Pelukan Ibu dalam Lekukan Buku
Dewasa ini, Ibu sudah bukan lagi orang yang bisa terus mengawasi langkah kaki dan cara berjalanmu. Namun, Nak, setiap permasalahan adalah kunci dan gembok. Jika sekarang kamu menjadi gembok, kamu boleh datang kepada Ibu, bercerita tentang sedihmu dan bersama ibu mencari kunci yang cocok untukmu.
— Mustofa, dalam buku Tisu Penghapus Air Mata dari Ibu
Setelah menantikan kehidupan dewasa—yang dulunya kita pikir akan keren, asyik, dan membahagiakan—ternyata tak seindah itu, ya. Banyak luka yang perlu kita sembunyikan, serta banyak tangis yang menghias di tiap malam sebelum akhirnya bersua dengan mimpi. Memang, ternyata menjadi dewasa lebih menakutkan dari yang kita kira.
Apalagi, beberapa dari kita harus meniti kehidupan dewasa ini sendirian, tanpa tangan ibu, ayah, atau bahkan keduanya. Rasanya … benar-benar hilang arah. Gundah yang dulu kita uraikan bersama ibu, ternyata tak lagi bisa terurai. Arah yang selama ini kita tanyakan kepada ayah, ternyata menjadi buntu.
Kalimat, “Seandainya … ibu/ayah masih ada ….”, terus terulang dalam benak, bahkan menjadi penyesalan yang menggerus di dalam hati, seiring berjalannya waktu. Proses-proses yang tak dilalui bersama seseorang yang melahirkan, merawat, dan menyayangi lebih tulus daripada siapa pun, ternyata sesakit ini.
Mustofa melalui buku Tisu Penghapus Air Mata dari Ibu, mengajak pembaca untuk menyusuri kenangan yang penuh kehangatan dengan nasihat Ibu. Ibu yang selalu menyiapkan telinga untuk mendengar setiap kegundahan kita, yang selalu menyiapkan makanan hangat setelah kita menangis di pelukannya, dan yang selalu meyakinkan, bahwa dirinya selalu bersama kita.
Buku ini berisi sepenggal kisah-kisah yang berisi obrolan antara sang ibu dan anaknya. Sudut pandang yang digunakan ialah sudut pandang orang pertama, Aku, yang merupakan anak laki-laki. Obrolan ibu-anak ini mengandung topik yang umum, keseharian, life things, hingga romansa. Tokoh Ibu berperan sebagai sosok ibu biasanya, yang kerap kali menasehati, dan terkadang memarahi jika kita melakukan sesuatu yang tak baik.
Mustofa menghadirkan tokoh ibu yang sering kali menyampaikan nasihat, dengan dibalut analogi-analogi. Seperti dalam bab yang berjudul “Makanan yang Kamu Kunyah”. Di sini, tokoh Aku tengah menyembunyikan kesedihannya akan masalah yang tengah ia hadapi. Kelelahan akan rutinitas yang semakin membuat Aku mulai kehilangan arah di hidupannya. Lalu, tokoh Ibu datang, memberi nasihat agar anaknya mau berbagi resah dengannya. Ibu lalu menganalogikan proses kesedihan sang anak dengan proses saat manusia makan.
Sang Ibu mengatakan, “Seperti makanan, Nak. Coba saja kamu telan bulat bulat, pasti dadamu akan sesak! Begitu juga masalahmu. Kamu akan kesulitan jika tak menghancurkannya. Coba gerus pelan-pelan! Rincikan apa yang menjadi permasalah itu! Tuliskan! Entah melalui kertas atau kamu petakan di kepalamu. Pelan-pelan! Jika kamu sudah temukan pasti jalannya akan mulus, menelannya akan mudah. Yang terpenting adalah mengunyah dan menelan pelan-pelan.”
Meski di beberapa bab, Mustofa menggunakan analogi kepada tokoh Ibu dalam memberi nasihatnya, tetapi analogi ini tak membuat kalimat menjadi sulit dipahami. Analogi yang diberikan digunakan malah akan membuat pembaca menapaki perenungan. Kadang kala, ketika kita dinasihati oleh orang tua, ada waktu di mana kita tak langsung bisa menerima apa yang dikatakan oleh orang tua kita. Oleh karenanya, kita melewati beberapa waktu terlebih dahulu, untuk merenung, memikirkan kembali, sampai akhirnya paham maksudnya.
Buku ini juga menghadirkan suasana yang serupa. Analogi-analogi yang diberikan akan membuat kita menjelajahi ranah perenungan. Bagaimana nasihat-nasihat tokoh Ibu dalam buku ini, akan membantu kita untuk semakin kuat dalam menjalani hidup. Melalui perenungan akan analogi yang mungkin di awal terasa agak membingungkan, tapi seiring kalimat terus dibaca, maka kita akan sampai pada akhir perenungan, dengan pemahaman yang lebih baik.
Penulis juga menghadirkan tokoh Ibu yang “keibuan” sekali, dengan nasihatnya, selipan petuah dalam tegurannya, dan kelembutan doa dalam setiap ucapannya. Kita akan diajak mengingat ibu, melalui tokoh Ibu ini. Mengingat sosoknya yang kita tinggalkan kala berjuang di rantauan, sosoknya yang selalu menunggu kita di rumah dengan nasi hangat dan lauk kesukaan kita, atau sosoknya yang telah berpulang dengan damai dalam pelukan Tuhan.
Melalui buku ini, kita akan merangkul, memeluk, dan mengingat sosok Ibu, yang selalu menemani kita, mendengarkan keluh-kesah kita, dan yang selalu siap memberi nasihat terlembutnya pada anaknya. Pengingat bahwa, kita akan selalu memiliki tempat teraman di sebelah ibu, walau telah terpisah jarak dan waktu, walau yang kita kunjungi sekarang hanya gundukan tanah dan nisannya. Namun, di sana kita tetap akan menemukan pulang yang tenang, dan dicintai tanpa syarat olehnya.


