Sensasi di Balik Dakwah Masa Kini
Akhir tahun 2024 lalu, masyarakat Indonesia mengecam penuh tindakan Miftah Maulana Habiburrahman—kerap dipanggil Gus Miftah—yang menghina pedagang es teh keliling saat ia tengah berdakwah. Momen ini tersebar dalam video pendek sejak 3 Desember 2024 lalu,di ambil kala Miftah mengisi ceramah di salah satu pesantren yang berada di Magelang, Jawa Tengah.
Miftah menegur pedagang es teh keliling dengan intonasi angkuh dalam video tersebut. Ia berkata dalam bahasa Jawa, “Es tehmu seh akeh ra? Masih? Yo kono didol, goblok. Dolen disek, engko lak durung payu, wes, takdir.” (Es tehmu masih banyak, nggak? Masih? Ya dijual dulu, bodoh. Jual dulu, kalau nanti belum laku, sudah, takdir).
Kasus ini membuat netizen ramai-ramai mengkritik, menaikkan tagar untuk mencopot jabatan Miftah sebagai Utusan Khusus Presiden, hingga mengomentari budaya Gus-Gusan yang identik dengan organisasi masyarakat Islam Nahdlatul Ulama. Aisyah Amira Wakang dalam artikel “Gus”: Dulu Panggilan Orang yang Belum Layak Jadi Panutan, Kini Malah Jadi Status Gagah-gagahan, ikut mengomentari perubahan panggilan “Gus” yang sekarang malah seperti kebanggaan.
Gus Kautsar—Pengasuh Pesantren Al-Falah Plosos, Jawa Timur—dalam artikel tersebut, menyebut bahwa beliau pernah mengingatkan, orang dengan panggilan “Gus” tak boleh bangga. Gelar ini disematkan masyarakat kepada anak ulama yang memiliki karya untuk masyarakat, sehingga gelar ini bukanlah gelar kehormatan karena kehebatannya. Gelar tersebut hanyalah panggilan untuk menghargai jasa sang orang tua.
Anwar Kurniawan juga menuliskan opininya terkait gaya berdakwah Miftah, pasca kejadian tersebut. Ia menuliskannya dalam artikel Alasan Ceramah Miftah Maulana Lucu Bagi Orang yang Duduk di Belakangnya, tapi Pahit Bagi Seluruh Warga Dunia. Miftah menunjukkan dominasinya melalui dakwah yang dilakukannya. Ia memanfaatkan posisinya untuk memperkuat kontrol simbolik atas audiens. Hal ini didasari karena panggung keagamaan, adalah ruang di mana “modal simbolik” berperan penting.
Namun, humor yang digunakan Miftah dalam dakwahnya malah menimbulkan rasa getir, alih-alih menghibur. Humor religius seharusnya mencerminkan nilai-nilai agama itu sendiri. Islam dengan nilai-nilai luhur seperti penghormatan, kasih sayang, dan keberpihakan terhadap mustadh’afin, sama sekali tidak tercerminkan dalam humor yang dilontarkan Miftah dalam dakwahnya.
Rosidi dalam buku Metode Dakwah Masyarakat Multikultural, mendefinisikan dakwah sebagai ajakan, seruan, dorongan, dan juga pemberian motivasi kepada orang lain untuk mau mengenal, memahami dan mengikuti ajaran agama Islam yang telah diturunkan oleh Nabi Muhammad saw., agar menerima ketenangan, keselamatan, dan kebahagiaan dunia-akhirat.
Tujuan dakwah dalam buku ini, dibedakan menjadi dua, yakni tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dakwah adalah mengajak umat manusia yang di dalamya sudah ada orang yang beriman, tetapi menyembah dan percaya kepada Tuhan selain Allah (musyrik), atau orang yang ingkar dari jalan kebenaran yang datang dari Allah (kafir), untuk diajak kembali ke jalan kebenaran yang diridai Allah. Sementara tujuan khusus dari dakwah ialah mengikuti kebutuhan masyarakat yang menjadi sasaran dakwah.
Tujuan dakwah menurut pihak lain yang dipaparkan dalam buku ini, salah satunya ialah Jumu’ah Abdul Aziz. Tujuan dakwah menurut Jumu’ah Abdul Aziz ada lima, yaitu untuk memelihara agama, jiwa, akal pikiran, keturunan, dan harta benda. Sederhananya, kita dapat menyimpulkan bahwa tujuan dakwah ialah terbentuknya pribadi-pribadi yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, menjalani perintah Allah dan rasul-Nya, serta menjauhi semua larangan-Nya dengan kesadaran, keikhlasan, dan tanpa paksaan.
Membicarakan dakwah, Rosidi membahas lebih lanjut mengenai metode dakwah dengan tujuan memberikan kemudahan dan keserasian bagi pembawa dakwah maupun penerimanya. Dikarenakan metode dakwah ini disesuaikan oleh lingkungan sasaran dakwah, termasuk karakter serta kemampuan berpikir penerima dakwah, maka metode dakwah ini menjadi banyak dan beragam.
Metode dakwah menjadi bagian yang penting. Hal ini dikarenakan, dengan cara penyajian yang baik, orang akan mudah tertarik mengikuti ajakan dari seseorang juru dakwah dengan suka rela, bahkan merasa puas dengan sajian yang diberikan pendakwah tersebut. di dalam bahasa Arab, terdapat ungkapan yang berbunyi “AT-Thariqah ahammu min al-Maddah,”, yang memiliki arti cara itu lebih penting daripada materi.
Rosidi mengutip gambaran Yunan Yusuf, seorang guru besar dan Kaprodi Studi Dakwah dan Komunikasi Pascasarjana, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Secangkir teh pahit dan sepotong singkong goreng yang disajikan dengan ramah dan senyum, akan lebih nikmat rasanya dibandingkan seporsi makanan lezat nan mahal harganya, tetapi disajikan dengan tidak sopan dan menyinggung perasaan penerimanya.
Selain membahas hal dasar dalam berdakwah, Rosidi juga membahas mengenai masyarakat multikultural di Indonesia. Rosidi menyebutkan bahwa akar dari multikulturalisme di Indonesia dimulai sejak tumbangnya Orde Baru, kemudian diikuti dengan masa reformasi, yang membuat kebudayaan Indonesia cenderung mengalami disintegrasi. Hal ini bersumber dari euforia kebebeasan yang baru diterima setelah 32 tahun Soeharto berkuasa secara totaliter. Di bagian ini, Rosidi juga menjelaskan sejarah dakwah multikulturalisme di Indonesia.
Ia juga menyebutkan beberapa pendekatan dakwah kepada masyarakat multikultural, seperti pendekatan budaya dan bahasa, pendekatan pendidikan, serta pendekatan psikologis. Berdakwah kepada masyarakat multikultural juga memiliki etikanya. Etika bermaksud membantu manusia untuk bertindak bebas, tetapi bertanggung jawab, karena setiap tindakan selalu lahir dari keputusan pribadi. Rosidi juga menjelaskan etika dakwah dari Al-Quran, sebagai sumber hukum Islam dan sumber materi dalam berdakwah.
Lebih jelasnya, Rosidi membedakan metode dakwah berdasarkan penerima dakwahnya, mulai dari metode dakwah ceramah, tanya jawab, masyarakat desa, masyarakat kota, hingga metode dakwah bagi lansia. Rosidi juga memberikan pendekatan dan metode dakwah dari Walisongo dan Abdurrahman Wahid atau Gusdur. Walisongo dikenal sebagai pendakwah yang pintar memanfaatkan budaya, kepada masyarakat Indonesia yang saat itu masih berhubungan erat dengan budaya, tradisi, dan adat istiadat.
Sementara Abdurrahman Wahid, atau Gusdur, memiliki gerakan dakwah yang terperinci, seperti membela minoritas, membangun masyarakat sipil, gerakan kultural, hingga melakukan dialog dan kerja sama antarumat beragama. Pemikiran Gusdur yang mem-pribumisasi-kan Islam juga dibahas dalam buku ini. Gusdur dalam dakwahnya, mengikis pemikiran egoisme dalam kehidupan multikultur, untuk dapat menghargai perbedaan dan keragaman, membangun modernitas tanpa merusak tradisi, hingga mencapai Islam dan keadilan sosial.
Oleh karenanya, ketika kita kembali membahas kasus olok-olokan Miftah yang dilontarkan kepada penjual es teh keliling, apa yang sebenarnya diniatkan olehnya? Jika ingin mendakwahkan terkait kerja keras yang dilakukan penjual es teh itu, apakah kata “goblok” juga patut disisipkan? Atau, itu hanyalah humor belaka? Namun, jika humor belaka, sebagai anggota masyarakat yang dikenal oleh masyarakat luas, apakah humor seperti itu patut dikeluarkan olehnya?
Demikian halnya dalam berdakwah, materi dakwah kita adalah Islam, yang merupakan produk Tuhan, yang tentu saja pasti baik dan berkualitas. Namun demikian, jika kita tidak pandai untuk menyampaikan ke masyarakat dengan cara-cara yang baik, maka Islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta (Rakhmatan lil a’lamin), dan baik untuk semua zaman (shalihun likulli zaman wa makanin) itu akan tidak diminati oleh masyarakat. Ia hanya akan menjadi konsep yang indah, yang melangit dan tidak pernah membumi. — Rosidi, dalam buku Metode Dakwah Masyarakat Multikultural



