Pencegahan Stunting yang Tak Sebanding
“Makan siang gratis” adalah program yang diunggul-unggulkan pasangan capres dan cawapres nomor urut dua, yaitu Prabowo-Gibran di Pilpres 2024 lalu. Setelah resmi terlantik, program ini resmi dijalankan mulai tanggal 6 Januari 2025 lalu, dengan pengubahan nama menjadi Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini berjalan di bawah naungan Badan Gizi Nasional (BGN), melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sedari awal program ini dicanangkan, banyak masyarakat yang mengkritik keras. Salah satu kritik diutarakan oleh @SoeTjenMarching, dalam salah satu cuitannya di X. Ia menuliskan, “Makan siang gratis adalah program yang cenderung melanggengkan perbudakan rakyat. Karena rakyat tidak dibuat cerdas atau kritis, melainkan dibikin tergantung perutnya pada penguasa.”
Disebutkan bahwa adanya MBG ini untuk menekan angka stunting yang tinggi di Indonesia. Sayangnya, alih-alih memantapkan pondasi agar masyarakat mampu berdaya sendiri, pemerintah memilih mencanangkan program yang sangat riskan pelaksanaannya. Salah satunya masalah anggaran, seperti yang terjadi dengan dapur umum milik Ira Mesra yang digaet menjadi mitra yayasan BGN.
Dapur umum Ira Mesra terpaksa menghentikan operasional sejak masa libur Lebaran 2025, dikarenakan kerugian yang dialami mencapai Rp975,3 juta. Hal ini terjadi dikarenakan biaya bahan baku dan operasional oleh Yayasan Berkat Media Nusantara (MBN) yang menjadi mitra BGN belum dibayarkan. Meski dalam artikel tersebut masalah tersebut berhasil diselesaikan dan dapur kembali beroperasi, tidak menutup kemungkinan akan ada masalah serupa ke depannya.
Stunting didefinisikan Opusunggu., dkk,—dalam bukunya Pencegahan Stunting—sebagai kondisi balita yang memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang, jika dibandingkan dengan umurnya. Lebih jelasnya, stunting disebut sebagai kegagalan pertumbuhan akibat akumulasi ketidakcukupan nutrisi yang berlangsung dari kehamilan, hingga anak berusia 24 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa stunting dapat terjadi ketika janin masih di kandungan dan nampak saat anak berusia dua tahun.
Opusunggu., dkk, menyebutkan bahwa kasus balita stunting termasuk pada masalah gizi kronik, yang disebabkan oleh berbagai faktor. Beberapa faktor di antaranya ialah kondisi sosial-ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Balita stunting akan mengalami kesulitan untuk mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal.
Salah satu penyebab yang diduga menjadi faktor utama terjadinya kurang gizi dalam buku ini ialah tidak terpenuhinya asupan gizi dan adanya riwayat penyakit infeksi yang berulang. Penulis menjabarkan beberapa ciri anak yang mengalami stunting, salah satunya ialah performa buruk pada tes perhatian dan memori belajar. Tentunya hal ini membuat kasus stunting harus disikapi oleh pemerintah dengan lebih serius dan matang, karena menyangkut masa depan negara. Angka stunting juga bisa menjadi gambaran indikator keberhasilan pendidikan, kesejahteraan, dan pendapat masyarakat di suatu negara.
Disebutkan dalam buku ini, upaya pencegahan stunting dimulai sejak 1.000 pertama kehidupan bayi, meliputi 270 hari dalam kandungan dan 730 hari pertama setelah dilahirkan. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan harus difokuskan sejak ibu hamil, menyusui, hingga anak berusia 0—23 bulan. Opusunggu., dkk, menyebutkan bahwa buruknya gizi pada masa krusial ini akan memiliki konsekuensi yang permanen pada anak.
Bayi yang tidak terpenuhi gizinya sejak dari kandungan, dan terus berlanjut, bahkan gagal dalam proses perbaikan gizinya, akan membuat anak mengalami kejadian stunting atau kurang gizi kronis. Opusunggu., dkk menyebutkan, rangkaian peristiwa ini dapat terjadi dikarenakan rendahnya pendapatan, sehingga ibu, atau keluarga sang bayi tak mampu memenuhi kecukupan gizi yang sesuai.
Opusunggu., dkk, dalam buku ini juga membahas mitekor, kalsium, dan protein. Mitekor ialah mi basah yang terbuat dari penambahan tepung daun kelor dan tepung ikan teri. Tanaman kelor sendiri sudah dikenal dunia sebagai tanaman yang dapat digunakan untuk mengatasi kelaparan dan malnutrisi. Tak hanya itu, daun kelor direkomendasikan sebagai suplemet kaya zat gizi untuk ibu menyusui dan anak saat masa pertumbuhan.
Sementara teri, ia merupakan salah satu potensi perikanan laut di Indonesia yang dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Hal ini dikarenakan teri banyak mengandung protein dan kalsium yang sangat diperlukan tubuh untuk proses perbaikan dan membangun jaringan, terutama jaringan tulang dan gigi. Ikan teri, baik segar maupun kering, memiliki kandungan protein dan kalsium tertinggi.
Pembahasan kalsium dalam buku ini berfokus pada fungsinya. Kalsium dibutuhkan tubuh untuk membentuk dan memperbaiki tulang serta gigi, membantu fungsi saraf, kontraksi otot, pembentukan darah, hingga berperan dalam fungsi jantung. Kalsium juga merupakan mineral yang paling banyak terdapat dalam tubuh, dengan perkirakaan sekitar 99% total kalsium dapat ditemukan dalam jaringan keras, yakni tulang dan gigi. Oleh karenanya, kekurangan zat kalsium akan menyebabkan gangguan pertumbuhan. Namun, kelebihan zat kalsium dalam tubuh juga akan menyebabkan gangguan ginjal, yaitu batu ginjal, yang akan menyebabkan susah buang air.
Sementara protein adalah makromolekul yang menyusun lebih dari separuh bagian dari sel. Protein menjadi zat gizi yang sangat penting, dikarenakan hubungannya erat denagn proses-proses kehidupan. Di dalam tubuh, ia berfungsi dalam mengganti dan memelihara rusaknya sel tubuh, metabolisme, reproduksi, hingga kelangsungan proses normal dalam tubuh. Protein juga berperan sebagai zat penambah darah dalam mencegah dan mengatasi anemia.
Protein memiliki fungsi penting dalam pencegahan stunting, yaitu berfungsi untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan baru, pembentukan ikatan-ikatan esensial tubuh, mengatur keseimbangan air dalam tubuh, mengatur netralisir tubuh, mengangkut zat-zat gizi, sumber energi, hingga pembentukan antibodi.
Becermin pada MBG, agaknya pelaksanaannya menjadi melenceng dengan tujuannya, yaitu dalam pencegahan stunting. Banyaknya foto beredar, bahwa pembagian porsi makanan MBG sangat beraneka ragam, dari yang miris hingga cukup. BBC merangkum foto MBG dan reaksi para siswa yang menerimanya dalam artikel Program makan bergizi gratis andalan Presiden Prabowo Subianto ‘belum memenuhi standar kebutuhan gizi’. Berbagai masalah seperti keterlambatan, ragam makanan yang tak bervariasi, hingga sistemnya yang hanya diterima secara bergilir.
Sebagai pencegahan stunting, target penyaluran kepada sasaran masyarakat yang berpotensi mengalami, hanyalah sedikit. Ashri dalam artikel BKKBN Antisipasi Masalah Distribusi Makan Bergizi Gratis, menyebutkan bahwa MBG hanya ditargetkan ke ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita non-PAUD, sekitar 10% dari total penerima MBG di setiap daerah. Target MBG didominasi kepada pelajar, membuat kritik terhadap MBG semakin keras.
Apalagi dengan beberapa kasus belakangan yang makin keterlaluan. Mannan dalam artikel berjudul Rincian 17 Kasus Keracunan MBG di Seluruh Indonesia, merangkum kasus keracunan MBG sejak awal pelaksanaannya (per Mei 2025). Terdapat tujuh belas catatan kasus keracunan yang terjadi di berbagai daerah, mulai dari Jawa, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara Timur.
Tanggapan Prabowo akan kasus ini pun dianggap nir-empati oleh masyarakat. Prabowo malah menghitung data siswa keracunan ini, dan membandingkan dengan tingkat keberhasilannya. Ia menghitung bahwa 200 siswa dari total penerima MBG yang berkisar pada jumlah tiga sekian juta, maka ia menilai keberhasilan MBG adalah 99,99 persen. Ia bahkan malah menyalahkan beberapa siswa yang tak mau makan menggunakan sendok, dan tak cuci tangan.
Akun @MurtadhaOne1 menyuarakan kritiknya terhadap respons Prabowo mengenai keracunan MBG. Ia menuliskan, “Bagi Prabowo, anak-anak yang meregang nyawa keracunan MBG ini hanyalah collateral damage, angka statistik. Tanpa empati, Prabowo membanggakan program MBG dengan mengatakan anak-anak yang keracunan ini hanya 0,005% …. Bagi orang tua anak-anak tersebut, kejadian ini adalah percobaan pembunuhan anak-anak mereka.”
Anggaran yang semakin membengkak, dan kasus yang tak ada habisnya, Prabowo perlu mengevaluasi dan mengakui bahwa program MBG ini telah banyak memakan korban, baik fisik maupun materi. Tak lagi berpatokan pada tujuan awal, yaitu untuk mengatasi stunting, maka masyarakat juga bisa menilai, apakah program MBG ini benar-benar untuk menekan angka stunting, atau ambisi janji Pilpres 2024 semata?



