(Puisi) Mengedar Pandangan pada Sekitar
Puisi, adalah salah satu dari jenis karya sastra yang ada. Tussadah., dkk, menyebutkan dalam artikel ilmiahnya, bahwa puisi pada dasarnya ialah ekspresi dari sebuah emosional jiwa. Tercipta dari imajinasi, puisi disebutkan masuk dalam kategori sastra yang paling unik dalam artikel ilmiah ini. Tak hanya itu, puisi juga memuat pengalaman terdalam dari penyairnya, yang dianalogikan ke dalam bahasa yang indah.
Senada dengan hal ini, Putri., dkk, dalam artikel ilmiahnya juga menyebutkan bahwa pengalaman yang dicurahkan termasuk ke dalam fiksi di dalam karya sastra, yang disampaikan pada suatu tulisan dengan bahasa yang menarik dan tidak baku. Namun, puisi adalah karya yang mengandung makna tersirat. Oleh karenanya, puisi dapat memotivasi pecinta tulisan, terutama bagi pembaca yang tertarik mengetahu makna tersirat dari sebuah puisi.
Hal inilah yang dilakukan Hernando dalam puisi-puisinya yang terangkum dalam antologi puisi Kabel Kusut Kota. Hernando banyak menuangkan keresahannya, serta pengalamannya dalam menuliskan puisi-puisinya. Contohnya ada dalam puisi berjudul “Di Lapak Mainan”. Di dalam puisi itu, ia menceritakan bagaimana mimpi masa kecilnya dahulu akan sebuah mainan, yang terlihat dari kutipan “Mainan yang dulu hanya bisa diimpi”. Kini, Aku sudah bisa memegang banyak mainannya, tetapi semua itu tetap tak tergapai, karena lagi-lagi, mainan itu bukanlah miliknya, melainkan barang dagangan yang harus dijual untuk menyambung hidup.
Kini, tiap pagi, aku susun mereka,
Boneka, mobil-mobilan, puzzle cerita,
Seperti mimpi yang tak pernah
terjangkau,
Untuk menafsirkan pengalaman-pengalaman hidup dalam puisi-puisi Hernando, kita bisa menggunakan pendekatan mimetik. Pendekatan ini menitikberatkan kajiannya terhadap hubungan karya sastra dengan kenyataan yang berada di luar karya sastra. Oleh karenanya, pendekatan ini memandang bahwa karya sastra merupakan imitasi dari realitas. Namun, mengutip dari Tussadah, Aristoteles menyatakan bahwa mimesis bukan sekadar tiruan, tetapi telah melalui kesadaran personal batin pengarangnya.
Dipertegas oleh Wellek dan Warren, sifat sastra, salah satunya puisi, memang menyajikan sebagian besar mengenai kehidupan, kehususnya keadaan sosial realitas. Oleh karenanya, pendekatan mimetik akan melakukan pengkajian terhadap karya sastra, berkaitan dengan fenomena hubungan karya sastra dengan realitas, atau kenyataan. Lalu, melalui pendekatan mimetik, pengarang menganalogikan perasaan melalui ungkapan dengan kata-kata tiruan yang berada di sekitarnya.
TERLELAP SUDAH
Kenapa jantung ini tak lelah ketika diri
Ini sudah,
Kenapa otakku bekerja ketika
Mataku sudah terbenam, kenapa hati
Ini terus berharap ketika tubuh ini
sudah terlelap
Aku hanya ingin sudah
2 Mei 2025
Membaca puisi yang berjudul “Terlelap Sudah” karya Hernando, kita bisa menangkap makna tersirat, bahwa sang pengarang sudah lelah. Kata “sudah”—yang diulang sebanyak empat kali di dalam puisi—diartikan oleh KBBI dengan banyak sinonim kata lain, salah satunya selesai. Sementara kata selesai, dimaknai sebagai habis, tamat, berakhir. Ketika penulis menanyakan “Kenapa jantung ini …” dan “Kenapa otakku bekerja ketika mataku sudah terbenam,”, menunjukkan bahwa batin pengarang sudah merasakan kelelahan, tetapi tubuhnya terus merasa hidup. Akhirnya, yang diharap pengarang adalah “sudah” atau “selesai”, dan berakhir.
RASA AKAR
Termangu perasaan dalam
Terkubur,
Yang jauh makin lama tercurahkan
Karna waktu terus maju hingga nanti
sampai layu
Masih terus terbangun dan kokoh
Kar’na perasaan yang terakar jauh
menjalar ke seluruh daratan
Hingga langit sampai tau
Kalau aku terus memendam rasa
Selanjutnya, puisi “Rasa Akar” menggambarkan bagaimana sosok Aku memendam perasaan kepada orang lain. Aku terlena oleh perasaannya, hingga tak sadar waktu semakin berlalu, tetapi perasaan itu semakin kuat dan kokoh. Hal ini dikarenakan perasaan itu telah menjelma menjadi “akar”. Seperti yang kita ketahui, beberapa akar tumbuh dengan menjalar di bawah permukaan tanah. Namun, walau perasaan tersebut dipendam dan dikubur, pada akhirnya akan diketahui, oleh “langit”. Di realitasnya, “langit” sering digunakan untuk menggantikan menyebut Tuhan. Oleh karenanya, puisi ini juga menyiratkan, bahwa segala perasaan, sebesar dan sedalam apapun itu, akhirnya akan tetap diketahui “langit”, atau Tuhan.
JEJAK KARPET
Pernahkah bertanya,
tentang jejak kakimu yang basah itu di
karpet?
Langkah-langkah yang tak sepenuhnya
hilang,
meski kau usap atas bawah,
tak ingin mengotori rumah,
tak ingin meninggalkan sisa perjalanan
kembali pulang.
Seolah pulang hanya tentang baik-baik
saja,
tentang menggantung mantel basah di
sudut,
tentang senyum yang kau paksa lurus,
tentang kata-kata yang tak ingin runtuh.
Tapi jejak itu tetap ada,
meski samar, meski pelan mengering,
seperti rindu yang tak pernah kau
tanyakan,
seperti luka yang tak pernah kau
sebutkan.
Aku tak benar-benar pulang
Depan Rumah 16 Februari Kulonprogo
Lalu di puisi “Jejak Karpet”, Hernando membicarakan mengenai “pulang”. Di bait pertama, ia membicarakan mengenai “jejak kaki” yang kadang tertinggal dan membekas di atas karpet, yang sering kali diusahakan untuk dihapus karena mengotori rumah, dan menunjukkan bahwa jejak itu adalah “hasil” dari perjalanan pulang ke rumah. Bisa diibaratkan bahwa jejak tersebut sebagai sebuah kegagalan, rasa sakit, kesedihan atau suka-duka yang diperoleh kala berkelana, dengan kutipan “Seolah pulang hanya tentang baik-baik saja, …” Kutipan “Tapi jejak itu tetap ada, meski samar, meski pelan mengering, …”, menunjukkan bahwa semua perasaan tadi nyatanya masih ada, meski Aku berpura-pura baik-baik saja.
Antologi puisi ini dapat dikatakan kumpulan keresahan penulis, yang dituangkan dalam bahasa yang indah dan menawan, yaitu puisi. Keresahan-keresahan ini dekat sekali dengan realitas anak usia remaja dan dewasa awal, yang sering kali menekan perasaannya untuk menjadi “baik-baik saja”. Ini menunjukkan, puisi dalam antologi ini dilahirkan dari realitas kehidupan, yang akhirnya tercermin dalam puisi-puisi dalam antologi Kabel Kusut Kota. Seperti apa yang dinyatakan Aristoteles, melalui karya ini, sastra bukan hanya sekadar menjadi tiruan dari realitas, melainkan telah melalui telaah yang dilakukan penulis dalam personal batinnya.



