Perempuan Sasak: Diculik untuk Dinikahi
Tren pernikahan pada masa ini terus bergeser menjadi konsep pernikahan internasional. Dengan gaun berwarna putih, penutup kepala (veil), hingga aspek seperti bridesmaid yang pada hari ini sangat lumrah ditemui. Hal ini dapat dilatarbelakangi oleh banyak faktor, salah satunya karena masifnya pernikahan selebritis yang menggunakan konsep internasional, sehingga membuatnya menjadi sebuah tren.
Santika Indonesia melakukan survei terkait konsep pernikahan paling diminati, yang terangkum dalam artikel Survei: Pernikahan Modern Diminati Tahun 2024. Survei ini menunjukkan, bahwa 59% responden (dari total 2.723 responden) memilih pernikahan modern, dan sisanya pernikahan tradisional. Namun, Anwar Riksono selaku Corporate Loyalty Program Manager Santika Indonesia Hotels & Resorts, menyatakan bahwa hal tersebut masih bergantung pada daerah. Contohnya di wilayah Padang, sebanyak 77% responden masih menginginkan pernikahan tradisional dibandingkan modern.
Jika ditilik lebih jauh, pernikahan pada masa modern ini lebih mengedepankan seremonial daripada hal yang lebih esensial. Hal ini turut diutarakan oleh Indah Rizki Ramadhani, seorang ibu rumah tangga yang menjadi narasumber dari artikel Bagaimana Generasi Terkini Memaknai Pernikahan. Indah mengatakan bahwa banyak hal yang dapat diperhatikan mengenai konsep pernikahan, tetapi itu semua kembali kepada value pasangan dan norma budaya Indonesia.
Indah menceritakan pernikahannya dengan suaminya lalu. Meski ia dan suami bukanlah orang Sunda, keduanya memakai salah satu prosesi pernikahan Sunda yakni sungkem dan pengajian. Prosesi ini dipilih karena Indah dan suaminya menghargai budaya Sunda, tempat di mana ia dan suaminya tinggal serta bertemu. Indah juga menjelaskan, prosesi ini tak memerlukan biaya lebih, tetapi memiliki nilai tinggi, sehingga keduanya melaksanakan prosesi ini dalam pernikahannya.
Faktor biaya menjadi salah satu mengapa pernikahan tradisional kurang diminati para calon pengantin. Pakar pernikahan tradisional, Danny Iskandar menyatakan bahwa biaya pernikahan tradisional memang lebih mahal. Hal ini dikarenakan memang banyak yang harus diperhatikan, seperti dekor yang membutuhkan bunga segar. Tak hanya itu, jika dilihat dari adat, maka memang membutuhkan banyak orang untuk mengarahkan dan sebagainya. Hal ini menjadi salah satu alasan pula, mengapa pernikahan di KUA sekarang juga tengah menjadi tren.
Namun, Juniman dalam artikel Zaman Modern, Pernikahan Tradisional Justru Makin Diminati, menyatakan sebaliknya. Ega Alamsjah, Managing Director Wedding Carnaval, menyebutkan bahwa daya tarik pernikahan tradisional yang membuat orang ingin merekam pernikahan dalam konsep tradisional. Daya tarik tersebut di antaranya ialah rasa nostalgia, juga memberikan kedekatan yang lebih intim daripada konsep pernikahan internasional.
Artikel tersebut menyebutkan, bahwa peminat pernikahan tradisional di tahun 2010, hanya menunjukkan angka 10%. Namun, angka tersebut terus naik hingga pada tahun 2017, peminatnya mencapai 40%. The Ritz-Carlton juga menyajikan data terkait peminat pernikahan tradisional yang digelar di hotel bintang lima tersebut, terus meningkat. Dini Tirtasari, Cluster Director Wedding & Social The Ritz-Carlton Jakarta, juga menyatakan bahwa peluang dan potensi pernikahan tradisional bisa terus digali, bahkan mengubah angkanya sampai 60%.
Jika ditelusuri, banyak sekali adat pernikahan tradisional di Indonesia. Pernikahan tradisional ini pun beragam, mulai dari prosesi yang sakral, busana adat yang detail, hingga prosesi yang unik. Salah satu adat pernikahan yang unik ialah pernikahan masyarakat Sasak. Masyarakat Sasak adalah etnis kesukuan yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Prosesi pernikahan (bejangkep) yang unik dari masyarakat Sasak ini ialah merariq, atau menculik perempuan sebelum dinikahi.
Buku yang ditulis Anggarista dan Jaeka dengan judul Setilah dalam Prosesi Bejangkep Suku Sasak Lombok, mengulik lebih dalam mengenai bejangkep dalam Suku Sasak. Tak hanya berfokus menjelaskan bagaimana prosesi itu digelar, penulis juga memberikan penjelasan lebih dalam mengenai filosofi prosesi pernikahan melalui istilah (setilah) dalam prosesi pernikahan pada Suku Sasak.
Melalui kajian etnolinguistik, setilah yang ada dalam bejangkep masyarakat Suku Sasak memiliki nilai filosofis yang kuat. Asumsi dasar dari teori etnolinguistik ialah terdapat hubungan antara bahasa dan budaya sebagai identitas masyarakat. Hal ini dikarenakan bahasa dapat hadir, beriringan dengan kelompok etnik. Bahasa juga merupakan ekspresi, norma, juga nilai yang dimiliki masyarakat.
Ada beberapa prosesi pernikahan dalam Suku Sasak yang tak asing lagi bagi masyarakat umum. Contohnya ialah berayean. Anggarista dan Jaeka menjelaskan, berayean ialah langkah awal yang dilakukan oleh pasangan laki-laki dan perempuan, dan memiliki makna yang relevan dengan berpacaran. Lalu, sampai pada prosesi yang paling unik ialah maling atau melaiq. Pada prosesi ini, laki-laki akan membawa lari, atau menculik perempuan yang merupakan kekasihnya, ke rumah salah satu anggota keluarga laki-laki.
Melalui buku ini, pembaca dapat memahami lebih jauh terkait merariq, juga prosesi lain yang dilakukan oleh masyarakat Sasak saat melangsungkan pernikahan. Tak hanya terkait prosesi, penulis juga menjabarkan terkait tempat yang nantinya digunakan untuk melangsungkan syukuran (begawe), atau disebut tetaring, makanan yang disuguhkan, hingga peran orang yang membantu dalam begawe, salah satunya yaitu ran, atau juru masak.
Pembaca juga dapat memahami lebih jauh terkait filosofi setilah dalam prosesi bejangkep pada masyarakat Sasak. Salah satunya, setilah tersebut merefleksikan sistem pengetahuan masyarakat Sasak. Oleh karenanya, buku ini menjadi pilihan baik untuk pembaca yang ingin melangsungkan pernikahan menggunakan adat Sasak, atau ingin memahami lebih jauh terkait budaya masyarakat Sasak, salah satunya budaya pernikahan.



