Seni Berkomunikasi di Sekolah

Seni Berkomunikasi di Sekolah

Di media sosial atau pemberitaan pada kurun waktu terakhir, tak jarang terdengar kasus guru yang merasa tak senang dengan perkataan muridnya, dan melakukan kekerasan fisik maupun verbal. Atau ada pula, murid yang merasa takut, kecewa, sedih, bahkan merasakan trauma dikarenakan perkataan guru yang sangat membekas di hatinya, karena menyakiti hatinya. Kedua kasus ini memiliki pola yang sama, yakni berakar pada komunikasi yang tidak baik.

Buku Tindak Direktif dalam Komunikasi yang ditulis oleh Sumarti, membahas fungsi komunikasi tindak tutur direktif guru, serta strategi atau realisasinya. Hasil temuan dari strategi tindak tutur direktif guru yang menghasilkan respons warna afektif atau emosi positif dari siswa, akan diimplementasikan dalam pembelajaran sinektik. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan kebermaknaan secara praktis temuan bagi pembelajaran sekolah.

Sumarti melakukan kajiannya di dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP, yang menyasar tiga kelas, atau tiga tingkat. Tindak tutur direktif guru dalam pembelajaran pada penelitian ini ialah tuturan menyuruh, meminta, melarang, menyarankan, menanya, dan mengajak. Keenam fungsi komunikasi tindak tutur direktif guru ini direalisasikan secara langsung dan tidak langsung.

Salah satu tindak tutur direktif dalam buku ini ialah yang pertama, pada tuturan menyuruh, Sumarti menyuguhkan lima data. Salah satu data yang disuguhkan Sumarti ialah ketika guru hendak memberi penjelasan awal mengenai praktik pengukuran KEM. Siswa yang antusias, menjadi sibuk mempersiapkan diri dan membuat kondisi kelas berisik dan tidak kondusif.

Guru akhirnya berupaya menenangkan dengan bertutur imperatif. “Dengarkan dulu penjelasan Ibu!” ucap guru tersebut dengan intonasi yang tinggi, dan penekanan pada kata “dulu”. Setelah mendengar tuturan ini, para siswa menjadi kaget, seketika terdiam, dan fokus memperhatikan penjelasan dari sang guru.

Pada tuturan menyuruh ini, disampaikan kepada siswa secara langsung, dengan maksud menyuruh atau memerintah. Hal ini dilakukan guru karena hubungan guru dan siswa secara vertikal, sehingga tuturan disampaikan secara lugas, dengan tujuan agar komunikatif menjadi efektif.

Tindak tutur lainnya dalam buku ini ialah tuturan melarang. Sumarti menyajikan lima data dalam tuturan ini. Salah satu datanya ialah, ketika guru melihat ada siswa yang sibuk mengobrol dengan teman sebangkunya, saat guru tengah menjelaskan. Guru mengucapkan, “Eh … nggak usah ngobrol, lihat sini!” Ucapan ini disampaikan dengan nada tinggi, juga mengawali dengan kata seru “eh ….”, mampu mendiamkan siswa yang mengobrol. Kedua siswa yang ditegur langsung diam, tersenyum, dan berupaya menatap ke depan.

Buku ini merangkum kajian yang dilakukan Sumarti pada tiga kelas di pembelajaran Bahasa Indonesia. Sumarti menyajikan data tuturan yang digunakan guru, yang dikategorikan menjadi enam tuturan tadi, yakni menyuruh, meminta, melarang, menyarankan, menanya, dan mengajak. Selanjutnya, di bab kedua, Sumarti juga mengkategorikan tuturannya berdasarkan penyampaiannya, secara langsung atau secara tidak langsung.

Melalui penyajian data pada buku ini, pembaca akan menemukan, atau menyadari bagaimana tuturan yang memberikan respons afektif positif dari siswa. Pengidentifikasian tuturan yang tak memberikan respons negatif, akan membantu pembaca, khususnya jika pembaca adalah pendidik, untuk berkomunikasi dengan lebih baik dengan muridnya.

Berkomunikasi dengan cara yang lebih baik kepada peserta didik, akan membuat pembelajaran terlaksana dengan efektif dan kondusif. Suasana pembelajaran juga menyenangkan, karena peserta didik akan merasa dihargai keberadaan, perasaan, dan kemampuannya. Jika memang guru menegur peserta didik karena kesalahan peserta didik, tetapi jika teguran disampaikan dengan baik, maka peserta didik akan menyadari kesalahannya, tanpa perlu merasa malu dan rendah diri.

Tindak Direktif dalam Komunikasi

BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *