Pepohonan: Ekosistem Perkotaan yang Semakin Dianaktirikan Peradaban

Pepohonan: Ekosistem Perkotaan yang Semakin Dianaktirikan Peradaban

Februari 2026 lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menetapkan 200 pohon perindang yang diprioritaskan ditebang di ruas ring road Janti hingga Gamping. Mujahid Amrudin, Kepala Pelaksana BPBD Bantul, menyebutkan bahwa 200 pohon tersebut perlu segera ditebang karena kondisi akar dan batangnya yang sudah rapuh. Sebagian besar pohon dalam daftar ialah pohon berjenis Munggur yang memiliki karekater akar tunjang dan batang getas, sehingga mudah patah saat diterpa angin kencang.

Meski alasan penebangan dapat dijelaskan oleh pihak terkait dan dipahami dampaknya oleh kita semua, tetapi rasa-rasanya penebangan pohon yang telah dicanangkan tidak diberi perhatian untuk kondisi setelah penebangan. Pohon-pohon perindang yang awalnya memayungi kendaraan yang berlalu-lalang, kini hanya menyisakan kegersangan di ruas jalan ring road yang berstatus jalan nasional itu. Ditambah kemarau panjang yang diprediksi baru akan berakhir November–Desember 2026, menambah ketidaknyamanan pengguna jalan.

Pengambil kebijakan perlu memahami esensi pohon, serta manfaatnya bagi masyarakat. Seperti yang ditulis Kukuh Sungkawa dalam bukunya yang berjudul Restorasi Ekosistem Perkotaan, bahwa pepohonan ibarat pendingin udara alami melalui proses transpirasi, yang juga memberikan keteduhan. Oleh karenanya, hilangnya pepohonan tidak hanya akan mengubah tampilan kota, tetapi juga berdampak pada hewan dan serangga yang menjadikan pohon sebagai rumahnya.

Pepohonan di perkotaan membersihkan udara dengan menyerap polusi atau karbondioksida, lantas menggantikannya dengan oksigen yang baik dan bersih. Selain itu, pepohonan juga memberikan tempat yang teduh untuk makhluk hidup di bawahnya, memberikan ruang yang nyaman dan indah. Sederhananya, pepohonan turut berperan besar dalam membuat udara menjadi lebih bersih dan sehat bagi semua orang.

Dalam bukunya, Kukuh Sungkawa membahas mengenai restorasi ekosistem perkotaan, yang mana mengacu pada proses revitalisasi dan peningkatan lingkungan alam di wilayah perkotaan dengan bijaksana. Tujuan dari dilakukannya restorasi adalah meningkatkan kesehatan ekosistem ruang perkotaan, memperkenalkan kembali spesies tumbuhan dan hewan asli, hingga menciptakan kembali ekosistem yang seimbang dan berketahanan.

Proses restorasi umumnya mencakup kegiatan penanaman pohon dan vegetasi asli, memperkenalkan kembali satwa liar, meningkatkan kualitas tanah, serta menerapkan praktik lanskap berkelanjutan. Alih-alih berfokus pada estetika, restorasi ekosistem perkotaan mengharapkan terciptanya ekosistem yang fungsional dan mandiri di tatanan perkotaan. Namun, perlu diberi catatan bahwa restorasi berbeda dengan konservasi.

Menurut Kukuh Sungkawa, restorasi dan konservasi adalah dua pendekatan yang berbeda, baik dalam tujuan juga metodenya. Konservasi berfokus pada penjagaan akan sumber daya alam, habitat, serta keanekaragaman hayati yang ada. Tujuan konservasi sendiri adalah mempertahankan ekosistem yang ada dan mencegah penurunan lebih lanjut, sehingga lebih fokus pada pentingnya menjaga keseimbangan dan fungsi habitat alami. Selain itu, konservasi berfokus kepada perlindungan jangka panjang terhadap kawasan alam yang ada.

Sementara itu, restorasi mengakui bahwa ekosistem telah terganggu dan berupaya secara aktif untuk memperbaiki dan menciptakan kembali ekosistem tersebut. Proses ini sering kali melibatkan perencanaan ekstensif, penelitian, sampai keterlibatan masyarakat yang bertujuan memastikan keberhasilan pemulihan ekosistem dan fungsinya. Proyek restorasi bersifat lokal dan memiliki jangka waktu tertentu, karena melibatkan intervensi aktif untuk pemulihan kawasan terdegradasi dalam jangka waktu tertentu.

Banyak manfaat restorasi ekosistem bagi lingkungan dan yang akan dirasakan masyarakat perkotaan, di antaranya ialah meningkatnya kualitas air, berkurangnya risiko banjir, meningkatnya ketahanan iklim, terciptanya koridor satwa liar, meningkatnya kesehatan dan kesejahteraan manusia, hingga peningkatan nilai properti. Namun, Kukuh Sungkawa juga menegaskan bahwa manfaat itu tidak selalu mudah diukur dan dibandingkan jika melibatkan ketidakpastian. Oleh karenanya, perencana tata ruang kota perlu menggunakan indikator dan metrik yang tepat dalam mengukur manfaat restorasi ekosistem.

Terlebih, dampak dari restorasi ekosistem membutuhkan proses panjang untuk bisa dirasakan, baik dari segi estetika maupun fungsi restorasi sistem itu sendiri. Dampak restorasi juga tak hanya pada hal-hal positif saja, melainkan sebaliknya pula, seperti perubahan penggunaan lahan, dampak terhadap infrastruktur, perubahan estetika, hingga peluang konflik antara pihak yang berkepentingan.

Salah satu tantangan yang dibahas dalam buku Restorasi Ekosistem Perkotaan ini adalah terbatasnya ruang hijau. Hal ini akan berakibat pada terbatasnya potensi restorasi dengan skala besar, sehingga dapat terjadi fragmentasi habitat. Terfragmentasinya habitat membuat keragaman genetik menurun dan membatasi kemampuan spesies untuk bermigrasi atau menyebar. Selain itu, interaksi antara satwa dan manusia turut berpotensi melahirkan konflik yang juga menjadi suatu tantangan dalam upaya restorasi.

Ketika manusia di kota semakin banyak, bukan berarti jumlah pohon dikurangi, tetapi sebaliknya, harus ditambah secara ekstrem.

Realitasnya, sering kali penertiban pohon perindang yang membahayakan masyarakat atau proses pelebaran jalan yang menebang pohon-pohon di pinggir jalan, tidak melakukan upaya restorasi setelahnya. Debu-debu sisa proyek dan sinar matahari yang terik menyengat adalah fenomena tertinggal pada sisa-sisa proyek-proyek tersebut. Masyarakat kehilangan peneduh alaminya, satwa kehilangan tempat tinggalnya, dan perkotaan kehilangan ekosistemnya.

Padahal, menurut Kukuh Sungkawa, menurun dan hilangnya jumlah pepohonan di lingkungan perkotaan memiliki dampak yang luas terhadap keanekaragaman hayati perkotaan. Kehadiran pepohonan sangat penting, karena mereka berfungsi sebagai habitat bagi satwa liar, seperti burung, serangga, dan hewan kecil lainnya. Selain itu, pepohonan juga berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan perkotaan dengan menjaga kestabilan temperatur, menyediakan naungan yang teduh, serta sumber makanan dan tempat berkembang biak bagi berbagai spesies kecil.

BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *