnya, hampir tidak ada ulama atau penceramah yang menyebutkan hal ini.
Buku ini berfokus membahas konsep Rahmatan Lil Alamin, yang berarti bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh makhluk hidup di dunia ini, bukan hanya untuk segelintir kaum. Ayat 107 dalam Surat Anbiya menegaskan bahwa Islam bukanlah sesuatu yang eksklusif atau terbatas pada suatu kelompok atau komunitas tertentu. Untuk mewujudkan konsep ini, Bunyan menyebutkan bahwa diperlukan manusia berkualitas unggul seperti Nabi Muhammad juga para sahabatnya, yang juga menjadi teladan dalam umat Islam.
Kita dapat meneladani Nabi Muhammad dan kepemimpinan para sahabat—dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin—dalam upaya mewujudkan konsep Rahmatan Lil Alamin. Beberapa pelajaran yang dapat diambil ialah, yang pertama, meneladani dalam tindakan, keadilan, serta dedikasi terhadap kesejahteraan umat Islam. Kedua, kita dapat menerapkan prinsip konsultasi atau shura. Prinsip ini menyatakan bahwa pada setiap pengambilan keputusan dan kebijakan, pemimpin harus aktif untuk melibatkan para tokoh dan masyarakat.
Selanjutnya yang ketiga, ialah keadilan dan kesetiaan. Pemimpin haruslah memperlakukan rakyatnya secara adil, tanpa memandang suku, ras, juga agama mereka. Keempat, ialah memiliki kemampuan adaptasi dan inovasi. Pemimpin dapat meneladani Nabi Muhammad dan para sahabatnya dalam kemampuan beradaptasi di perubahan lingkungan juga situasi yang kompleks.
Kelima, kita harus memahami prioritas utama dalam kepemimpinan, salah satunya ialah menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi juga kelompok. Keenam, sikap yang dapat diteladani ialah tabah dan teguh dalam menghadapi rintangan, termasuk mengatasi tantangan dengan tekad dan keyakinan yang kuat. Terakhir, pemimpin harus meneladani sikap murah hati dan kepemimpinan yang penuh kasih sayang dari Nabi Muhammad juga para Khulafaur Rasyidin.
Bunyan dalam buku ini juga memberikan saran pemikiran untuk mengembalikan kejayaan dunia Islam, sehingga konsep Rahmatan Lil Alamin dapat terwujud, tidak hanya menjadi konsep yang dikenang dalam sejarah Islam. Buku ini mengupas sejarah dunia Islam melalui pendekatan sejarah dan ilmu hubungan internasional.
Membaca konsep Rahmatan Lil Alamin, kita dapat menilik pada negara Indonesia sendiri. Indonesia terkenal sebagai negara dengan populasi Muslim terbanyak di dunia. Berdasarkan data dari Pew Research Center, Indonesia memiliki sekitar 240 juta masyarakat beragama Islam. Oleh karenanya, bukan hal yang langka pula ketika mushaf Al-Quran sering kali dihadirkan dalam acara-acara publik, khususnya pada acara sumpah pejabat. Sebelum secara resmi bertugas, pejabat wajib untuk mengucapkan sumpah jabatan.
Sayangnya, harapan dari sumpah ini tak seindah kenyataannya. Kasus korupsi besar yang satu per satu terkuak sejak awal tahun 2025 di Indonesia, memicu ketidakpercayaan rakyat Indonesia terhadap pemerintahan. Data yang dikeluarkan oleh Transparency International, Indonesia memiliki skor Indeks Persepsi Korupsi sebesar 37/100, dan menempati ranking 99 dari 180. Skor ini tentunya cukup buruk, meski ada banyak negara lain di bawahnya. Peringkat pertama diduduki oleh Denmark sejak tahun 2021 dengan skor tetap 90.
Namun, disebutkan bahwa peran Indonesia dalam konteks dunia telah berkontribusi baik dalam buku yang ditulis Bunyan ini. Khususnya, Indonesia telah berperan menjembatani perbedaan dan menjadi bagian dari solusi di tengah rivalitas yang meningkat. Peran Indonesia di mata internasional sudah sangat baik. Meskipun begitu, pemerintah Indonesia harusnya meneladani kepemimpinan Nabi Muhammad dan para Khulafaur Rasyidin. Khususnya dalam hal mementingkan kepentingan umat atau rakyat, dalam melaksanakan kebijakan apapun.
Prioritas ini harusnya menjadi yang utama, karena para pejabat Indonesia diamanahi oleh rakyat untuk memimpin negara Indonesia. Jika rakyat Indonesia saja tak lagi memiliki kepercayaan pada pemerintahan Indonesia, lalu sumpah yang dilakukan sebelum para pejabat menduduki kursi jabatannya ditujukan pada siapa? Sementara ia sudah melanggar larangan Allah, dan tak memprioritaskan rakyatnya.
“Allah tidak menghukum kamu karena sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena sumpah-sumpah yang kamu ikrarkan dengan sungguh sungguh.” — Surat al-Maidah: 89

Related Products
-
Cerita-Cerita saat Melaksanakan Ibadah Haji (Hikmah dan Petuah)
Rp90,000 -
Integrasi Akidah dan Akhlak: Pondasi Kuat untuk Kehidupan Bermakna
Rp85,000 -
Keistimewaan Masa Kecil Rasulullah
Rp93,500 -
Menyelami Paradoks dalam Kekristenan (Menemukan Kedalaman Kebenaran di Tengah Hal-Hal yang Tampak Bertentangan)
Rp115,000






