Representasi Perempuan Mataram
Pada konteks masa Mataram Islam, perempuan berada dalam bayang-bayang laki-laki yang mendominasi historiografi tradisional. Namun, dalam sejarah, perempuan tidak hanya hadir sebagai figur pendamping, tetapi juga sebagai subjek yang berjuang dalam sistem sosial yang patriarki.
Patriarki adalah topik bahasan yang tak pernah lekang oleh zaman. Meski kemajuan teknologi telah sedemikian rupa, pemikiran patriarki terus-menerus ada bahkan diwariskan turun-temurun oleh masyarakatnya itu sendiri. Patriarki sudah begitu mengakar, bahkan ketika perempuan itu sendiri—yang kebanyakan dirugikan oleh patriarki sejak dahulu kala—mewajarkan, menormalisasikan, dan mewariskan patriarki kepada anak-anaknya.
Patriarki menjadi warisan paradigma yang sulit dielakkan, bahkan hingga hari ini, khususnya untuk masyarakat Jawa. Perempuan Jawa dipandang sebagai sosok pasif, tunduk pada sistem patriarki, dan tidak memiliki peran di ranah publik. Hal ini semakin parah dengan didukung minimnya historiografi yang merekam jejak-jejak perjuangan dan kontribusi perempuan. Hal ini perlu diluruskan dan bahkan dikaji ulang, sebab banyak bukti yang merekam peran penting para perempuan, baik dalam aspek politik, sosial, dan ekonomi.
Sri Lestari, dkk., dalam bukunya Historiografi Perempuan Mataram—terbitan Selat Media, 2025—memiliki temuan menarik tentang relasi tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan di era Mataram Islam. Sebuah temuan tentang berjubelnya peran perempuan dalam percaturan kuasa era Mataram Islam. Buku Historiografi Perempuan Mataram mengajak pembaca untuk meluruskan stigma yang melekat pada perempuan Jawa dengan mengulik representasi perempuan-perempuan Jawa dalam tujuh novel berlatar Kerajaan Mataram Islam.
Melalui buku ini, pembaca akan melihat bagaimana perempuan tak hanya menjadi subjek pasif dalam struktur sosial yang patriarkal, tetapi juga sebagai individu yang aktif dalam berbagai bentuk perjuangan. Novel-novel yang digunakan dalam buku ini ialah Rara Mendut karya Y.B. Mangunwijaya, Genduk Duku karya Y.B. Mangunwijaya, Lusi Lindri karya Y.B. Mangunwijaya, Rara Mendut karya Ajip Rosyidi, Amangkurat Agung karya Wahyu HR, Gadis-Gadis Amangkurat karya R.H. Widada, dan Rembulan Ungu karya Bondan Nusantara.
Perempuan pada era Mataram Islam dibagi menjadi dua berdasarkan representasinya dalam novel sejarah, yakni pertama, perempuan yang tersubordinasi oleh sistem patriarki dan pasrah atas keadaannya. Kategori kedua ialah perempuan dengan keberanian serta teguh pendirian. Meski buku ini merunut jejak-jejak perempuan Mataram melalui karya sastra yang imajinatif oleh para penulisnya, pembaca tetap bisa melihat representasi perjuangan perempuan sebagai bentuk sintesis antara sejarah dan imajinasi penulis.
Selain itu, novel-novel yang digunakan dalam buku ini ditulis oleh pengarang yang memiliki pengaruh besar dalam dunia sastra Indonesia. Mereka juga dikenal memiliki wawasan mendalam mengenai sejarah dan budaya Indonesia, khususnya ketika membicarakan perempuan dalam konteks sejarah Kerajaan Mataram Islam. Oleh karena itu, pembaca dapat memiliki gambaran mengenai tokoh perempuan dalam konteks sejarah Mataram, kondisi masyarakat saat itu, hingga gambaran akan perjuangan perempuan yang menjadi integral dari sejarah kerajaan tersebut.
Buku ini membahas secara detail perjuangan perempuan melalui dua sudut pandang, yaitu hegemoni patriarki dan interseksionalitas. Patriarki dianggap sebagai sebuah hegemoni, karena suatu kaum yaitu kaum dengan gender pria, menghegemoni kaum lain, yaitu kaum dengan gender perempuan. Dalam sudut pandang interseksionalitas, akan melihat bagaimana posisi perempuan dalam sistem patriarki, bagaimana identitas menambah identitas atau memberi keistimewaan kepada mereka. Interseksionalitas juga menilai laki-laki, bahwa dengan identitasnya, ia mendapat lebih banyak keistimewaan daripada perempuan.
Buku ini mengulik jejak perjuangan perempuan melalui representasinya dalam novel sejarah dari beberapa sisi, yaitu sudut pandang hegemoni patriarki dan interseksionalitas. Hal ini membuat bahasan di dalam buku ini sangat menarik dan akan memanjakan pembaca dengan bahasan-bahasannya. Para penulis tak hanya memaparkan bagaimana perempuan melawan patriarki yang menjajahnya, tetapi juga memberikan kenyataan bahwa juga ada perempuan yang tak berdaya atas sistem patriarki tersebut.



