Pesantren dalam Arus Digitalisasi

Pesantren dalam Arus Digitalisasi

Brain rot menjadi istilah yang tidak asing di tengah gempuran media sosial yang berlomba-lomba menambahkan fitur video pendek dalam aplikasinya. Menurut artikel yang ditulis Genis Dwi Gustati dalam laman UMS, brain rot didefinisikan sebagai kondisi di mana terjadi penurunan kognitif akibat konsumsi konten digital yang pendek dan berulang, seperti video di TikTok atau meme absurd yang tak membutuhkan daya nalar. Fenomena ini juga berkaitan erat dengan kebiasaan doomscrolling media sosial.

Melalui artikel tersebut, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta—Prof. Dr. Sri Lestari, S.Psi., M.Si., Psikolog. menyebutkan bahwa situasi ini terjadi dikarenakan informasi pendek membuat otak malas berpikir. Serabut saraf yang seharusnya aktif dan saling terhubung menjadi lemah, karena tidak digunakan untuk menganalisis. Dalam jangka panjang, brain rot dapat menyebabkan penurunan daya ingat dan kemampuan analisis, kehilangan fokus dan konsentrasi, kemampuaan berpikir kritis dan kompleks tidak berkembang, hingga ketergantungan pada validasi sosial.

Salah satu kemampuan yang ikut terpengaruh akibat brain rot adalah kemampuan literasi. Literasi, tegas Rikie Kartadie melalui artikelnya di laman Universitas Teknologi Digital Indonesia, bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga keterampilan untuk memahami, menganalisis, serta mengevaluasi informasi secara kritis. Ia menyebutkan bahwa terdapat empat cara brain rot untuk menyerang literasi manusia, yakni melalui penurunan kemampuan membaca mendalam, pelemahan daya kritis, ketergantungan akan konten visual, dan merasa kesulitan untuk menyusun gagasan yang sistematis.

Senada dengan hal tersebut, Aep Saepurohman dalam bukunya yang berjudul Manajemen Literasi Digital Pondok Pesantren, turut menyepakati pentingnya kemampuan literasi. Di dalam agama Islam sendiri, ilmu dan pembelajaran adalah salah satu hal penting. Konsep pendidikan berbasis Al-Qur’an yang didasarkan pada kata iqra dengan arti ‘bacalah’, menekankan keseimbangan antara pengetahuan dan nilai spiritualitas. Literasi dalam pandangan Islam ialah mencakup beberapa aspek, mulai dari penerapan nilai-nilai etika dalam keseharian, hingga pemahaman tentang keuangan syariah.

Selain itu, di tengah derasnya arus digitalisasi dan modernisasi dalam kehidupan manusia, maka Aep Saepurohman juga meyakini bahwa literasi digital turut menjadi hal yang penting pula. Tidak hanya menyasar kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup pemahaman mengenai bagaimana menggunakan teknologi tersebut secara efektif, kritis, dan tentunya bertanggung jawab. Berkaitan dengan ranah pondok pesantren, Aep Saepurohman melihat bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional sering bersikap resistans terhadap perubahan, salah satunya kurang terbuka untuk penggunaan teknologi dalam proses belajar mengajar.

Hal inilah yang melatari penulisan buku, yakni memberikan panduan praktis dan komprehensif dalam mengelola literasi digital di lingkungan pondok pesantren. Buku ini akan membantu pesantren mengelola literasi digital secara efektif dan berkelanjutan. Selain itu, buku ini juga dapat menjadi inspirasi bagi pesantren untuk mengembangkan program literasi digital yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing.

Salah satu yang menjadi topik bahasan dalam buku ini ialah mengenai kebijakan literasi digital di pesantren. Konsep pesantren yang tidak memperbolehkan santrinya menggunakan, atau bahkan membawa gadget, serta mengharuskan santrinya tinggal bersama dengan santri di sebuah asrama, tentunya diketahui secara umum. Namun, meski begitu, kemampuan beradaptasi dengan kemajuan teknologi harus tetap diajarkan kepada peserta didik, sebab pesantren sebagai lembaga pendidikan tidak hanya berfokus pada pengajaran agama, melainkan juga pembentukan karakter dan keterampilan hidup. Hal ini dapat dilakukan tanpa mengorbankan nilai keislaman yang menjadi fondasinya.

Pembangunan ekosistem digital guna mendukung pembelajaran adalah salah satu langkah yang dapat dilakukan pesantren. Contohnya ialah pengembangan platform e-learning khusus pesantren, sehingga santri dapat mengakses materi pembelajaran, mengumpulkan tugas, serta berinteraksi dengan pengajar secara onliine. Pesantren juga bisa memanfaatkan media sosial untuk membangun komunitas belaajr yang lebih luas, khususnya dengan pihak eksternal. Oleh karenanya, santri tak hanya belajar dalam ruangan, tetapi juga terhubung dengan dunia luar dan mengembangkan jaringan yang bermanfaat.

Selanjutnya, Aep Saepurohman juga memberikan contoh terkait penerapan kebijakan untuk stakeholder di pesantren mengenai penggunaan gadget, internet, dan aplikasinya. Misalnya dalam penggunaan gadget, untuk santri hanya diperbolehkan di waktu tertentu dan atas izin ustaz/ustazah. Sementara untuk ustaz atau ustazah, penggunaan gadget difokuskan untuk keperlan mengajar dan dilarang menggunakan gadget untuk keperluan pribadi saat mengajar.

Agar literasi digital menjadi berkelanjutan dalam pesantren, maka Aep Saepurohman juga membahas mengenai penyusunan visi misi dalam bukunya ini. Visi dan misi menjadi suatu perihal penting, karena ia memberikan arah dan tujuan yang jelas dalam mengelola program-program literasi digital. Tanpa adanya visi dan misi, upaya pengembangan literasi digital akan menjadi tidak terarah, bahkan kurang efektif. Terdapat tiga langkah yang dipaparkan Aep Saepurohman dalam penyusunan visi misi, yaitu pembentukan tim penyusun dari santri hingga ahli teknologi juga orang tua, analisis kebutuhan dan tantangan, dan yang terakhir adalah studi banding.

Teknologi digital yang terus berkembang membawa banyak perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, tak terkecuali dalam lingkup pondok pesantren. Pada akhirnya, kita bisa menyimpulkan, bahwa pemahaman mengenai teknologi informasi menjadi sangat penting dan merupakan kebutuhan yang tidak bisa diabaikan dalam era digital. Melalui pendekatan yang berstruktur, pesantren diharapkan dapat menciptakan ekosistem digital yang kondusif untuk santrinya, sehingga para santri dapat memanfaatkan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab dalam kesehariannya.

SHARE THIS :
BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *