(Tak Hanya) Sebatas Cerita Cinta Remaja

(Tak Hanya) Sebatas Cerita Cinta Remaja

Remaja adalah usia muda, di mana seringkali kita disarankan untuk menikmati hidup dan bersenang-senang di usia ini. Menurut WHO, usia remaja dikisarkan pada usia 10 hingga 19 tahun. Banyak persepsi mengenai usia remaja, salah satunya adalah anggapan yang menyatakan bahwa masa remaja adalah masa mencari jati diri.

Ozzy Hafiz menyatakan bahwa usia remaja dapat menjadi fase yang mengerikan dalam hidup. Pada opininya yang berjudul Cinta Monyet Remaja Itu Bukan Sesuatu yang Patut Disesali. Kamu Beruntung Bila Mengalami, remaja akan memiliki rasa penasaran yang tinggi, ketertarikan dengan orang lain, hingga rasa ingin memperhatikan dan mendapatkan perhatian dari orang lain pula.

Membicarakan ketertarikan dengan orang lain, sebagian orang kadang meremehkan perasaan yang muncul ini pada remaja. Istilah “cinta monyet”, juga sering disematkan kepada para remaja yang tengah mengenal cinta atau perasaan suka kepada lawan jenis. Ozzy Hafiz menulis bahwa seringkali orang dewasa menganggap remaja ada di bawah mereka, dan belum layak untuk membicarakan bahkan merasakan terkait cinta.

Hal itulah yang membuat penghakiman terhadap perasaan remaja dinormalisasikan. Imam dalam artikel berjudul Mengenal Cinta Sementara pada Psikologi Remaja, menyatakan bahwa perasaan cinta yang dialami seseorang ketika masa remaja seringkali disebut cinta sementara, atau cinta remaja. Dikatakan sementara, karena perkembangan remaja yang masih dinamis, dan perubahan kepentingan juga prioritas yang berubah seiring berjalannya waktu.

Irfan Nugraha memotret fenomena ini dalam novelnya yang berjudul Jiwa Hana. Melalui tokoh utamanya yaitu Ikhsan, penulis menggambarkan bagaimana perasaan cinta yang dimiliki oleh Ikhsan terhadap Hana. Meski Ikhsan baru saja menginjakkan kaki di kelas 11 SMA, penulis menggambarkan ketulusan dan kedalaman perasaan Ikhsan kepada Hana tanpa keinginan untuk memiliki, atau berpacaran dengan Hana.

Jiwa Hana menceritakan mengenai Ikhsan, laki-laki yang baru saja memasuki tahun keduanya di SMA. Di hari pendaftaran siswa baru, Ikhsan bertemu dengan Hana, yang baru saja akan mendaftar ke sekolah Ikhsan. Pada saat itu pula, Ikhsan menyukai Hana pada pandangan yang pertama. Sejak saat itu, Ikhsan selalu mengamati Hana dalam diam, mengunjungi kelas Hana tanpa mendekat lebih, dan mengagumi setiap senyum yang Hana ciptakan.

Interaksi keduanya hanya sebatas lirikan mata, dan SMS di tengah malam ketika Hana sedang berada di rumahnya dan bisa memegang ponsel. Keduanya bertukar pesan hingga subuh, saling menyatakan perasaan, hingga kesediaan Hana untuk menunggu pinangan dari Ikhsan, bukan hanya sekadar ajakan berpacaran. Konflik semakin memanas kala ada siswa lain yang melecehkan Hana. Amarah dalam diri Ikhsan tak bisa dibendung, lantas ia terlibat perkelahian yang brutal dengan siswa tersebut.

Perkelahian berakhir dengan kondisi siswa tersebut koma, tetapi dikarenakan kasus sudah naik ke kepolisian, maka Ikhsan memilih untuk mengundurkan diri dari sekolah secara terhormat. Ia pindah ke lain sekolah, dan di sanalah ia membentuk geng baru yang bernama HAFAC (Hana Fans Club). Geng ini tak melulu menyeret Ikhsan pada perkelahian semata, tetapi mereka juga sering berkumpul di tengah hutan untuk membaca bersama.

Penulis tak semata memberi pembaca happy ending, tetapi dengan kegigihan Ikhsan yang terus mengusahakan Hana dalam tiap ikhtiarnya, pembaca akan menyadari penulis memberi ending yang baru dan tak terduga. Adhy Pramudya, memberi pengantar dalam novel ini. Ia menyatakan bahwa Irfan selaku penulis, menggambarkan kedalaman perasaan Ikhsan kepada Hana melalui sudut pandang sufisme. Pembaca akan banyak diajak merenung dan memikirkan lebih jauh mengenai kehidupan, melalui sosok Ikhsan dalam novel ini.

Hal inilah yang kiranya menjadi daya tarik dari novel Jiwa Hana. Tak hanya melulu membicarakan perasaan cinta seorang remaja kepada lawan jenisnya, tetapi pembaca akan diajak melihat perasaan itu lebih dalam. Novel ini diisi dengan lebih banyak narasi dibandingkan dialog, sehingga membuat pembaca akan diajak merenungkan lebih dalam terkait perasaan Ikhsan, konflik yang dialami antartokoh, dan lain sebagainya.

Sementara mendalami sang tokoh utama yakni Ikhsan, ia adalah laki-laki yang gemar menuangkan perasaannya dalam sebait puisi. Saat menyukai Hana, Ikhsan tak langsung mendekatinya dan mengajaknya berpacaran. Ia memilih menjaga Hana dari jangkauan pandangnya, dan meluapkan perasaannya melalui bait-bait puisi yang ia ciptakan khusus untuk Hana. Diksi yang dipakai Ikhsan pun sangat puitis. Ia bermain kata, dan mencurahkan perasaannya dalam-dalam pada tiap puisi yang ia ciptakan.

// membayangkan /menyusuri hutan ini bersamamu, Han / seperti janji pagi / kepada embun yang bening / ada yang tak harus diucapkan / dari kisah yang diranggaskan sunyi

atau kita memilih jalan keramaian / suara gendhing lokananta / di antara hening rerumputan, / yang berkhalwat di hutan itu // (Kepada Hana)

Membaca puisi di atas, pembaca akan memahami bagaimana sosok Ikhsan lebih jauh. Tak seperti remaja seumurannya, ia lebih memilih menjaga Hana dalam diam, mengagumi gadis tersebut, tanpa ada keinginan untuk memiliki, bahkan sekadar memacari. Ikhsan lebih memilih untuk menuangkan segala hasrat dan inginnya pada secarik kertas dan pena, lalu meleburkan perasaannya di dalam puisi yang ia ciptakan.

Membaca novel Jiwa Hana, akan memberikan pengalaman menarik menikmati novel dengan suguhan banyaknya puisi di dalamnya. Karena melalui puisi, Ikhsan menyatakan perasaan dan cinta terdalamnya kepada Hana. Melalui puisi-puisi yang diciptakan Ikhsan, pembaca akan memahami, bahwa cinta remaja tak hanya sebatas cinta monyet atau sementara, melainkan bisa menjadi sesuatu yang kekal dan sulit terlupakan.

Jiwa Hana

BLOG

Related Articles

COMMENT

Post a Comments

A lectus ac pulvinar tincidunt accumsan. Ullamcorper dolor at lectus ac, sed facilisis hac. Molestie aliquam ut blandit nibh vulputate lectus in sit. Egestas in dolor dui purus tincidunt eget cras nisl est aliquam ut blandit nibh vulputate lectus ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *