Selat Media—Jika membicarakan sastra, mungkin benak kita akan membayangkan dunia penuh diksi-diksi yang sarat akan makna. Diksi-diksi itu tersusun indah, dan saking indahnya memungkinkan seseorang menggerakan hatinya untuk melakukan sesuatu. Namun, kadang kala sastra tidak perlu spektakuler seperti itu. Sebab siapa pun dapat menulis, dan siapa pun dapat memijakkan dirinya pada dunia sastra. Melalui sastra, seseorang dapat mengenali dirinya lebih jauh, dan kita tidak perlu menjadi Chairil Anwar untuk bisa melakukannya.
Di dalam dunia sastra, berkembang suatu teori yang disebut sebagai ekspresivisme. Karya sastra dipandang sebagai sebuah ekspresi dari dunia batin pengarang. Oleh karenanya, sastra secara keseluruhan dipandang sebagai salah satu bentuk ekspresi manusia yang memiliki peran penting dalam merefleksikan kondisi sosial, budaya, dan psikologis masyarakat. Selain itu, teori ekspresivisme menekankan kepada bagaimana penullis mengungkapkan pengalaman subjektifnya ke dalam karyanya.
Seperti halnya yang dilakukan Yasmine Azzahra dalam buku kumpulan cerpennya, Satu Meja yang Sama. Secara keseluruhan tema, cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini terasa sangat akrab di keseharian kita, terutama bagi pembaca generasi muda. Permasalahan dan gejolak batin yang dialami para tokohnya, bukanlah merupakan konflik yang mengundang alur cerita yang membuat kepala bekerja keras. Ia mengajak para pembaca menelusuri mimpi dan khayal para tokohnya dengan gaya bahasa yang sederhana.
Dalam cerpen pertama “Di Tengah Lampu Merah”, kita disuguhkan bagaimana gigihnya Mudrik dalam memperjuangkan mimpinya. Mimpi Mudrik sebagai penari lengger, perlahan ia lupakan karena ketidaksetujuan keluarganya dikarenakan jenis kelamin lelakinya. Namun, Mudrik akhirnya meninggalkan kampungnya, pergi ke ibu kota, mempertaruhkan mimpinya. Ia menari dengan bebas di jalanan, memerdekakan diri dan mimpinya.
Di “Satu Meja yang Sama”, tokoh Siti ialah kembang desa sekaligus anak dari tukang kebun yang bekerja di sebuah hotel di kota. Bergantian dengan ibunya, Siti bertugas pergi ke kota setiap bapaknya gajian, untuk memenuhi kebutuhan di rumah. Di sisi lain, ia merasa sedih melihat bagaimana pabrik gula di sekitar rumahnya satu per satu ditutup, menyisakan para petani tebu yang kehilangan mata pencahariannya. Perasaan itu mengantarkannya pada perjuangan untuk keluarganya, desanya, dan khususnya, untuk dirinya sendiri.
Senada dengan tema itu, cerpen berjudul “Epilog Tiga Tokoh” juga memperlihatkan kegigihan tokoh Aku dalam hidupnya. Ia berjuang menghidupi dirinya dan sang adik, Ayu, selepas kedua orang tuanya meninggal. Tokoh Aku memilih memutus pendidikan dan mencari pekerjaan apa pun itu bentuknya, agar keduanya dapat bertahan hidup.
Atau, pada cerpen “Aku yang Tak Paham”, yang menceritakan perbedaan pendapat dalam sebuah kelas. Saat itu, sekolah tokoh Aku akan mengadakan bazar, dan kelasnya tengah berdiskusi mengenai konsep bazar kelasnya. Namun, semua siswa memiliki ide, yang mana membuat bank ide meluap dengan gaya penyampaiannya yang masing-masing berbeda. Di sini, tokoh aku belajar bagaimana mengelaborasikan semua ide yang meluap, sehingga tidak ada satu pun temannya yang merasa terabaikan.
Dalam konteks penelitian sastra, memahami bagaimana penulis menyampaikan pesan melalui karyanya menjadi sangat penting. Hal ini menunjukkan bagaimana Yasmine Azzahra mengintegrasikan pengalaman dan pengamatan pribadinya terhadap hubungan antarmanusia, menjadi sebuah karya sastra yang menghibur pembaca sekaligus relevan dengan realitas kehidupan. Perjalanan kegigihan para tokoh, baik dalam memperjuangkan mimpinya juga belajar bertumbuh, mengajak para pembaca untuk memaknai perjuangan yang telah dilakukan, sekecil apa pun, dengan lebih baik.
Juga seperti di cerpen “Saling Mewarnai”, kita bisa melihat bagaimana penulis memaknai sebuah hubungan antarmanusia. Cerpen ini menceritakan mengenai tokoh Aku yang tinggal di panti asuhan. Meski sering bertengkar dengan teman-temannya, saat mereka diadopsi, tokoh Aku juga merasakan kesepian. Namun, setelah waktu berlalu, tokoh Aku bertemu kembali dengan temannya di panti asuhan melalui acara volunteer di Bantargebang, Ryoka yang akrab dipanggil Oka. Melalui interaksinya dengan Oka, tumbuhlah perasaan cinta di antara keduanya.
Melalui cerpen ini, kita bisa melihat bagaimana penulis mengekspresikan pengalaman di usia mudanya. Romantisisme dalam cerpen ini tak diceritakan dengan berlebihan dan sesuai latar belakang penulisnya, tetapi lewat pertemuan-pertemuan dan proyek komunitas yang bekerja atas dasar kemanusiaan untuk anak-anak yang tidak mampu secara ekonomi. Interaksi keduanya, yang sebenarnya telah dimulai sejak kecil, pada akhirnya mengantarkan keduanya ke dalam sebuah hubungan yang manis. Mungkin, istilah friends to lover adalah hal yang ingin diungkapkan penulis dalam cerpen ini.
Selain itu, dari buku kumpulan cerpen ini kita bisa melihat pula bagaimana penulis memandang lingkungannya. Contohnya dalam cerpen “Di Tengah Lampu Merah”, semua pembaca pasti tahu fenomena yang lazim ini, di mana seorang waria berdandan dan mengamen di perempatan yang menggunakan lampu lalu lintas. Alih-alih melihatnya dalam sudut pandang negatif, penulis membingkai fenomena ini dalam karyanya sebagai seseorang yang berusaha mempertahankan mimpinya dengan gigih.
Begitu pula dalam cerpen “Tuhan Itu Baik”. Cerpen ini menceritakan bagaimana Bilal, seorang anak yang sering kali di-bully karena fisiknya, tetapi lebih dari itu, ia adalah pekerja keras dengan menolong orang tuanya dengan berjualan, juga cakap dalam perihal akademik. Lantas ia bertemu Ali, temannya yang membelanya dari ejekan teman lain dan menghiburnya. Namun, karena Ali pindah sekolah lagi, sepi yang dirasakan Bilal kembali.
Perihal people come and go, tentunya ini adalah fakta yang dihadapi semua orang, baik anak-anak, remaja, sampai orang dewasa. Oleh karenanya, alih-alih membuat tokoh Bilal bergantung sepenuhnya pada Ali, penulis membuatnya belajar bagaimana mensyukuri nikmat Tuhan. Pertemuan Bilal dengan Ali adalah nikmat yang harus disyukuri, karena Bilal bertemu sosok yang hangat dan baik seperti Ali. Kita juga tak perlu bersedih dengan kondisi fisik kita, karena tugas kita di dunia adalah berusaha untuk menjadi lebih baik dan beribadah kepada Tuhan.
Pada akhirnya, melalui karya ini, Yasmine Azzahra tak hanya membagikan bagaimana pengalaman subjektifnya, tetapi juga turut mengekspresikan gejolak batin dari apa yang terjadi di sekelilingnya, menjadi sisi yang lebih inspiratif. Persis seperti fungsi karya sastra, menghibur sekaligus memberi sarana edukasi kepada penikmatnya. Dulce et utile.



